Forum diskusi

diskusi

diskusi

muhisom M.Pd.I གིས-
Number of replies: 71

silahkan yang ingin bertanya dan menjawab pertanyaan rekannya

In reply to muhisom M.Pd.I

Re: diskusi

M Raihan Alfaridho གིས-
Assalamualaikum Wr.Wb.

Selamat pagi bapak dan teman-teman lainnya yang berbahagia. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur marilah kita panjatkan kepada Allah Swt. karena telah memberikan rahmat kesehatan dan keselamatan serta kesempatan.

Sebelum nya perkenalkan kami dari kelompok 12 yang beranggotakan
Muhammad Raihan Alfaridho 2013053157
Nadia Salsabila Adzkia 2013053182
Rahmah Nur’aini 2013053127

Inilah materi dan ppt kami
In reply to muhisom M.Pd.I

Re: diskusi

M Raihan Alfaridho གིས-
Tibalah kita di sesi tanya jawab, saya persilahkan untuk 6 orang penanya yang akan dipilih oleh kelompok kami. 

Bagi teman teman sekalian yang ingin bertanya saya persilahkan

Serta bagi teman teman sekalian yang ingin menambahkan jawaban dipersilahkan
In reply to M Raihan Alfaridho

Re: diskusi

Rusbiantari Ningsih 2013053153 གིས-
In reply to Rusbiantari Ningsih 2013053153

Re: diskusi

Rusbiantari Ningsih 2013053153 གིས-
Rusbiantari Ningsih
2013053153

Izin bertanya
Pada makalah terdapat beberapa strategi pendekatan kontekstual dalam penyampaian kurikulum pembelajaran berbasis karakter. Menurut kelompok 12, strategi manakah yang tepat untuk diterapkan pada peserta didik kelas rendah dan kelas tinggi dengan tetap menggunakan model pembelajaran berbasis pancasila?

Terima kasih
In reply to Rusbiantari Ningsih 2013053153

Re: diskusi

Nadia Salsabila Adzkia 2013053182 གིས-
Nadia Salsabila Adzkia
2013053182
Izin menjawab

Startegi yang tepat untuk kelas rendah yaitu Learning community. Sebab dalam stategi ini pendidik senantiasa membiasakan membangun belajar kelompok, atau dapat juga dengan berpasangan. Kemudian peserta didik dilatih dan dimantapkan pengetahuannnya untuk bekerja secara
perorangan. Komponen itu sangat penting bagi upaya terwujudnya nilai demokratis, menghargai, gotong royong, bertanggung jawab, dan selalu berorientasi pada keunggulan. Komponen-komponen tersebut termasuk dalam basis nilai-nilai pancasila yang tepat untuk diterapkan dalam strategi.

Strategi kelas tinggi yaitu authentic assessment. Sebab pada startegi ini proses pengumpulan data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik., baik oleh pendidik maupun oleh peserta didik. Bagi siswa, komponen ini membiasakan siswa untuk mengukur diri apakah sudah lebih baik atau belum, apakah sudah ada kemajuan atau belum, apakah ada hambatan dan bagaimana cara mengatasinya. Peserta didik yang sejak dini terbiasa dengang authentic assessment akan menjadi tulang unggung negara dalam membangun bangsa. Hal tersebut memiliki kaitan dengan nilai nilai pancasila yang dapat dijadikan strategi pada kelas tinggi di sekolah dasar.
In reply to Nadia Salsabila Adzkia 2013053182

Re: diskusi

Serly Setyowati 2013053081 གིས-
Serly Setyowati
2013053081

Izin menambahkan jawaban atas pertanyaan Rusbiantari.

Menurut pendapat saya, strategi yang tepat untuk diterapkan pada peserta didik SD ketika menggunakan model pembelajaran berbasis Pancasila adalah:
1. Learning Community
Karena senantiasa membiasakan karakter bekerja sama. Hal ini penting bagi upaya terwujudnya nilai demokratis, menghargai, gotong royong, bertanggung jawab, dan selalu berorientasi pada keunggulan.
2. Modelling
Pendidik adalah seseorang yang seharusnya dapat menjadi suri tauladan bagi peserta didiknya. Dengan keteladanan perilaku terpuji dari pendidiknya, maka akan melahirkan nilai-nilai yang berakhlak mulia, iman dan taqwa cinta tanah air, dan menumbuhkan jiwa kreatif.
3. Authentic assessment
Sebagai evaluasi apakah peserta didik sudah dapat mengukur dirinya sendiri ke arah yang lebih baik atau belum, ada kemajuan atau tidak, sehingga akan selalu ada usaha berbuat ke arah yang lebih baik.
In reply to Rusbiantari Ningsih 2013053153

Re: diskusi

Nadia Salsabila Adzkia 2013053182 གིས-
Nadia Salsabila Adzkia
2013053182
Izin menjawab

Startegi yang tepat untuk kelas rendah yaitu Learning community. Sebab dalam stategi ini pendidik senantiasa membiasakan membangun belajar kelompok, atau dapat juga dengan berpasangan. Kemudian peserta didik dilatih dan dimantapkan pengetahuannnya untuk bekerja secara
perorangan. Komponen itu sangat penting bagi upaya terwujudnya nilai demokratis, menghargai, gotong royong, bertanggung jawab, dan selalu berorientasi pada keunggulan. Komponen-komponen tersebut termasuk dalam basis nilai-nilai pancasila yang tepat untuk diterapkan dalam strategi.

Strategi kelas tinggi yaitu authentic assessment. Sebab pada startegi ini proses pengumpulan data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar peserta didik., baik oleh pendidik maupun oleh peserta didik. Bagi siswa, komponen ini membiasakan siswa untuk mengukur diri apakah sudah lebih baik atau belum, apakah sudah ada kemajuan atau belum, apakah ada hambatan dan bagaimana cara mengatasinya. Peserta didik yang sejak dini terbiasa dengang authentic assessment akan menjadi tulang unggung negara dalam membangun bangsa. Hal tersebut memiliki kaitan dengan nilai nilai pancasila yang dapat dijadikan strategi pada kelas tinggi di sekolah dasar.
In reply to muhisom M.Pd.I

Re: diskusi

M Raihan Alfaridho གིས-
Baiklah saya persilahkan kepada Widya, Rusbiantari, Lutfiah, Anjelly, Regita, Lia untuk menuliskan pertanyaan nya
In reply to M Raihan Alfaridho

Re: diskusi

Regita Nurliana Sukma གིས-
Regita Nurliau Sukma
2063053004

Izin bertanya,
Dalam strategi pengembangan karakter menggunakan model pembelajaran berbasis pancasila apakah terdapat kendala dalam proses pengimplementasiannya? Lalu bagaimana cara mengatasinya?

Terimakasih
In reply to Regita Nurliana Sukma

Re: diskusi

RAHMAH NUR'AINI 2013053127 གིས-
Nama : Rahmah Nur'Aini
NPM : 2013053127

Izin menjawab pertanyaan Regita,
Pendidikan karakter berbasis Pancasila sudah lama dicanangkan sebagai bagian dari proses pembelajaran dan pendidikan di Indonesia. Namun pada pelaksanaannya, pendidikan karakter ini dilakukan melalui pemberian materi pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Melalui pengelolaan pembelajaran PPKn, siswa diharapkan dapat mengkaji Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di dalam forum kelas yang dinamis dan interaktif, serta dikaitkan dengan nilai-nilai dan karakter bangsa. Nah, di sinilah muncul beberapa kendala dalam pengimplementasinya, antara lain sebagai berikut :

  1. Kompetensi guru PPKn dalam mengembangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pembentukan karakter peserta didik masih belum memadai;
  2. RPP yang disusun dan digunakan guru PPKn belum mengintegrasikan pendidikan pembentukan karakter peserta didik;
  3. Dalam pengembangan perangkat pembelajaran, guru belum mengembangkan metode belajar-mengajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan lingkungan;
  4. Masih banyak guru-guru yang mempunyai permasalahan dalam mengembangkan bahan ajar tersebut, terutama yang harus sesuai dengan Kompetensi Dasar dalam Kurikulum 2013;
  5. Pembelajaran kurang mengaitkan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat, sehingga siswa kurang mampu memecahkan masalah-masalah moral yang terjadi;
  6. Pembelajaran masih kurang terpadu, baik dengan mata pelajaran lain maupun pemilihan model dan strategi pembelajarannya;
  7. Materi pelajaran PPKn dirasakan siswa sebagai beban yang hanya menambah bahan hafalan, tidak dihayati atau dirasakan, apalagi diamalkan dalam perilaku kehidupan hari-hari; dan
  8. Karena pelajaran PPKn tidak termasuk dalam mata pelajaran yang diujikan secara nasional, cenderung ‘disepelekan’, dipandang sebagai pelajaran yang tidak terlalu penting oleh sebagian guru.
Dari kendala tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter melalui pembelajaran PPKn tidak tercapai, terutama di tingkat sekolah dasar. Siswa hanya dituntut untuk menghafal sila-sila Pancasila, simbol dan lambang negara, perangkat sistem ketatanegaraan, dan alat kelengkapan negara, tanpa proses pembelajaran yang bersifat pemahaman, pendalaman, dan pembiasaan, sebagai unsur penting dalam upaya pembentukan karakter.

Cara mengatasi dari kendala-kendala tersebut yaitu :
  1. Seorang pendidik memberi contoh dan teladan yang baik kepada peserta didik.
  2. Mendiskusikan perasaan dan suasana emosional peserta didik.
  3. Memberikan peserta didik bacaan yang bermuatan pesan moral dan nilai baik.
  4. Mendiskusikan pesan moral dalam bacaan peserta didik.
  5. Melibatkan peserta didik dalam perbuatan dengan nilai-nilai baik.
  6. Mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam suatu kejadian untuk mengasah kemampuannya memahami berbagai karakter.

In reply to M Raihan Alfaridho

Re: diskusi

Anjelly Triane Chaterina གིས-
Anjelly Triane Chaterina
2063053003

Izin bertanya,
Bagaimana langkah langkah dalam menerapkan proses pembelajaran karakter berbasis pancasila kepada peserta didik SD?

Terima Kasih
In reply to Anjelly Triane Chaterina

Re: diskusi

M Raihan Alfaridho གིས-
Muhammad Raihan Alfaridho
2013053157
Izin menjawab

Langkah - langkanya yaitu :
Tahap Persiapan

Tahap persiapan merupakan langkah awal yang dijadikan dasar dan juga patokan untuk mengambil langkah selanjutnya. Pada tahap persiapan ini juga merupakan tahap awal untuk menetukan keberhasilan dari penerapan pendidikan karakter bangsa yang berlandaskan Pancasila. Langkah yang perlu dilakukan pada tahap persiapan, yaitu :

(1) pembuatan RPP

(2) pengajuan kurikulum baru.

Pada tahap persiapan langkah awal yang dapat dilakukan adalah pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. Adapun langkah-langkah pembuatan RPP adalah menuliskan identitas mata pelajaran, menuliskan standar kompetensi, menuliskan kompetensi dasar, menuliskan indikator pencapaian kompetensi, merumuskan tujuan pembelajaran, menuliskan materi ajar, menentukan metode pembelajaran, merumuskan kegiatan pembelajaran, menentukan media/alat/bahan/sumber belajar, dan terakhir hasil belajar.

Langkah yang dilakukan setelah pembuatan RPP adalah pengajuan kurikulum baru. Pengajuan kurikulum baru harus dibawah koordinasi dinas pendidikan daerah, untuk selanjutnya dinas pendidikan daerah diminta mendaftarkan sekolah yang berminat menerapkan kurikulum baru. Lalu sekolah yang telah mengajukan kurikulum baru secara mandiri menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Demikian juga pelatihan guru secara mandiri bisa dilakukan dengan anggaran sendiri, tetapi tetap berkoordinasi dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk penyediaan instruktur yang diperlukan (Kompas, 2013).



Tahap Evaluasi

Tahap Evaluasi merupakan tahap kedua setelah tahap persiapan, langkah yang perlu dilakukan pada tahap evaluasi, yaitu :

(1) pengujian terhadap pendidikan karakter bangsa yang berlandaskan Pancasila,

(2) melakukan revisi kurikulum jika diperlukan.

Pengujian terhadap pendidikan karakter bangsa yang berlandaskan Pancasila. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah kurikulum sudah sesuai dengan pendidikan karakter bangsa yang berlandaskan Pancasila. Pendidikan karakter bangsa yang berlandaskan Pancasila harus memenuhi syarat yang ditentukan seperti adanya nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan, nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri, nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama, dan nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan.

Melakukan revisi kurikulum jika diperlukan. Kurikulum dapat diubah bila terdapat pendirian baru mengenai proses belajar. Harus ada pertimbangan sebelum melakukan revisi pada kurikulum diantaranya, perbaikan kurikulum tergantung pada petumbuhan guru, sekolah menjadi pusat perencanaan, dan kurikulum harus memiliki pengalamn-pengalaman untuk membantu para siswa melakukan penyesuaian diri terhadap kehidupan sekarang.



Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan merupakan tahap terakhir yang dilakukan setelah tahap persiapan dan tahap evaluasi. Tahap pelaksanaan ini berupa :

(1) sosialisasi kepada para pendidik,

(2) memberikan contoh teladan.

Sosialisasi kepada para pendidik mengenai pendidikan berbasis karakter Pancasila dengan cara memberikan para guru arahan tentang bagaimana pendidikan Pancasila ini diterapkan pada peserta didik serta menjelaskan arti penting Pancasila dalam dunia pendidikan.
In reply to M Raihan Alfaridho

Re: diskusi

Rusbiantari Ningsih 2013053153 གིས-
Rusbiantari Ningsih
2013053153

Izin bertanya
Pada makalah terdapat beberapa strategi pendekatan kontekstual dalam penyampaian kurikulum pembelajaran berbasis karakter. Menurut kelompok 12, strategi manakah yang tepat untuk diterapkan pada peserta didik kelas rendah dan kelas tinggi dengan tetap menggunakan model pembelajaran berbasis pancasila?

Terima kasih
In reply to M Raihan Alfaridho

Re: diskusi

Widya Mitasari གིས-
Baik terimakasih moderator atas kesempatannya.

Widya Mitasari 2013053064
Izin bertanya
Pelaksanaan kurikulum berbasis karakter di dalam proses pembelajaran di sekolah dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Bagaimana pelakasanaan pembelajaran berbasis karakter ini disetiap mata pelajarannya?
In reply to Widya Mitasari

Re: diskusi

M Raihan Alfaridho གིས-
Muhammad Raihan Alfaridho
2013053157

Izin menjawab
Setiap mata palajaran mempunyai nilai-nilai tersendiri yang akan ditanamkan dalam diri anak didik. Hal ini disebabkan oleh adanya keutamaan fokus dari tiap mapel yang tentunya mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.

Distribusi penanaman nilai-nilai utama dalam tiap mata pelajaran dapat dilihat sebagai berikut:

1. Pendidikan Agama: Nilai utama yang ditanamkan antara lain: religius, jujur, santun, disiplin, tanggung jawab, cinta ilmu, ingin tahu, percaya diri, menghargai keberagaman, patuh pada aturan, sosial, bergaya hidup sehat, sadar akan hak dan kewajiban, kerja keras, dan adil.

2. Pendidikan Kewargaan Negara: Nasionalis, patuh pada aturan sosial, demokratis, jujur, mengahargai keragaman, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain.

3. Bahasa Indonesia: Berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif, percaya diri, bertanggung jawab, ingin tahu, santun, nasionalis.

4. Ilmu Pengetahuan Sosial: Nasionalis, menghargai keberagaman, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, peduli sosial dan lingkungan, berjiwa wirausaha, jujur, kerja keras.

5. Ilmu Pengetahuan Alam: Ingin tahu, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, jujur, bergaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, peduli lingkungan, cinta ilmu

6. Bahasa Inggris: Menghargai keberagaman, santun, percaya diri, mandiri, bekerja sama, patuh pada aturan sosial

7. Seni Budaya: Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur, disiplin, demokratis

8. Penjasorkes: Bergaya hidup sehat, kerja keras, disiplin, jujur, percaya diri, mandiri, mengahrgai karya dan prestasi orang lain

9. TIK/Ketrampilan: Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, bertanggung jawab, dan menghargai karya orang lain.

10. Muatan Lokal: Menghargai kebersamaan, menghargai karya orang lain, nasional, peduli.
In reply to M Raihan Alfaridho

Re: diskusi

Lia Setianingsih གིས-
Lia Setianingsih
2013053141

Menurut kelompok penyaji, adakah hambatan/kendala yang akan ditemui dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis karakter di Sekolah Dasar? Jika ada, bagaimana solusi kalian untuk mengatasinya?
In reply to Lia Setianingsih

Re: diskusi

Nadia Salsabila Adzkia 2013053182 གིས-
Nadia Salsabila Adzkia
2013053182

Pendidikan karakter merupakan program baru yang diprioritaskan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebagai program baru masih menghadapi banyak kendala. Kendala-kendala tersebut dalam implementasi di sekolah dasar adalah:

(1)     nilai-nilai karakter yang dikembangkan di sekolah dasar belum terjabarkan dalam indikator yang representatif. Indikator yang tidak representatif dan baik tersebut menyebabkan kesulitan dalam mengungukur ketercapaiannya.

(2)     sekolah dasar belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan visinya. Jumlah nilai-nilai karakter demikian banyak, baik yang diberikan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, maupun dari sumber-sumber lain. Umumnya sekolah menghadapi kesulitan memilih nilai karakter mana yang ssuai dengan visi sekolahnya. Hal itu berdampak pada gerakan membangun karakter di sekolah menjadi kurang terarah dan fokus, sehingga tidak jelas pula monitoring dn penilaiannya.

(3)     pemahaman guru tentang konsep pendidikan karakter yang masih belum menyeluruh. Jumlah guru di Indonesia yang lebih 2 juta merupakan sasaran program yang sangat besar. Program pendidikan karakter belum dapat disosialisaikan pada semua guru dengan baik sehingga mereka belum memahaminya.

(4)     guru belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya. Selain nilai-nilai karakter umum, dalam mata pelajaran juga terdapat nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan guru pegampu. Nilai-nilai karakter mata pelajaran tersebut belum dapat digali dengan baik untuk dikembangkan dalam proses pembelajaran.

(5)     Guru belum memiliki kompetensi yang memadai untuk mengintegrasikan nilai-niai karakter pada mata pelajaran yang diampunya. Program sudah dijalankan, sementara pelatihan masih sangat terbatas diikuti guru menyebabkan keterbatasan mereka dalam mengintegrasikan nilai karakter pada mata pelajaran yang diampunya.

(6)     guru belum dapat menjadi teladan atas nilai-nilai karakter yang dipilihnya. Permasalahan yang paling berat adalah peran guru untuk menjadi teladan dalam mewujudkan nilai-nilai karakter secara khusus sesuai dengan nilai karakter mata pelajaran dan nilai-nilai karakter umum di sekolah.
In reply to Nadia Salsabila Adzkia 2013053182

Re: diskusi

Serly Setyowati 2013053081 གིས-
Serly Setyowati
2013053081

Izin menambahkan jawaban atas pertanyaan Lia.

Kendala yang sering dihadapi dalam implementasi pembelajaran berbasis karakter di SD berupa:

1. Sekolah belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan visinya;
2. Pemahaman pendidik tentang konsep pendidikan karakter yang masih belum menyeluruh;
3. Pendidik belum dapat memilih nilai-nilai karakter yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya;
4. Pendidik belum memiliki kompetensi yang memadai untuk mengintegrasikan nilai-niai karakter pada mata pelajaran yang diampunya;
5. Pendidik belum dapat menjadi teladan atas nilai-nilai karakter yang dipilihnya.

Solusi atas kendala-kendala di atas
Bagi sekolah:
Menjadi sekokah yang menjunjung tinggi iman dan taqwa yang di dalamnya sudah terdapat penanaman karakter. Bila perlu dimasukkan dalam visi dan misi sekolah agar selalu diimplementasikan bagi seluruh warga sekolah sebagai upaya penanaman karakter di sekolah.

Bagi pendidik:
Selalu berusaha untuk menjadi pendidik yang senantiasa memiliki perilaku terpuji agar menjadi contoh nyata bagi peserta didiknya sebagai upaya penanaman karakter.

Bagi peserta didik:
Belajar memahami mana yang baik dan buruk, yang perlu ditiru dan tidak ditiru, agar tidan terkontaminasi dengan hal-hal yang buruk serta dapat mempertahankan karakter terpuji yang sudah tertanamkan dalam diri peserta didik.
In reply to Nadia Salsabila Adzkia 2013053182

Re: diskusi

Utchi Umairoh 2013053094 གིས-
Utchi Umairoh
2013053094
Izin menambahkan
Untuk mengatasi kendala pendidikan karakter yang telah dijelaskan oleh Nadia maka seharusnya seorang guru harus mempunyai 3 unsur penting yaitu guru 3P (Pengajar, Pendidik dan Pemimipin).
Pertama, guru sebagai seorang pengajar, artinya seorang guru harus mentransformasi pengetahuan yang dimilikinya kepada siswanya (transfer knowledge), kedua guru sebagai seorang mendidik artinya seorang guru harus mampu menanamkan hal hal baik terlebih dahulu yang patut ditiru oleh muridnya (transfer value) dan ketiga guru sebagai pemimpin, artinya guru tidak hanya dapat melakukan pengajaran dan pendidikan tapi juga dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan dapat berkomunikasi dengan orang tua sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Jika didalam jiwa seorang guru telah memiliki 3 hal ini maka tidaklah mungkin siswa atau peserta didik tidak memiliki rasa hormat kepada gurunya. Tidaklah mungkin mereka merasa berani atau membangkang kepada gurunya karena yang ada dalam pikiran atau ingatan mereka bahwa guru ini patutu dihormati dan dihargai. Sehingga akan lebih mudah mengajarkan nilai-nilai pendidikan karakter kepada mereka karena panutan atau suri tauladan yang mereka lihat sudah sangat tepat. Karena sejatinya sebagai seorang murid tanpa disengaja maupun sengaja akan mengikuti jejak dari gurunya
In reply to Nadia Salsabila Adzkia 2013053182

Re: diskusi

MIRA DESRINA 2013053059 གིས-
Mira Desrina
2013053059

Izin menambahkan jawaban
Kendala yang dialami Pendidik
dalam proses
pembelajaran berbasis karakter yaitu,
1.Pendidik selalu
menekankan aspek kognitif sehingga karakter
peserta didik masih kurang diperhatikan.
2.Kompetensi guru juga menjadi penghalang
terbangunnya karakter peseta didik, karena
sebagian besar guru di Indonesia belum
mampu menguasai 4 kompetensi (pedagogik,
profesional, sosial dan kepribadian) secara
menyeluruh.
3. Metode pembelajaran yang
digunakan oleh guru di dalam proses
pembelajaran yang monoton juga membuat
tidak maksimalnya proses pembangunan
karakter peserta didik. Fenomena ini menjadi
salah satu munculnya permasalahan yang
dialami pendidikan di Indonesia, yaitu krisis
karakter pemuda sehingga berdampak pada
banyak tindakan kriminal yang dilakukan
oleh pemuda.

Maka cara menangani nya perlunya kesadaran dan juga evaluasi terhadap diri pendidik itu sendiri untuk memperbaiki diri terlebih dahulu dan meningkatkan keterampilan pribadi guru,supaya dapat di tiru oleh peserta didik nya.

Terima kasih
In reply to M Raihan Alfaridho

Re: diskusi

Luthfia Rizki Yuniarti 2013053092 གིས-
Luthfia Rizki Yuniarti
2013053092

Izin bertanya,
Bagaimana cara mengimplementasian dan menerapan Model Pembelajaran
Karakter Berbasis Pancasila, di kelas rendah dan tinggi?
In reply to Luthfia Rizki Yuniarti 2013053092

Re: diskusi

RAHMAH NUR'AINI 2013053127 གིས-
Nama : Rahmah Nur'Aini
NPM : 2013053127

Izin menjawab pertanyaatan Luthfia, implementasi model pembelajaran karakter berbasis Pancasila di kelas rendah dan kelas tinggi sama saja tahap-tahapan yang dilalui oleh seorang pendidik. Berdoa sebelum belajar, mengucapkan salam, bertegur sapa, dan lain-lain. Yang membedakan antara kelas rendah dan kelas tinggi adalah materi yang disampaikan, jika materi di kelas rendah adalah materi karakter berbasis Pancasila yang masih ringan seperti penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan, pengimplementasian materi di kelas tinggi lebih sedikit sulit seperti pengimplementasian undang-undang dasar serta bela negara dengan diberikannya materi perjuangan kemerdekaan.

Berikut ini cara pengimplementasiaan dan menerapkan model pembelajaran karakter berbasis pancasila : 
  1. Pada sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai bahwa berdirinya negara Indonesia adalah sebagai wujud pelaksanaan manusia dalam mematuhi Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga dalam penyelengaraan pembelajaran, peserta didik diajarkan untuk berdoa sebelum belajar, mengucapkan salam, dan lain-lain. Sila pertama ini merupakan nilai yang meliputi dan menjiwai keempat sila lainnya.
  2. Sila kedua didasari dan dijwai oleh sila pertama dan sila ketiga lainnya. Dalam sila ini terkandung nilai-nilai bahwa sebagai seorang warga negara yang baik harus memiliki kesadaran sikap moral dan tingkah laku sebagaimana semestinya. Dalam sila ini, peserta didik diajarkan untuk sopan santun kepada guru, berbuat baik sesama teman, dan lain-lain.
  3. Pada sila ketiga mengartikan bahwa Indonesia sebagai negara yang terdiri dari beragam jenis suku tentu memiliki banyak kendala akibat banyaknya perbedaan golongan,agama, ras, kelompok dan lainnya. Maka dari itu Negara Kesatuan Republik Indonesia ini membentuk sebuah kesatuan dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sebagai anak sekolah dasar seringkali terjadi, pembullyan ataupun menganggap perbedaan adalah sebuah hal yang tidak lazim. Dengan menerapkan sila ketiga pada Pancasila ini anak sekolah dasar diharapkan mampu memahami dan memiliki sikap toleransi.
  4. Dalam sila keempat terkandung nilai demokrasi yang harus dilaksanakan dalam kehidupan bernegara, nilai-nilai demokrasi yang terkandung dalam sila keempat di antaranya adalah: a) Adanya kebebasan yang disertai dengan tanggungjawab terhadap masyarakat bangsa maupun moral terhadap Tuhan Yang Maha Esa, b) Menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan, dan c) Menjamin dan memperkokoh persatuan dan kesatuan dalam hidup bersama.
  5. Pada sila kelima, kata keadilan sosial mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia yang mampu bersikap adil, bersikap menghargai dan menghormati hak-hak orang lain, mampu bekerja sama dan bergotong royong pada sebuah keadaan. Pada sila ini peserta didik diajarkan untuk saling bergotong royong atau membantu sesama teman
Nilai-nilai dalam Pancasila tersebut mengandung makna bahwa setiap sanubari
bangsa wajib untuk menanamkan nilai keagaamaan, nilai sosial, nilai budaya, nilai
bermusyawarah dan nilai keadilan. Yang mana hal tersebut searah dengan konsep pendidikan karakter yang tercantum dalam 11 nilai karakter yang dirumuskan oleh Depdiknas yang terdiri dari berbagai aspek karakter dalam diri diantaranya ketaqwaan, kejujuran, kedisplinan, demokratis, adil, bertanggungjawab, cinta tanah air, orientasi pada keunggulan, gotong royong, menghargai, dan rela berkorban. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa Pancasila memiliki peranan penting dalam membangun karakter bangsanya.

In reply to Luthfia Rizki Yuniarti 2013053092

Re: diskusi

Fadilatun Nisa Aulia གིས-
Izin menambahkan jawaban dari pertanyan Lutfia Rizki Yuniarti
Nama : Fadilatun Nisa Aulia
NPM : 2063053002

1. Penerapan dalam Intrakurikuler
Dalam proses pembelajaran tematik,pendidik diharapkan tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan sesuai dengan mata pelajaran, namun memasukkan unsur nilai Pancasila/budi pekerti/karakter di dalamnya. pendidik harus mampu memberikan informasi tentang manfaat, dampak, dan bagaimana memanfaatkan pengetahuan dengan bijak. Ilmu pengetahuan yang dibarengi dengan nilai-nilai Pancasila/budi pekerti/karakter, seharusnya juga dapat menumbuhkan kepedulian pada lingkungan.

2. Penerapan dalam Bidang Kokurikuler
Dalam rangka menanamkan karakter pancasila pada bidang Kokurikuler, peserta didik dapat diminta melakukan kegiatan studi lapangan. Dari kegiatan tersebut, peserta didik dapat mempraktikkan teori-teori yang didapatkan dalam kelas. Selain itu, peserta didik dapat menghayati bagaimana kerja keras dalam menghasilkan suatu produk, peduli terhadap kerja keras, menghargai sesama, dan juga dapat mensyukuri berkah sehingga membentuk karakter peserta didik.

3. Penerapan dalam Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, seni budaya dan keterampilan lainnya menumbuhkan karakter, kreativitas, dan kemandirian bagi peserta didik. Peserta didik tentunya dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minat masing-masing, sehingga terasa lebih menyenangkan.

4. Penerapan dalam Bidang Non-Kokurikuler
Kegiatan bidang non-kokurikuler seperti kerja bakti, melakukan ibadah bersama misalnya shalat berjamaah, bersalaman, serta pembiasaan-pembiasaan baik dapat diterapkan untuk menumbuhkan nilai Pancasila/budi pekerti/karakter yang baik bagi siswa. Selain itu, strategi lain seperti menggelar kegiatan upacara bendera hari Senin, apel, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lagu-lagu nasional, dan berdoa bersama yang dilanjutkan dengan membaca kitab suci dan/atau buku-buku non-pelajaran selama 15 menit sebelum memulai pembelajaran juga bisa dilakukan di lingkungan sekolah.
In reply to muhisom M.Pd.I

Re: diskusi

M Raihan Alfaridho གིས-
Demikian lah persentasi dari kelompok kami. Saya selaku perwakilan kelompok 12 meminta maaf apabila ada kesalahan, kepada Allah saya mohon ampun, terima kasih atas perhatian dan partisipasinya. Saya akhiri
Wassalmu'alaikum wr wb