menurut anda kebijakan apa yang paling berdampak di pedesaan masa repelita !
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Rifki Ardiansyah NPM 2053033006. Izin menjawab pertanyaan yang bapak berikan tentang kebijakan apa yang paling berdampak di pedesaan masa repelita.
Pembangunan Sentralistik
Dalam Repelita I penekanan pemerintah berada pada bidang pertanian dan pembangunan infrastruktur. Langkah ini dinilai berhasil mengangkat tingkat kemakmuran masyarakat desa. Menurut rincian yang disarikan dalam Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir, 1966-1982 (2005: 387), hasil fisik yang dicapai selama Repelita I meliputi perbaikan 1.600 kilometer jalan dan tidak kurang dari 380 ribu hektare rehabilitasi sawah. Pencapaian ini mampu mengurangi angka pengangguran hingga lebih dari 1,4 juta orang setiap tahun.
Selama lima tahun program-program Repelita I berjalan, sasaran pembangunan paling besar adalah wilayah perdesaan. Selain membangun jalan, waduk, saluran irigasi, dan rehabilitasi sawah, pemerintahan Soeharto memberikan dana bantuan pembangunan sebesar Rp100 ribu tiap desa. Agar pelaksanaan pembangunan berjalan seperti yang diharapkan, para pejabat desa diwajibkan mengikuti program pengawasan dan pelaporan proyek.
Menurut Mudrajad Kuncoro, Guru Besar Ilmu Ekonomi FEB UGM, Repelita I menerapkan sistem perencanaan terpusat atau top-down. Berkat implementasinya yang bersifat sentralistik, pembanguan di daerah, khususnya di wilayah perdesaan, menjadi lebih menonjol. Berbagai program bangun desa dapat berjalan cepat karena pejabat daerah hanya tinggal menyalin rancangan yang sudah disediakan pemerintah pusat. “Pendekatan sektoral amat kuat lewat mekanisme dekonsentrasi. Akibatnya, pemda tak lebih hanya sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat,"
Sekian terimakasih, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pembangunan Sentralistik
Dalam Repelita I penekanan pemerintah berada pada bidang pertanian dan pembangunan infrastruktur. Langkah ini dinilai berhasil mengangkat tingkat kemakmuran masyarakat desa. Menurut rincian yang disarikan dalam Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir, 1966-1982 (2005: 387), hasil fisik yang dicapai selama Repelita I meliputi perbaikan 1.600 kilometer jalan dan tidak kurang dari 380 ribu hektare rehabilitasi sawah. Pencapaian ini mampu mengurangi angka pengangguran hingga lebih dari 1,4 juta orang setiap tahun.
Selama lima tahun program-program Repelita I berjalan, sasaran pembangunan paling besar adalah wilayah perdesaan. Selain membangun jalan, waduk, saluran irigasi, dan rehabilitasi sawah, pemerintahan Soeharto memberikan dana bantuan pembangunan sebesar Rp100 ribu tiap desa. Agar pelaksanaan pembangunan berjalan seperti yang diharapkan, para pejabat desa diwajibkan mengikuti program pengawasan dan pelaporan proyek.
Menurut Mudrajad Kuncoro, Guru Besar Ilmu Ekonomi FEB UGM, Repelita I menerapkan sistem perencanaan terpusat atau top-down. Berkat implementasinya yang bersifat sentralistik, pembanguan di daerah, khususnya di wilayah perdesaan, menjadi lebih menonjol. Berbagai program bangun desa dapat berjalan cepat karena pejabat daerah hanya tinggal menyalin rancangan yang sudah disediakan pemerintah pusat. “Pendekatan sektoral amat kuat lewat mekanisme dekonsentrasi. Akibatnya, pemda tak lebih hanya sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat,"
Sekian terimakasih, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Fefi Yunia Amalia Sari dengan NPM 2053033010. Izin untuk menjawab pertanyaan yang Bapak berikan.
Menurut anda kebijakan apa yang paling berdampak di pedesaan masa repelita !
Repelita atau Rencana Pembangunan Lima Tahun adalah satuan perencanaan yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru di Indonesia yang dilaksanakan selama 30 tahun masa jabatan Soeharto. Program ini menerapkan pembangunan terpusat untuk ekonomi makro yang ada di Indonesia.
Salah satu kebijakan yang diterapkan yakni kebijakan dalam bidang Perekonomian. Salah satu tindakan pertama Soeharto setelah mengambil alih pimpinan negara adalah menugaskan tim penasihat ekonominya, yang terdiri atas kelima dosen FEUI, yaitu Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Mohammad Sadli, Soebroto, dan Emil Salim untuk menyusun suatu program stabilisasi dan rehabilitasi. Tujuan utama dari program ini adalah memulihkan stabilitas makro ekonmi dengan menghentikan hiperinflasi setinggi 600% yang telah berkecamuk pada akhir masa pemerintahan Soekarno. Alat kebijakan utama untuk menurunkan laju inflasi adalah anggaran berimbang (balance budget), artinya pengeluaran pemerintah dibatasi oleh penerimaan pemerintah. Kebijakan ini dicirikan oleh kebijakan perdagangan luar negeri dan kebijakan investasi asing yang bersifat lebih liberal itu artinya, pemerintah Indonesia mulai menerapkan kebijakan yang dapat menghapus atau mengurangi berbagai rintangan atas perdagangan luar negeri dan investasi asing.
Beberapa dampak dari adanya kebijakan pereknomian tersebut yakni:
1. Swasembada Beras
Sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1992, produksi padi sangat meningkat. Prestasi yang besar khususnya di sektor pertanian ini telah mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia dalam tahun 1970-an menjadi negara yang mencapai swasembada pangan sejak tahun 1984 dan kenyataan bahwa swasembada pangan yang tercapai pada tahun itu selanjutnya juga selama lima tahun terakhir sampai dengan tahun terakhir Repelita V tetap dapat dipertahankan.
2. Kesejahteraan Penduduk
Strategi yang mendahulukan pembangunan pertanian disertai dengan pemerataan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat, yang antara lain meliputi penyediaan kebutuhan pangan, peningkatan gizi, pemerataan pelayanan kesehatan, keluarga berencana, pendidikan dasar, air bersih, perumahan sederhana dan sebagainya. Strategi ini dilaksanakan secara konsekuen setiap Repelita. Dengan strategi inilah pemerintah telah berhasil mengurangi kemiskinan di Tanah Air. Hasilnya adalah sangat menurunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Pada tahun 1970-an ada 60 orang di antaranya yang hidup miskin dari setiap 100 orang penduduk.
3. Masyarakat Tinggal Landas
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa negara tinggal landas adalah negara industri. Negara industri dapat berkembang karena dia menguasai dan mampu memanfaatkan teknologi modern. Selanjutnya, penguasaan dan pemanfaatan teknologi modern dimungkinkan melalui pendidikan dan latihan yang tepat serta mampu menyediakan sumberdaya manusia dalam jumlah serta kualitas yang sesuai dengan keperluan pembangunan nasional.
Terlepas dari berbagai kontroversi tentang perjalanan rezim Orde Baru, namun harus diakui bahwa Orde Baru paling tidak telah meletakkan dasar-dasar perekonomian bagi rezim selanjutnya dan paling tidak memberikan pondasi bagi keberlangsungan program selanjutnya. Selain itu, kondisi sosial politik yang relatif stabil menjadi modal bagi tumbuhnya perekonomian secara baik.
Sekian, terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Menurut anda kebijakan apa yang paling berdampak di pedesaan masa repelita !
Repelita atau Rencana Pembangunan Lima Tahun adalah satuan perencanaan yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru di Indonesia yang dilaksanakan selama 30 tahun masa jabatan Soeharto. Program ini menerapkan pembangunan terpusat untuk ekonomi makro yang ada di Indonesia.
Salah satu kebijakan yang diterapkan yakni kebijakan dalam bidang Perekonomian. Salah satu tindakan pertama Soeharto setelah mengambil alih pimpinan negara adalah menugaskan tim penasihat ekonominya, yang terdiri atas kelima dosen FEUI, yaitu Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Mohammad Sadli, Soebroto, dan Emil Salim untuk menyusun suatu program stabilisasi dan rehabilitasi. Tujuan utama dari program ini adalah memulihkan stabilitas makro ekonmi dengan menghentikan hiperinflasi setinggi 600% yang telah berkecamuk pada akhir masa pemerintahan Soekarno. Alat kebijakan utama untuk menurunkan laju inflasi adalah anggaran berimbang (balance budget), artinya pengeluaran pemerintah dibatasi oleh penerimaan pemerintah. Kebijakan ini dicirikan oleh kebijakan perdagangan luar negeri dan kebijakan investasi asing yang bersifat lebih liberal itu artinya, pemerintah Indonesia mulai menerapkan kebijakan yang dapat menghapus atau mengurangi berbagai rintangan atas perdagangan luar negeri dan investasi asing.
Beberapa dampak dari adanya kebijakan pereknomian tersebut yakni:
1. Swasembada Beras
Sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1992, produksi padi sangat meningkat. Prestasi yang besar khususnya di sektor pertanian ini telah mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia dalam tahun 1970-an menjadi negara yang mencapai swasembada pangan sejak tahun 1984 dan kenyataan bahwa swasembada pangan yang tercapai pada tahun itu selanjutnya juga selama lima tahun terakhir sampai dengan tahun terakhir Repelita V tetap dapat dipertahankan.
2. Kesejahteraan Penduduk
Strategi yang mendahulukan pembangunan pertanian disertai dengan pemerataan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat, yang antara lain meliputi penyediaan kebutuhan pangan, peningkatan gizi, pemerataan pelayanan kesehatan, keluarga berencana, pendidikan dasar, air bersih, perumahan sederhana dan sebagainya. Strategi ini dilaksanakan secara konsekuen setiap Repelita. Dengan strategi inilah pemerintah telah berhasil mengurangi kemiskinan di Tanah Air. Hasilnya adalah sangat menurunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Pada tahun 1970-an ada 60 orang di antaranya yang hidup miskin dari setiap 100 orang penduduk.
3. Masyarakat Tinggal Landas
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa negara tinggal landas adalah negara industri. Negara industri dapat berkembang karena dia menguasai dan mampu memanfaatkan teknologi modern. Selanjutnya, penguasaan dan pemanfaatan teknologi modern dimungkinkan melalui pendidikan dan latihan yang tepat serta mampu menyediakan sumberdaya manusia dalam jumlah serta kualitas yang sesuai dengan keperluan pembangunan nasional.
Terlepas dari berbagai kontroversi tentang perjalanan rezim Orde Baru, namun harus diakui bahwa Orde Baru paling tidak telah meletakkan dasar-dasar perekonomian bagi rezim selanjutnya dan paling tidak memberikan pondasi bagi keberlangsungan program selanjutnya. Selain itu, kondisi sosial politik yang relatif stabil menjadi modal bagi tumbuhnya perekonomian secara baik.
Sekian, terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin memperkenalkan diri nama saya Alifian Faridz Ramadhan Npm 2053033001 Izin menyampaikan pendapat mengenai kebijakan apa yang paling berdampak di pedesaan masa repelita.
Baiklah menurut saya itu kebijakan yang paling berdampak dipedesaan pada saat repelita I karena dimana dalam repelita I ini soeharto lebih mensejahterakan para petani dengan melakukan PEMERATAAN PELAYANAN PUBLIK DI INDONESIA Sejak permulaan pemerintahan Orde Baru di Indonesia, peranan birokrasi Pemerintah dalam pelayanan publik telah berkembang dengan sangat pesat. Pengeluaran pemerintah untuk sektor-sektor pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, perumahan dan perhubungan telah meningkat dari Rp. 414,3 milyar pada Pelita I menjadi Rp. 12.244,6 milyar dalam harga konstan tahun 1969 pada Pelita IV, suatu peningkatan sebesar
hampir 30 kali. HASIL-HASIL PEMBANGUNAN DALAM PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG I
1. Swasembada Beras
Sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1992, produksi padi sangat meningkat. Prestasi yang besar khususnya di sektor pertanian ini telah mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia dalam tahun 1970-an menjadi negara yang mencapai swasembada pangan sejak tahun 1984 dan kenyataan bahwa swasembada pangan yang tercapai pada tahun itu selanjutnya juga selama lima tahun terakhir sampai dengan tahun terakhir Repelita V tetap dapat dipertahankan. Disamping itu meningkatnya penyediaan pangan selama ini mempunyai pengaruh sangat besar terhadap usaha mengurangi jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan (Jamin, Zulkarnain, 1995 : 105-106)
2. Kesejahteraan Penduduk
Strategi yang mendahulukan pembangunan pertanian disertai dengan pemerataan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat, yang antara lain meliputi penyediaan kebutuhan pangan, peningkatan gizi, pemerataan pelayanan kesehatan, keluarga berencana, pendidikan dasar, air bersih, perumahan sederhana dan sebagainya. Strategi ini
dilaksanakan secara konsekuen setiap Repelita. Dengan strategi inilah pemerintah telah berhasil mengurangi kemiskinan di Tanah Air.
3. Masyarakat Tinggal Landas
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa negara tinggal landas adalah negara industri. Negara industri dapat berkembang karena dia menguasai dan mampu memanfaatkan teknologi modern. Selanjutnya, penguasaan dan pemanfaatan teknologi modern dimungkinkan melalui pendidikan dan latihan yang tepat serta mampu menyediakan sumberdaya manusia dalam jumlah serta kualitas yang sesuai dengan keperluan pembangunan nasional (Abar, Zaini Ahmad, 1990 : 167).
Repelita I menerapkan sistem perencanaan terpusat atau top-down. Berkat implementasinya yang bersifat sentralistik, pembanguan di daerah, khususnya di wilayah perdesaan, menjadi lebih menonjol. Berbagai program bangun desa dapat berjalan cepat karena pejabat daerah hanya tinggal menyalin rancangan yang sudah disediakan pemerintah pusat. Dalam masa kepemimpinan soeharto petani sangat disejahterakan baik pemberian pupuk bersubsidi, dan lain lain.
Demikian yang dapat saya sampaikan kurang lebihnya mohon maaf wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Baiklah menurut saya itu kebijakan yang paling berdampak dipedesaan pada saat repelita I karena dimana dalam repelita I ini soeharto lebih mensejahterakan para petani dengan melakukan PEMERATAAN PELAYANAN PUBLIK DI INDONESIA Sejak permulaan pemerintahan Orde Baru di Indonesia, peranan birokrasi Pemerintah dalam pelayanan publik telah berkembang dengan sangat pesat. Pengeluaran pemerintah untuk sektor-sektor pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, perumahan dan perhubungan telah meningkat dari Rp. 414,3 milyar pada Pelita I menjadi Rp. 12.244,6 milyar dalam harga konstan tahun 1969 pada Pelita IV, suatu peningkatan sebesar
hampir 30 kali. HASIL-HASIL PEMBANGUNAN DALAM PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG I
1. Swasembada Beras
Sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1992, produksi padi sangat meningkat. Prestasi yang besar khususnya di sektor pertanian ini telah mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia dalam tahun 1970-an menjadi negara yang mencapai swasembada pangan sejak tahun 1984 dan kenyataan bahwa swasembada pangan yang tercapai pada tahun itu selanjutnya juga selama lima tahun terakhir sampai dengan tahun terakhir Repelita V tetap dapat dipertahankan. Disamping itu meningkatnya penyediaan pangan selama ini mempunyai pengaruh sangat besar terhadap usaha mengurangi jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan (Jamin, Zulkarnain, 1995 : 105-106)
2. Kesejahteraan Penduduk
Strategi yang mendahulukan pembangunan pertanian disertai dengan pemerataan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat, yang antara lain meliputi penyediaan kebutuhan pangan, peningkatan gizi, pemerataan pelayanan kesehatan, keluarga berencana, pendidikan dasar, air bersih, perumahan sederhana dan sebagainya. Strategi ini
dilaksanakan secara konsekuen setiap Repelita. Dengan strategi inilah pemerintah telah berhasil mengurangi kemiskinan di Tanah Air.
3. Masyarakat Tinggal Landas
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa negara tinggal landas adalah negara industri. Negara industri dapat berkembang karena dia menguasai dan mampu memanfaatkan teknologi modern. Selanjutnya, penguasaan dan pemanfaatan teknologi modern dimungkinkan melalui pendidikan dan latihan yang tepat serta mampu menyediakan sumberdaya manusia dalam jumlah serta kualitas yang sesuai dengan keperluan pembangunan nasional (Abar, Zaini Ahmad, 1990 : 167).
Repelita I menerapkan sistem perencanaan terpusat atau top-down. Berkat implementasinya yang bersifat sentralistik, pembanguan di daerah, khususnya di wilayah perdesaan, menjadi lebih menonjol. Berbagai program bangun desa dapat berjalan cepat karena pejabat daerah hanya tinggal menyalin rancangan yang sudah disediakan pemerintah pusat. Dalam masa kepemimpinan soeharto petani sangat disejahterakan baik pemberian pupuk bersubsidi, dan lain lain.
Demikian yang dapat saya sampaikan kurang lebihnya mohon maaf wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Raisya Aulia dengan NPM 2053033009. Izin untuk menjawab pertanyaan yang Bapak berikan.
menurut anda kebijakan apa yang paling berdampak di pedesaan masa repelita !
Repelita atau Rencana Pembangunan Lima Tahun adalah satuan perencanaan yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru di Indonesia yang dilaksanakan selama 30 tahun masa jabatan Soeharto. Program ini menerapkan pembangunan terpusat untuk ekonomi makro yang ada di Indonesia.
Kebijakan yang paling berdampak pada pedesaan adalah masa Repelita I. Kurun waktu berlangsungnya REPELITA I adalah antara tahun 1969 hingga tahun 1976, tepatnya semenjak dimulainya Kabinet Pembangunan I pada tanggal 6 Juni 1968 hingga tanggal 28 Maret 1973. Fokus kerja yang ditetapkan dalam REPELITA I adalah persiapan pembangunan kebutuhan dasar kehidupan masyarakat industrial. Persiapan tersebut adalah kebutuhan pertanian dan infrastruktur.
Dampak Repelita I Terhadap Pedesaan
• Dalam bidang pertanian, Repelita I memberikan dampak positif. Denganmeningkatnya sebagian besar hasil pertanian beras naik rata-rata 4% setahun, produksi kayu khususnya kayu rimba naik ratarata 37,4% setahun. Selain perkembnagan yang semakin membaik di bidang pertanian, terdapat pula perkembangan yang kurang menggembirakan di bidang produksi umbi-umbian,kelapa, kopi, teh, dan kapas (Poesponegoro dan Notosusanto, 2008:580).
• Pada sektor perikanan memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan.Eksporikan, terutama udang, naik rata-rata 62% setahun. Dengan membaiknyaiklim ekonomi di Indonesia menjadikan para penanam modal dalam negeridan penanam modal asing tertarik untuk menanamkan modalnya. Untuk sektor produksi industri terjadi peningkatan, antara lain produksi semen mengalamikenaikan sebesar 51 % Industri tekstil mengalami kemajuan. Benang tenunmeningkat dari 177.000 bal menjadi 316.247 bal. Sedangkan bahan tekstilmeningkat dari 449,8 juta menjadi 920 juta meter. Pembangunan kesehatandilakukan dengan membangun sarana kesehatan, jumlah Balai Kesejahteraan Ibudan Anak (BKIA) dalam tahun 1973 meningkat menjadi 6801 buah.
Jumlah puskesmas meningkat dari 1227 buah dalam 1969 menjadi 2343 buah dalamtahun 1973 ( Poesponegoro dan Notosusanto, 2008:580-582).
• Besarnya bantuan Pembangunan Desa selama Repelita I adalah Rp 100.000 tiap-tiap desa. Disamping bantuan Rp 100.000 per desa, kepada pemenang lomba desa,desa yang tergolong minus dan kritis diberikan bantuan tambahan khusus. Selaindari bantuan tersebut, secara selektif diberikan pula bantuan keserasian yangdidasarkan pada besarnya potensi gotong royong yang ada pada masyarakat desa.Jumlah bantuan desa ini terus meningkat dari Rp 100.000 per desa dalam RepelitaI menjadi Rp 200.000 pada tahun 1974-1975 dan menjadi Rp 300.000 per desauntuk tahun anggaran 1975-1976. Dengan semakin meningkatnya jumlah bantuanini semakain penting bagi pemimpin desa untuk mengikuti pedoman pengawasan, pelaksanaan dan pelaporan proyek sehingga bantuan ini dapat dimanfaatkansebaik mungkin. Bila ditelaah lebih lanjutnya, adanya Repelita tersebut menimbulkan sebuah hasilyang sebagian besar mengarah pada sisi positif. Meski demikian, adanya sebuah pembangunan memiliki sisi lain pula yakni sisi dari segi dampak yang bersifat negatif. Meski adanya dampak negatif ini tidak terlihat pada Repelita I dampak inidapat dilihat dari adanya dana atau anggaran yang dihabiskan demi berlangsungnya Repelita.
menurut anda kebijakan apa yang paling berdampak di pedesaan masa repelita !
Repelita atau Rencana Pembangunan Lima Tahun adalah satuan perencanaan yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru di Indonesia yang dilaksanakan selama 30 tahun masa jabatan Soeharto. Program ini menerapkan pembangunan terpusat untuk ekonomi makro yang ada di Indonesia.
Kebijakan yang paling berdampak pada pedesaan adalah masa Repelita I. Kurun waktu berlangsungnya REPELITA I adalah antara tahun 1969 hingga tahun 1976, tepatnya semenjak dimulainya Kabinet Pembangunan I pada tanggal 6 Juni 1968 hingga tanggal 28 Maret 1973. Fokus kerja yang ditetapkan dalam REPELITA I adalah persiapan pembangunan kebutuhan dasar kehidupan masyarakat industrial. Persiapan tersebut adalah kebutuhan pertanian dan infrastruktur.
Dampak Repelita I Terhadap Pedesaan
• Dalam bidang pertanian, Repelita I memberikan dampak positif. Denganmeningkatnya sebagian besar hasil pertanian beras naik rata-rata 4% setahun, produksi kayu khususnya kayu rimba naik ratarata 37,4% setahun. Selain perkembnagan yang semakin membaik di bidang pertanian, terdapat pula perkembangan yang kurang menggembirakan di bidang produksi umbi-umbian,kelapa, kopi, teh, dan kapas (Poesponegoro dan Notosusanto, 2008:580).
• Pada sektor perikanan memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan.Eksporikan, terutama udang, naik rata-rata 62% setahun. Dengan membaiknyaiklim ekonomi di Indonesia menjadikan para penanam modal dalam negeridan penanam modal asing tertarik untuk menanamkan modalnya. Untuk sektor produksi industri terjadi peningkatan, antara lain produksi semen mengalamikenaikan sebesar 51 % Industri tekstil mengalami kemajuan. Benang tenunmeningkat dari 177.000 bal menjadi 316.247 bal. Sedangkan bahan tekstilmeningkat dari 449,8 juta menjadi 920 juta meter. Pembangunan kesehatandilakukan dengan membangun sarana kesehatan, jumlah Balai Kesejahteraan Ibudan Anak (BKIA) dalam tahun 1973 meningkat menjadi 6801 buah.
Jumlah puskesmas meningkat dari 1227 buah dalam 1969 menjadi 2343 buah dalamtahun 1973 ( Poesponegoro dan Notosusanto, 2008:580-582).
• Besarnya bantuan Pembangunan Desa selama Repelita I adalah Rp 100.000 tiap-tiap desa. Disamping bantuan Rp 100.000 per desa, kepada pemenang lomba desa,desa yang tergolong minus dan kritis diberikan bantuan tambahan khusus. Selaindari bantuan tersebut, secara selektif diberikan pula bantuan keserasian yangdidasarkan pada besarnya potensi gotong royong yang ada pada masyarakat desa.Jumlah bantuan desa ini terus meningkat dari Rp 100.000 per desa dalam RepelitaI menjadi Rp 200.000 pada tahun 1974-1975 dan menjadi Rp 300.000 per desauntuk tahun anggaran 1975-1976. Dengan semakin meningkatnya jumlah bantuanini semakain penting bagi pemimpin desa untuk mengikuti pedoman pengawasan, pelaksanaan dan pelaporan proyek sehingga bantuan ini dapat dimanfaatkansebaik mungkin. Bila ditelaah lebih lanjutnya, adanya Repelita tersebut menimbulkan sebuah hasilyang sebagian besar mengarah pada sisi positif. Meski demikian, adanya sebuah pembangunan memiliki sisi lain pula yakni sisi dari segi dampak yang bersifat negatif. Meski adanya dampak negatif ini tidak terlihat pada Repelita I dampak inidapat dilihat dari adanya dana atau anggaran yang dihabiskan demi berlangsungnya Repelita.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Perkenalkan saya Adhani Mayvera dengan NPM 2053033008, Izin untuk menjawab pertanyaan yang telah tersedia diforum diskusi.
Kebijak yang berdampak di pedesaan pada masa repelita yaitu pembangunan sentralistik, dimana dalam repelita I penekanan pemerintah berada pada bidang pertanian dan pembangunan infrastruktur. Langkah ini dinilai berhasil untuk mengangkat tingkat kemakmuran masyarakat desa. Dilihat dari rincian yang disarikan dalam pemikiran dan permasalahan ekonomi di Indonesia dalam setenagh abad terkakhir , 1966-1982 hasil fisik yang dicapai selama repelita I meliputi perbaikan 1.600 km jalan dan tidak kurang dari 380 ribu hektar rehabilitasi sawah dan pencapaian ini mampu untuk mengurangi angka pengangguran hingga lebih dari 1,4 juta orang setiap tahunnya.
Selama lima tahun program repelita I dijalankan, sasaran pembangunan paling besar adalah wilayah pedesaan. Selain membangun jalan, waduk, saluran irigasi dan rehabilitasi sawah, pemerintahan Soeharto memberikan dana bantuan pembanggunan sebesar 100 ribu disetiap desanya..
Sekian terima kasih, mohon maaf apabila terdapat kesalahan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kebijak yang berdampak di pedesaan pada masa repelita yaitu pembangunan sentralistik, dimana dalam repelita I penekanan pemerintah berada pada bidang pertanian dan pembangunan infrastruktur. Langkah ini dinilai berhasil untuk mengangkat tingkat kemakmuran masyarakat desa. Dilihat dari rincian yang disarikan dalam pemikiran dan permasalahan ekonomi di Indonesia dalam setenagh abad terkakhir , 1966-1982 hasil fisik yang dicapai selama repelita I meliputi perbaikan 1.600 km jalan dan tidak kurang dari 380 ribu hektar rehabilitasi sawah dan pencapaian ini mampu untuk mengurangi angka pengangguran hingga lebih dari 1,4 juta orang setiap tahunnya.
Selama lima tahun program repelita I dijalankan, sasaran pembangunan paling besar adalah wilayah pedesaan. Selain membangun jalan, waduk, saluran irigasi dan rehabilitasi sawah, pemerintahan Soeharto memberikan dana bantuan pembanggunan sebesar 100 ribu disetiap desanya..
Sekian terima kasih, mohon maaf apabila terdapat kesalahan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh sebelumnya izin memperkenalkan diri nama saya Ferdy Nurfajri NPM 2053033013 izin menjawab forum diskusi yang telah bapak berikan.
Dalam Repelita I penekanan pemerintah berada pada bidang pertanian dan pembangunan infrastruktur. Langkah ini dinilai berhasil mengangkat tingkat kemakmuran masyarakat desa. Menurut rincian yang disarikan dalam Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir, 1966-1982 (2005: 387), hasil fisik yang dicapai selama Repelita I meliputi perbaikan 1.600 kilometer jalan dan tidak kurang dari 380 ribu hektare rehabilitasi sawah. Pencapaian ini mampu mengurangi angka pengangguran hingga lebih dari 1,4 juta orang setiap tahun.
Menurut perhitungan Widjojo, peningkatan produksi di bidang pertanian-pangan mampu memberikan pengaruh besar pada langkah pertama Repelita. Melaluinya, harga pangan dalam negeri bisa distabilkan sehingga memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.
Selama lima tahun program-program Repelita I berjalan, sasaran pembangunan paling besar adalah wilayah perdesaan. Selain membangun jalan, waduk, saluran irigasi, dan rehabilitasi sawah, pemerintahan Soeharto memberikan dana bantuan pembangunan sebesar Rp100 ribu tiap desa. Agar pelaksanaan pembangunan berjalan seperti yang diharapkan, para pejabat desa diwajibkan mengikuti program pengawasan dan pelaporan proyek.
Sekian yang dapat saya sampaikan terimakasih wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dalam Repelita I penekanan pemerintah berada pada bidang pertanian dan pembangunan infrastruktur. Langkah ini dinilai berhasil mengangkat tingkat kemakmuran masyarakat desa. Menurut rincian yang disarikan dalam Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir, 1966-1982 (2005: 387), hasil fisik yang dicapai selama Repelita I meliputi perbaikan 1.600 kilometer jalan dan tidak kurang dari 380 ribu hektare rehabilitasi sawah. Pencapaian ini mampu mengurangi angka pengangguran hingga lebih dari 1,4 juta orang setiap tahun.
Menurut perhitungan Widjojo, peningkatan produksi di bidang pertanian-pangan mampu memberikan pengaruh besar pada langkah pertama Repelita. Melaluinya, harga pangan dalam negeri bisa distabilkan sehingga memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.
Selama lima tahun program-program Repelita I berjalan, sasaran pembangunan paling besar adalah wilayah perdesaan. Selain membangun jalan, waduk, saluran irigasi, dan rehabilitasi sawah, pemerintahan Soeharto memberikan dana bantuan pembangunan sebesar Rp100 ribu tiap desa. Agar pelaksanaan pembangunan berjalan seperti yang diharapkan, para pejabat desa diwajibkan mengikuti program pengawasan dan pelaporan proyek.
Sekian yang dapat saya sampaikan terimakasih wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Gumahdona Khoirunnisa dengan NPM 2053033011. Izin untuk menjawab pertanyaan yang telah Bapak berikan pada forum diskusi.
Menurut anda kebijakan apa yang paling berdampak di pedesaan masa repelita !
Repelita atau Rencana Pembangunan Lima Tahun adalah satuan perencanaan yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru di Indonesia yang dilaksanakan selama 30 tahun masa jabatan Soeharto. Program ini menerapkan pembangunan terpusat untuk ekonomi makro yang ada di Indonesia.
Salah satu kebijakan yang diterapkan yakni kebijakan dalam bidang Perekonomian. Salah satu tindakan pertama Soeharto setelah mengambil alih pimpinan negara adalah menugaskan tim penasihat ekonominya, yang terdiri atas kelima dosen FEUI, yaitu Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Mohammad Sadli, Soebroto, dan Emil Salim untuk menyusun suatu program stabilisasi dan rehabilitasi. Tujuan utama dari program ini adalah memulihkan stabilitas makro ekonmi dengan menghentikan hiperinflasi setinggi 600% yang telah berkecamuk pada akhir masa pemerintahan Soekarno. Alat kebijakan utama untuk menurunkan laju inflasi adalah anggaran berimbang (balance budget), artinya pengeluaran pemerintah dibatasi oleh penerimaan pemerintah. Kebijakan ini dicirikan oleh kebijakan perdagangan luar negeri dan kebijakan investasi asing yang bersifat lebih liberal itu artinya, pemerintah Indonesia mulai menerapkan kebijakan yang dapat menghapus atau mengurangi berbagai rintangan atas perdagangan luar negeri dan investasi asing.
Beberapa dampak dari adanya kebijakan pereknomian tersebut yakni:
1. Swasembada Beras
Sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1992, produksi padi sangat meningkat. Prestasi yang besar khususnya di sektor pertanian ini telah mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia dalam tahun 1970-an menjadi negara yang mencapai swasembada pangan sejak tahun 1984 dan kenyataan bahwa swasembada pangan yang tercapai pada tahun itu selanjutnya juga selama lima tahun terakhir sampai dengan tahun terakhir Repelita V tetap dapat dipertahankan.
2. Kesejahteraan Penduduk
Strategi yang mendahulukan pembangunan pertanian disertai dengan pemerataan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat, yang antara lain meliputi penyediaan kebutuhan pangan, peningkatan gizi, pemerataan pelayanan kesehatan, keluarga berencana, pendidikan dasar, air bersih, perumahan sederhana dan sebagainya. Strategi ini dilaksanakan secara konsekuen setiap Repelita. Dengan strategi inilah pemerintah telah berhasil mengurangi kemiskinan di Tanah Air. Hasilnya adalah sangat menurunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Pada tahun 1970-an ada 60 orang di antaranya yang hidup miskin dari setiap 100 orang penduduk.
3. Masyarakat Tinggal Landas
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa negara tinggal landas adalah negara industri. Negara industri dapat berkembang karena dia menguasai dan mampu memanfaatkan teknologi modern. Selanjutnya, penguasaan dan pemanfaatan teknologi modern dimungkinkan melalui pendidikan dan latihan yang tepat serta mampu menyediakan sumberdaya manusia dalam jumlah serta kualitas yang sesuai dengan keperluan pembangunan nasional.
Terlepas dari berbagai kontroversi tentang perjalanan rezim Orde Baru, namun harus diakui bahwa Orde Baru paling tidak telah meletakkan dasar-dasar perekonomian bagi rezim selanjutnya dan paling tidak memberikan pondasi bagi keberlangsungan program selanjutnya. Selain itu, kondisi sosial politik yang relatif stabil menjadi modal bagi tumbuhnya perekonomian secara baik.
Sekian, terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Menurut anda kebijakan apa yang paling berdampak di pedesaan masa repelita !
Repelita atau Rencana Pembangunan Lima Tahun adalah satuan perencanaan yang dibuat oleh pemerintah Orde Baru di Indonesia yang dilaksanakan selama 30 tahun masa jabatan Soeharto. Program ini menerapkan pembangunan terpusat untuk ekonomi makro yang ada di Indonesia.
Salah satu kebijakan yang diterapkan yakni kebijakan dalam bidang Perekonomian. Salah satu tindakan pertama Soeharto setelah mengambil alih pimpinan negara adalah menugaskan tim penasihat ekonominya, yang terdiri atas kelima dosen FEUI, yaitu Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Mohammad Sadli, Soebroto, dan Emil Salim untuk menyusun suatu program stabilisasi dan rehabilitasi. Tujuan utama dari program ini adalah memulihkan stabilitas makro ekonmi dengan menghentikan hiperinflasi setinggi 600% yang telah berkecamuk pada akhir masa pemerintahan Soekarno. Alat kebijakan utama untuk menurunkan laju inflasi adalah anggaran berimbang (balance budget), artinya pengeluaran pemerintah dibatasi oleh penerimaan pemerintah. Kebijakan ini dicirikan oleh kebijakan perdagangan luar negeri dan kebijakan investasi asing yang bersifat lebih liberal itu artinya, pemerintah Indonesia mulai menerapkan kebijakan yang dapat menghapus atau mengurangi berbagai rintangan atas perdagangan luar negeri dan investasi asing.
Beberapa dampak dari adanya kebijakan pereknomian tersebut yakni:
1. Swasembada Beras
Sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1992, produksi padi sangat meningkat. Prestasi yang besar khususnya di sektor pertanian ini telah mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia dalam tahun 1970-an menjadi negara yang mencapai swasembada pangan sejak tahun 1984 dan kenyataan bahwa swasembada pangan yang tercapai pada tahun itu selanjutnya juga selama lima tahun terakhir sampai dengan tahun terakhir Repelita V tetap dapat dipertahankan.
2. Kesejahteraan Penduduk
Strategi yang mendahulukan pembangunan pertanian disertai dengan pemerataan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat, yang antara lain meliputi penyediaan kebutuhan pangan, peningkatan gizi, pemerataan pelayanan kesehatan, keluarga berencana, pendidikan dasar, air bersih, perumahan sederhana dan sebagainya. Strategi ini dilaksanakan secara konsekuen setiap Repelita. Dengan strategi inilah pemerintah telah berhasil mengurangi kemiskinan di Tanah Air. Hasilnya adalah sangat menurunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Pada tahun 1970-an ada 60 orang di antaranya yang hidup miskin dari setiap 100 orang penduduk.
3. Masyarakat Tinggal Landas
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa negara tinggal landas adalah negara industri. Negara industri dapat berkembang karena dia menguasai dan mampu memanfaatkan teknologi modern. Selanjutnya, penguasaan dan pemanfaatan teknologi modern dimungkinkan melalui pendidikan dan latihan yang tepat serta mampu menyediakan sumberdaya manusia dalam jumlah serta kualitas yang sesuai dengan keperluan pembangunan nasional.
Terlepas dari berbagai kontroversi tentang perjalanan rezim Orde Baru, namun harus diakui bahwa Orde Baru paling tidak telah meletakkan dasar-dasar perekonomian bagi rezim selanjutnya dan paling tidak memberikan pondasi bagi keberlangsungan program selanjutnya. Selain itu, kondisi sosial politik yang relatif stabil menjadi modal bagi tumbuhnya perekonomian secara baik.
Sekian, terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan nama saya Ruri Rismawati npm 2053033004, izin menyampaikan pendapat.
Pembangunan Sentralistik
Repelita dirintis di bawah arahan Widjojo Nitisastro, saat artsitek utama ekonomi Orde Baru itu tengah memimpin Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di tahun 1967. Selama kurang lebih satu tahun, pokok-pokok pikiran Repelita terus disempurnakan oleh Widjojo melalui berbagai pertemuan dan sidang. Dia berpendapat proses pembangunan memerlukan waktu yang lama sehingga setiap tahapnya memerlukan perencanaan yang saksama.
Dalam Repelita I penekanan pemerintah berada pada bidang pertanian dan pembangunan infrastruktur. Langkah ini dinilai berhasil mengangkat tingkat kemakmuran masyarakat desa. Menurut rincian yang disarikan dalam Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir, 1966-1982 (2005: 387), hasil fisik yang dicapai selama Repelita I meliputi perbaikan 1.600 kilometer jalan dan tidak kurang dari 380 ribu hektare rehabilitasi sawah. Pencapaian ini mampu mengurangi angka pengangguran hingga lebih dari 1,4 juta orang setiap tahun. Menurut perhitungan Widjojo, peningkatan produksi di bidang pertanian-pangan mampu memberikan pengaruh besar pada langkah pertama Repelita. Melaluinya, harga pangan dalam negeri bisa distabilkan sehingga memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.
Secara garis besar, Repelita I disusun menggunakan pendekatan realistis dan pragmatis. Sebagaimana diuraikan dalam lampiran Surat Keputusan Presiden No. 319 Tahun 1968 tentang Repelita I bahwa sasaran pembangunan yang hendak dicapai meliputi “pangan, sandang, perbaikan prasarana, perumahan rakjat, perluasaan lapangan pekerdjaan dan kesedjahteraan rochani.” Selama lima tahun program-program Repelita I berjalan, sasaran pembangunan paling besar adalah wilayah perdesaan. Selain membangun jalan, waduk, saluran irigasi, dan rehabilitasi sawah, pemerintahan Soeharto memberikan dana bantuan pembangunan sebesar Rp100 ribu tiap desa. Agar pelaksanaan pembangunan berjalan seperti yang diharapkan, para pejabat desa diwajibkan mengikuti program pengawasan dan pelaporan proyek.
Itu saja yang dapat saya sampaikan, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pembangunan Sentralistik
Repelita dirintis di bawah arahan Widjojo Nitisastro, saat artsitek utama ekonomi Orde Baru itu tengah memimpin Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di tahun 1967. Selama kurang lebih satu tahun, pokok-pokok pikiran Repelita terus disempurnakan oleh Widjojo melalui berbagai pertemuan dan sidang. Dia berpendapat proses pembangunan memerlukan waktu yang lama sehingga setiap tahapnya memerlukan perencanaan yang saksama.
Dalam Repelita I penekanan pemerintah berada pada bidang pertanian dan pembangunan infrastruktur. Langkah ini dinilai berhasil mengangkat tingkat kemakmuran masyarakat desa. Menurut rincian yang disarikan dalam Pemikiran dan Permasalahan Ekonomi di Indonesia dalam Setengah Abad Terakhir, 1966-1982 (2005: 387), hasil fisik yang dicapai selama Repelita I meliputi perbaikan 1.600 kilometer jalan dan tidak kurang dari 380 ribu hektare rehabilitasi sawah. Pencapaian ini mampu mengurangi angka pengangguran hingga lebih dari 1,4 juta orang setiap tahun. Menurut perhitungan Widjojo, peningkatan produksi di bidang pertanian-pangan mampu memberikan pengaruh besar pada langkah pertama Repelita. Melaluinya, harga pangan dalam negeri bisa distabilkan sehingga memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi di masa mendatang.
Secara garis besar, Repelita I disusun menggunakan pendekatan realistis dan pragmatis. Sebagaimana diuraikan dalam lampiran Surat Keputusan Presiden No. 319 Tahun 1968 tentang Repelita I bahwa sasaran pembangunan yang hendak dicapai meliputi “pangan, sandang, perbaikan prasarana, perumahan rakjat, perluasaan lapangan pekerdjaan dan kesedjahteraan rochani.” Selama lima tahun program-program Repelita I berjalan, sasaran pembangunan paling besar adalah wilayah perdesaan. Selain membangun jalan, waduk, saluran irigasi, dan rehabilitasi sawah, pemerintahan Soeharto memberikan dana bantuan pembangunan sebesar Rp100 ribu tiap desa. Agar pelaksanaan pembangunan berjalan seperti yang diharapkan, para pejabat desa diwajibkan mengikuti program pengawasan dan pelaporan proyek.
Itu saja yang dapat saya sampaikan, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Monica Agustia Wiwit Rahayu dengan NPM 2053033007. Izin untuk menjawab pertanyaan yang Bapak berikan.
Sejak permulaan pemerintahan Orde Baru di Indonesia, peranan birokrasi Pemerintah dalam pelayanan publik telah berkembang dengan sangat pesat. Pengeluaran pemerintah untuk sektor-sektor pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, perumahan dan perhubungan telah meningkat dari Rp. 414,3 milyar pada Pelita I menjadi Rp. 12.244,6 milyar dalam harga konstan tahun 1969 pada Pelita IV, suatu peningkatan sebesar hampir 30 kali.
1. Swasembada Beras
Sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1992, produksi padi sangat meningkat. Prestasi yang besar khususnya di sektor pertanian ini telah mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia dalam tahun 1970-an menjadi negara yang mencapai swasembada pangan sejak tahun 1984 dan kenyataan bahwa swasembada pangan yang tercapai pada tahun itu selanjutnya juga selama lima tahun terakhir sampai dengan tahun terakhir Repelita V
tetap dapat dipertahankan.
2. Kesejahteraan Penduduk
Strategi yang mendahulukan pembangunan pertanian disertai dengan pemerataan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat, yang antara lain meliputi penyediaan kebutuhan pangan, peningkatan gizi, pemerataan pelayanan kesehatan, keluarga berencana, pendidikan.
3. Masyarakat Tinggal Landas
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa negara tinggal landas adalah negara industri. Negara industri dapat berkembang karena dia menguasai dan mampu memanfaatkan teknologi modern.
Sekian terimakasih, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sejak permulaan pemerintahan Orde Baru di Indonesia, peranan birokrasi Pemerintah dalam pelayanan publik telah berkembang dengan sangat pesat. Pengeluaran pemerintah untuk sektor-sektor pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, perumahan dan perhubungan telah meningkat dari Rp. 414,3 milyar pada Pelita I menjadi Rp. 12.244,6 milyar dalam harga konstan tahun 1969 pada Pelita IV, suatu peningkatan sebesar hampir 30 kali.
1. Swasembada Beras
Sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1992, produksi padi sangat meningkat. Prestasi yang besar khususnya di sektor pertanian ini telah mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar di dunia dalam tahun 1970-an menjadi negara yang mencapai swasembada pangan sejak tahun 1984 dan kenyataan bahwa swasembada pangan yang tercapai pada tahun itu selanjutnya juga selama lima tahun terakhir sampai dengan tahun terakhir Repelita V
tetap dapat dipertahankan.
2. Kesejahteraan Penduduk
Strategi yang mendahulukan pembangunan pertanian disertai dengan pemerataan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar rakyat, yang antara lain meliputi penyediaan kebutuhan pangan, peningkatan gizi, pemerataan pelayanan kesehatan, keluarga berencana, pendidikan.
3. Masyarakat Tinggal Landas
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa negara tinggal landas adalah negara industri. Negara industri dapat berkembang karena dia menguasai dan mampu memanfaatkan teknologi modern.
Sekian terimakasih, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.