Perkembangan Pedesaan Pasca Nasionalisasi Perusahaan Asing

Diskusi

Diskusi

oleh Yusuf Perdana -
Jumlah balasan: 9

MEnurut anda hal apa yang dirasakan masyarakat pedesaan atas nasionalisasi perusahaan asing !

Sebagai balasan Yusuf Perdana

Re: Diskusi

oleh Rifki Ardiansyah -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Rifki Ardiansyah NPM 2053033006. Izin menjawab pertanyaan yang bapak berikan tentang apa yang dirasakan masyarakat pedesaan atas nasionalisasi perusahaan asing.

Diberlakukannya nasionalisasi berpengaruh secara langsung pada sektor perekonomian. Perusahaan-perusahaan yang diambil alih merupakan perusahaan-perusahaan besar yang memegang kendali penting dalam perekonomian Indonesia. The Big Five misalnya, merupakan perusahaan yang memegang peran penting dalam sektor produksi barang-barang konsumsi dan juga sektor ekspor-impor. Sejalan dengan proses nasionalisasi sistem pemerintahan di Indonesia mengalami babak baru, yaitu sistem presidensiil. Pada masa ini perekonomian Indonesia secara keseluruhan dapat dikatakan mengalami kemunduran. Indikator kemerosotan ekonomi dapat dilihat dari adanya inflasi yang cukup tinggi pada awal tahun 1960. Terjadi penurunan nilai uang karena jumlah uang yang beredar di masyarakat tidak terkendali.

Ada beberapa masalah yang bersifat mendesak terkait dengan diberlakukannya nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia. Pertama, keluarnya pemilik modal. Bahkan sebelum berlangsungnya proses pengambilalihan ternyata sebagian pengusaha asing telah meninggalkan Indonesia. Kedua, problem keuangan. Keluarnya pemilik modal berarti keluarnya kapital. Hal ini juga berdampak pada transaksi bank karena yang berhak melakukan transaksi adalah administratur Belanda. Ketiga, masalah pembenahan administrasi. Pada perusahaan-perusahaan yang baru diambil alih, secara tiba-tiba ditinggalkan oleh tenaga administrasi yang biasanya menguasai proses produksi. Oleh karena itu, masalah tenaga-tenaga yang terampil merupakan masalah utama pada masa-masa awal kepemilikan perusahaan oleh pemerintah RI. Tidak dapat dipungkiri bahwa setelah pabrik gula dinasionalisasi, pabrik-pabrik tersebut kehilangan tenaga ahli yang mayoritas merupakan orang-orang Belanda. Keempat, masalah pasar. Akibat adanya nasionalisasi perusahaan asing adalah terjadinya ketegangan hubungan diplomatik antara Indonesia dengan pemerintah Belanda.

Sejak dari tahun 1957 sampai tahun 1960 tercatat sebanyak 700-an perusahaan Belanda di Indonesia berhasil dinasionalisasi. Jumlah tersebut meliputi 70% perusahaan asing, kepemilikan 90% produksi perkebunan beralih ke tangan pemerintah Indonesia. Demikian juga dengan 60% nilai perdagangan luar negeri dan sekitar 246 pabrik, perusahaan pertambangan, bank-bank, perkapalan, dan sektor jasa.


Sekian terimakasih, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebagai balasan Yusuf Perdana

Re: Diskusi

oleh Adhani Mayvera -
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Adhani Mayvera dengan NPM 2053033008, izin untuk menjawab pertanyaan yang tersedia di forum.

Sejak dari tahun 1957 sampai tahun 1960 tercatat sebanyak 700-an perusahaan Belanda di Indonesia berhasil dinasionalisasi. Nasionalisasi perusahaan asing yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia tentu saja berdampak pada berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat, baik dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial.
1. Dampak dalam Bidang Politik
Pelaksanaan nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia ternyata juga menimbulkan gejolak di kalangan pemimpin-pemimpin Indonesia. Ada sebagian tokoh nasional yang menyayangkan tindakan nasionalisasi, antara lain Mohammad Hatta dan Syafruddin Prawiranegara. Kedua tokoh nasional tersebut tidak setuju dengan nasionalisasi karena berpikir bahwa kondisi Indonesia pada saat itu belum cukup kuat untuk membangun perekonomian jika harus mengambilalih perusahaan milik orang-orang Belanda. Pengambilalihan justru akan membuat kemajuan ekonomi nasional terhambat, karena Indonesia masih kekurangan tenaga-tenaga ahli yang dapat mengelola perusahaan-perusahaan Belanda tersebut. Selain itu jaringan perdagangan Indonesia ke luar negeri juga masih dikuasai oleh para pengusaha Belanda.

2. Dalam Bidang Ekonomi
Diberlakukannya nasionalisasi berpengaruh secara langsung pada sektor perekonomian. Perusahaan-perusahaan yang diambil alih merupakan perusahaan-perusahaan besar yang memegang kendali penting dalam perekonomian Indonesia. The Big Five misalnya, merupakan perusahaan yang memegang peran penting dalam sektor produksi barang-barang konsumsi dan juga sektor ekspor-impor. Sejalan dengan proses nasionalisasi sistem pemerintahan di Indonesia mengalami babak baru, yaitu sistem presidensiil. Pada masa ini perekonomian Indonesia secara keseluruhan dapat dikatakan mengalami kemunduran.25 Indikator kemerosotan ekonomi dapat
dilihat dari adanya inflasi yang cukup tinggi pada awal tahun 1960. Terjadi penurunan nilai uang karena jumlah uang yang beredar di masyarakat tidak terkendali.

3. Bidang sosial
Para pekerja pribumi pada awalnya merupakan pekerja-pekerja yang berasal dari tingkat bawah. Setelah adanya nasionalisasi mereka kemudian turut menjalankan laju pabrik dengan menjadi bagian dari manajemen pabrik, termasuk sebagai pimpinannya. Pada umumnya mereka merupakan lulusan dari College Gula Negara (CGN). Bidang-bidang pekerjaan lain di industri gula yang biasanya dipegang oleh orang-orang Belanda adalah sebagai Chemiccal.

Sekian, mohon maaf jika terdapaat kesalahan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sebagai balasan Yusuf Perdana

Re: Diskusi

oleh ALIFIAN FARIDZ RAMADHAN -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin memperkenalkan diri nama saya Alifian Faridz Ramadhan Npm 2053033001 izin menyampaikan pendapat mengenai menurut anda hal apa yang dirasakan masyarakat pedesaan atas nasionalisasi perusahaan asing?

Sejak dari tahun 1957 sampai tahun 1960 tercatat sebanyak 700-an perusahaan Belanda di Indonesia berhasil dinasionalisasi. Jumlah tersebut meliputi 70% perusahaan asing, kepemilikan 90% produksi perkebunan beralih ke tangan pemerintah Indonesia. Demikian juga dengan 60% nilai perdagangan luar negeri dan sekitar 246 pabrik, perusahaan pertambangan, bank-bank, perkapalan, dan sektor jasa.
Contoh pedesaan pasca nasionalisasi perusahaan asing yaitu di wilayah Jawa Timur misalnya muncul ketidakstabilan politik di dalam negeri sehingga menyebabkan ketegangan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Dilain sisi sejak tahun 1967 tingkat konsumsi gula di dalam negeri meningkat, dengan ada pemberontakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah ditakutkan akan menggangu hasil produksi. Lain hal di daerah Aceh khususnya Aceh Tamiang pada tahun 1976 baru tercapai Nasionalisasi dimana tertinggal jauh dengan perusahaan asing yang sudah di nasionalisasikan pada tahun 1960-an. Hal tersebut karena pasca kemerdekaan Belanda masih berperan besar dalam perusahaan tersebut yang masih ikut serta dalam hal produksi getah karet. Setelah tahun 1976, Belanda baru benar-benar melepaskan industri tersebut. Setelah itu Teuku Jalil (orang kepercayaan Belanda) mengganti perkebunan karet menjadi tanaman kelapa sawit. Di karenakan pada saat itu, sawit sedang naik di pasaran. Dan sekitar tahun 1981 barulah berkembang hasil bagi pedesaan di Aceh Tamiang.

Demikian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf apabila terdapat kesalahan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebagai balasan Yusuf Perdana

Re: Diskusi

oleh Fefi Yunia Amalia Sari -
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Fefi Yunia Amalia Sari dengan NPM 2053033010. Izin untuk menjawab pertanyaan yang Bapak berikan.

Menurut anda hal apa yang dirasakan masyarakat pedesaan atas nasionalisasi perusahaan asing !

Nasionalisasi perusahan asing adalah proses pengambil alihan kepemilikan perusahaan swasta, khususnya perusahaan modal asing, yang biasanya diikuti dengan ganti rugi atau kompensasi yang diberikan oleh Pemerintah kepada pemilik modal. Perusahaan-perusahaan yang diambil alih merupakan perusahaan-perusahaan besar yang memegang kendali penting dalam perekonomian Indonesia.

Pada masa ini perekonomian Indonesia secara keseluruhan dapat dikatakan mengalami kemunduran. Indikator kemerosotan ekonomi dapat dilihat dari adanya inflasi yang cukup tinggi pada awal tahun 1960. Terjadi penurunan nilai uang karena jumlah uang yang beredar di masyarakat tidak terkendali. Hal ini juga berdampak pada transaksi bank karena yang berhak melakukan transaksi adalah administratur Belanda. Ketiga, masalah pembenahan administrasi. Pada perusahaan-perusahaan yang baru diambil alih, secara tiba-tiba ditinggalkan oleh tenaga administrasi yang biasanya menguasai proses produksi. Oleh karena itu, masalah tenaga-tenaga yang terampil merupakan masalah utama pada masa-masa awal kepemilikan perusahaan oleh pemerintah RI.

Begitu juga berdampak ada beberapa bidang:
a. Bidang sosial
Para pekerja pribumi pada awalnya merupakan pekerja-pekerja yang berasal dari tingkat bawah. Setelah adanya nasionalisasi mereka kemudian turut menjalankan laju pabrik dengan menjadi bagian dari manajemen pabrik, termasuk sebagai pimpinannya.
b. Bidang Ekonomi
Diberlakukannya nasionalisasi berpengaruh secara langsung pada sektor perekonomian. Perusahaan-perusahaan yang diambil alih merupakan perusahaan-perusahaan besar yang memegang kendali penting dalam perekonomian Indonesia. The Big Five misalnya, merupakan perusahaan yang memegang peran penting dalam sektor produksi barang-barang konsumsi dan juga sektor ekspor-impor.
c. Bidang Politik
Pengambilalihan justru akan membuat kemajuan ekonomi nasional terhambat, karena Indonesia masih kekurangan tenaga-tenaga ahli yang dapat mengelola perusahaan-perusahaan Belanda tersebut. Selain itu jaringan perdagangan Indonesia ke luar negeri juga masih dikuasai oleh para pengusaha Belanda.

Tidak dapat dipungkiri bahwa setelah pabrik gula dinasionalisasi, pabrik-pabrik tersebut kehilangan tenaga ahli yang mayoritas merupakan orang-orang Belanda. Keempat, masalah pasar. Akibat adanya nasionalisasi perusahaan asing adalah terjadinya ketegangan hubungan diplomatik antara Indonesia dengan pemerintah Belanda.

Sekian, terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Sebagai balasan Yusuf Perdana

Re: Diskusi

oleh Raisya Aulia -
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Raisya Aulia dengan NPM 2053033009. Izin untuk menjawab pertanyaan yang Bapak berikan.

Menurut anda hal apa yang dirasakan masyarakat pedesaan atas nasionalisasi perusahaan asing !


Nasionalisasi perusahan asing adalah proses pengambil alihan kepemilikan perusahaan swasta, khususnya perusahaan modal asing, yang biasanya diikuti dengan ganti rugi atau kompensasi yang diberikan oleh Pemerintah kepada pemilik modal. 

Pelaksanaan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing Belanda di Indonesia pertama kali berjalan untuk mengambil alih 38 perusahaan tembakau yang dimiliki oleh beberapa perusahaan besar seperti NV Verenigde Deli Mij, NV Sanembah Mij, NV Veregnig de Klatensfche Cultuur, dll. Dilanjutkan dengan mengambil alih 205 perusahaan perkebunan lainnya.

Dalam hal ini, terjadi masalah mendesak akibat pemberlakuan nasionalisasi ini bagi masyarakat,  yaitu:

• Keluarnya pemilik modal. Bahkan ada beberapa pemodal yang meninggalkan Indonesia sebelum berlangsungnya pengambilahilan. Sehingga terjadi kesulitan dalam pengelolaan awal, contohnya adalah perusahaan Panarukan Maatschappij. Pemilik saham terbesar, yaitu George Birnie telah meninggalkan Indonesia sebelum perusahaan ekspornya diambil alih.

• Terjadi problem keuangan. Keluarnya pemodal membawa dampak yang cukup berkepanjangan. Beberapa administrasi, khususnya administrasi bank terhambat. Karena yang berhak untuk melakukannya adalah pihak administrator Belanda. Seharusnya, sebelum dilakukan ambilalih dilakukan pemindahan pertanggungjawaban dari pihak Belanda ke pihak Indonesia.

• Terjadi masalah pembenahan administrasi. Setelah perusahaan asing diambilalih oleh pihak Indonesia, banyak tenaga administrasi, khususnya tenaga ahli meninggalkan Indonesia. Mereka yang mayoritas merupakan orang Belanda, adalah orang yang berperan pokok dalam proses produksi dalam perusahaan. Hal ini diperparah dengan culture shock yang dialami dalma perusahaan. Pekerja Belanda memiliki tingkat disiplin yang tinggi, sehingga merek adapat melakukan proses produksi secara mumpuni dan memenuhi target kualitas. Akan tetapi, tenaga milik Indonesia tidak memiliki tingkat kedisiplinan yang sama seperti milik Belanda. Akhirnya, terjadi penurunan kualitas pada pekerja dan barang yang diproduksi

• Dampak nasionalisai perusahan asing dalam bidang sosial yang utama adalah perubahan status pada diri pekerja. Dahulunya, pekerja dibagi menjadi dua. Yaitu pegawai dan buruh. Pegawai adalah pekerja yang memiliki pendapatan cukup besar, bekerja di kantor, dan mayoritas terdiri dari orang Belanda. Sedangkan buruh adalah pekerja pribumi dari tingkat bawah, yang umumnya bekerja di lapangan. 

Setelah dilakukan nasionalisasi,  status pekerja dibagi menjadi dua. Yaitu karyawan satu dan karyawan dua. Pekerja dibedakan menjadi dua golongan besar, yaitu karyawan satu dan karyawan dua. Karyawan satu adalah staff, sedangkan karyawan dua adalah mereka yang bekerja di lingkungan produksi. Pada masa ini, pribumi juga turut berperan dalam manajemen pabrik. Sedangkan orang-orang Belanda hanya berperan sebagai chemical. Penerapan status seperti ini kebanyakan dipakai pada pabrik gula.

Perubahan cukup besar juga terlihat dalam perusahaan kereta api. Pada akhir abad ke-19, hampir keseluruhan posisi dalam perusahaan dipegang oleh orang Eropa. Penduduk pribumi  hanya berperan sebagai pemindah jalur kereta, penjual karcis, dan minoritas sebagai masinis. Namun sejak tahun 1914, posisi masinis, kondektur, dan kepala stasiun juru tulis berasal dari Indonesia. Orang Eropa hanya berperan sebagai pengawas. Hingga setelah terjadinya nasionalisasi, para pegawai Belanda digantikan oleh orang Indonesia.
Sebagai balasan Yusuf Perdana

Re: Diskusi

oleh Ferdy Nurfajri -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh sebelumnya izin memperkenalkan diri nama saya Ferdy Nurfajri NPM 2053033013 izin menjawab forum diskusi yang telah bapak berikan.

Diberlakukannya nasionalisasi berpengaruh secara langsung pada sektor perekonomian. Perusahaan-perusahaan yang diambil alih merupakan perusahaan-perusahaan besar yang memegang kendali penting dalam perekonomian Indonesia. The Big Five misalnya, merupakan perusahaan yang memegang peran penting dalam sektor produksi barang-barang konsumsi dan juga sektor ekspor-impor. Sejalan dengan proses nasionalisasi sistem pemerintahan di Indonesia mengalami babak baru, yaitu sistem presidensiil. Pada masa ini perekonomian Indonesia secara keseluruhan dapat dikatakan mengalami kemunduran. Indikator kemerosotan ekonomi dapat dilihat dari adanya inflasi yang cukup tinggi pada awal tahun 1960. Terjadi penurunan nilai uang karena jumlah uang yang beredar di masyarakat tidak terkendali.

Setelah dilakukan nasionalisasi, status pekerja dibagi menjadi dua. Yaitu karyawan satu dan karyawan dua. Pekerja dibedakan menjadi dua golongan besar, yaitu karyawan satu dan karyawan dua. Karyawan satu adalah staff, sedangkan karyawan dua adalah mereka yang bekerja di lingkungan produksi. Pada masa ini, pribumi juga turut berperan dalam manajemen pabrik. Sedangkan orang-orang Belanda hanya berperan sebagai chemical. Penerapan status seperti ini kebanyakan dipakai pada pabrik gula.

Sekian yang dapat saya sampaikan terimakasih wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebagai balasan Yusuf Perdana

Re: Diskusi

oleh Gumahdona Khoirunnisa -
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Gumahdona Khoirunnisa dengan NPM 2053033011, izin untuk menjawab pertanyaan yang tersedia di forum.

Sejak dari tahun 1957 sampai tahun 1960 tercatat sebanyak 700-an perusahaan Belanda di Indonesia berhasil dinasionalisasi. Nasionalisasi perusahaan asing yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia tentu saja berdampak pada berbagai aspek kehidupan dalam masyarakat, baik dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial.
1. Dampak dalam Bidang Politik
Pelaksanaan nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia ternyata juga menimbulkan gejolak di kalangan pemimpin-pemimpin Indonesia. Ada sebagian tokoh nasional yang menyayangkan tindakan nasionalisasi, antara lain Mohammad Hatta dan Syafruddin Prawiranegara. Kedua tokoh nasional tersebut tidak setuju dengan nasionalisasi karena berpikir bahwa kondisi Indonesia pada saat itu belum cukup kuat untuk membangun perekonomian jika harus mengambilalih perusahaan milik orang-orang Belanda. Pengambilalihan justru akan membuat kemajuan ekonomi nasional terhambat, karena Indonesia masih kekurangan tenaga-tenaga ahli yang dapat mengelola perusahaan-perusahaan Belanda tersebut. Selain itu jaringan perdagangan Indonesia ke luar negeri juga masih dikuasai oleh para pengusaha Belanda.

2. Dalam Bidang Ekonomi
Diberlakukannya nasionalisasi berpengaruh secara langsung pada sektor perekonomian. Perusahaan-perusahaan yang diambil alih merupakan perusahaan-perusahaan besar yang memegang kendali penting dalam perekonomian Indonesia. The Big Five misalnya, merupakan perusahaan yang memegang peran penting dalam sektor produksi barang-barang konsumsi dan juga sektor ekspor-impor. Sejalan dengan proses nasionalisasi sistem pemerintahan di Indonesia mengalami babak baru, yaitu sistem presidensiil. Pada masa ini perekonomian Indonesia secara keseluruhan dapat dikatakan mengalami kemunduran.25 Indikator kemerosotan ekonomi dapat
dilihat dari adanya inflasi yang cukup tinggi pada awal tahun 1960. Terjadi penurunan nilai uang karena jumlah uang yang beredar di masyarakat tidak terkendali.

3. Bidang sosial
Para pekerja pribumi pada awalnya merupakan pekerja-pekerja yang berasal dari tingkat bawah. Setelah adanya nasionalisasi mereka kemudian turut menjalankan laju pabrik dengan menjadi bagian dari manajemen pabrik, termasuk sebagai pimpinannya. Pada umumnya mereka merupakan lulusan dari College Gula Negara (CGN). Bidang-bidang pekerjaan lain di industri gula yang biasanya dipegang oleh orang-orang Belanda adalah sebagai Chemiccal.

Sekian, terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sebagai balasan Yusuf Perdana

Re: Diskusi

oleh Ruri Rismawati -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, perkenalkan nama saya Ruri Rismawati npm 2053033004, izin menyampaikan pendapat.

Nasionalisasi perusahaan -perusahaan asing merupakan antiklimaks dari konflik-konflik politik antara Indonesia dan Belanda di satu pihak dan perdebatan pemikiran
ekonomi di antara pendiri bangsa. Pilihan terakhirnya adalah nasionalisasi. Nasionalisasi dipandang sebagai cara untuk menegakkan harga diri bangsa, dan menunjukkan kemandirian ekonomi.
Proses nasionalisasi ternyata menimbulkan konsekuensi secara hukum dan ekonomi yang luar biasa. Persoalan ganti rugi akibat pengambilalihan aset perusahaan asing tersebut menjadi perusahaan milik pemerintah Indonesia. Setelah terbentuk Badan Nasionalisasi baru dirasakan bahwa dana yang diperlukan untuk ganti rugi sangatlah besar, pada hal banyak diantara perusahaan tersebut yang nilai ekonominya sudah tidak sepadan dengan ganti rugi yang harus diberikan. Akibatnya pada tahun 1960-an muncul wacana untuk tidak membayar ganti rugi dari perusahaanperusahaan yang dinasionalisasi tersebut. Wacana itu didengungkan terutama dari partai-partai politik pendukung Sukarno, taruhlah PNI dan PKI.
Pembangkangan terhadap ganti rugi akibat nasionalisasi tersebut di satu sisi telah melahirkan semangat anti asing paad era tahun 1960-an. Meskipun berakibat terjadinya kekacauan politik pada tahun 1965 yang menandai perubahan politik dari Sukarno Suharto. Suharto memandang dengan cara berbeda tentang konsep nasionalisasi. Sebagai bangsa yang punya harga diri, hutang-hutang akibat nasionalisasi harus dibayar. Akibatnya selama puluhan tahun era pemerintahan Suharto, dana pinjaman Indonesia sebagian digunakan untuk talangan ganti rugi nasionalisasi tersebut dan diperkirakan hutang kepada perusahaan-perusahaan Belanda baru lunas pada tahun 2002.
Sebagian besar perusahaanperusahaan yang dinasionalisasi tersebut sekarang sebagian besar berada di bawah Kementerian BUMN. Sayang sekali banyak di antara aset hasil nasionalisasi tersebut yang berkurang akibat salah manajemen atau dengan sengaja dijual kepada pihak asing dengan dalih investasi.

Itu saja yang dapat saya sampaikan, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebagai balasan Yusuf Perdana

Re: Diskusi

oleh Monica Agustia Wiwit Rahayu -
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, perkenalkan saya Monica Agustia Wiwit Rahayu dengan NPM 2053033007. Izin untuk menjawab pertanyaan yang Bapak berikan.

perekonomian Indonesia secara keseluruhan dapat dikatakan mengalami kemunduran. Indikator kemerosotan ekonomi dapat dilihat dari adanya inflasi yang cukup tinggi pada awal tahun 1960. Terjadi penurunan nilai uang karena jumlah uang yang beredar di masyarakat tidak terkendali. Hal ini juga berdampak pada transaksi bank karena yang berhak melakukan transaksi adalah administratur Belanda. Ketiga, masalah pembenahan administrasi. Pada perusahaan-perusahaan yang baru diambil alih, secara tiba-tiba ditinggalkan oleh tenaga administrasi yang biasanya menguasai proses produksi. Oleh karena itu, masalah tenaga-tenaga yang terampil merupakan masalah utama pada masa-masa awal kepemilikan perusahaan oleh pemerintah RI.

Dampak dalam Bidang Politik
Pelaksanaan nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia ternyata juga menimbulkan gejolak di kalangan pemimpin-pemimpin Indonesia. Ada sebagian tokoh nasional yang menyayangkan tindakan nasionalisasi, antara lain Mohammad Hatta dan Syafruddin Prawiranegara. sedangkan dampak pada bidang ekonomi adalah Perusahaan-perusahaan yang diambil alih merupakan perusahaan-perusahaan besar yang memegang kendali penting dalam perekonomian Indonesia.

Sekian terimakasih, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.