sebutkan beberapa hal penting dan krusial yang dilakukan oleh militer indonesia pada saat agresi militer belanda I dan II !
Saya Shinta Julia npm 1853033002 izin menanggapi
Beberapa hal penting dan krusial yang dilakukan oleh militer Indonesia pada saat agresi militer Belanda I dan II yaitu :
1. Memberikan pemahaman pada rakyat mengenai sikap yang harus mereka ambil saat terjadi pembersihan. Dimana aksi gerilya yang dilakukan oleh pasukan TNI memancing terjadinya pembersihan yang dilakukan oleh pihak Belanda yang akan berpengaruh terhadap keselamatan rakyat di wilayah yang terkena pembersihan.
2. Menyiapkan strategi yang digunakan dalam melakukan perlawanan dengan Belanda yaitu upaya diplomasi dengan menggunakan strategi gerilya, yang bersifat non kooperasi dan bumi hangus. Strategi gerilya yang bersifat bumi hangus dilakukan dengan menghancurkan objek-objek vital yang dapat dimanfaatkan Belanda. Militer Indonesia menggunakan pertahanan rakyat semesta atau pertahanan rakyat total. Seluruh masyarakat dari berbagai kalangan ikut berjuang melawan Belanda sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Beberapa laskar ikut terlibat dalam perlawanan pasukan Indonesia terhadap pasukan Belanda. Ketepatan strategi yang digunakan pihak RI membuat pasukan TNI dapat mengungguli pasukan Belanda, meskipun kekuatan pihak Belanda lebih besar dibandingkan dengan TNI.
3. Pada 19 Desember 1948 TNI menggunakan strategi pertahanan linier dengan menempatkan pasukan di perbatasan musuh atau garis terdepan. Hal ini dilakukan untuk menyikapi serangan Belanda yang melakukan letusan bom pertama dari sebelah timur kota Yogyakarta, tepatnya di Wonocatur dan Maguwo.
4. TNI melakukan serangan umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta yang menyebabkan penguasaan kota Yogyakarta yang dilakukan oleh Belanda akhirnya dapat tergoyahkan. Serangan yang dilakukan pasukan pimpinan kolonel Soeharto ini berhasil menduduki kota Yogyakarta walau hanya 6 jam saja. Dukungan kepada pasukan TNI pun diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ia juga melakukan penolakan segala kerjasama dengan pemerintah Belanda.
Terimakasih
Beberapa hal penting dan krusial yang dilakukan oleh militer Indonesia pada saat agresi militer Belanda I dan II yaitu :
1. Memberikan pemahaman pada rakyat mengenai sikap yang harus mereka ambil saat terjadi pembersihan. Dimana aksi gerilya yang dilakukan oleh pasukan TNI memancing terjadinya pembersihan yang dilakukan oleh pihak Belanda yang akan berpengaruh terhadap keselamatan rakyat di wilayah yang terkena pembersihan.
2. Menyiapkan strategi yang digunakan dalam melakukan perlawanan dengan Belanda yaitu upaya diplomasi dengan menggunakan strategi gerilya, yang bersifat non kooperasi dan bumi hangus. Strategi gerilya yang bersifat bumi hangus dilakukan dengan menghancurkan objek-objek vital yang dapat dimanfaatkan Belanda. Militer Indonesia menggunakan pertahanan rakyat semesta atau pertahanan rakyat total. Seluruh masyarakat dari berbagai kalangan ikut berjuang melawan Belanda sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Beberapa laskar ikut terlibat dalam perlawanan pasukan Indonesia terhadap pasukan Belanda. Ketepatan strategi yang digunakan pihak RI membuat pasukan TNI dapat mengungguli pasukan Belanda, meskipun kekuatan pihak Belanda lebih besar dibandingkan dengan TNI.
3. Pada 19 Desember 1948 TNI menggunakan strategi pertahanan linier dengan menempatkan pasukan di perbatasan musuh atau garis terdepan. Hal ini dilakukan untuk menyikapi serangan Belanda yang melakukan letusan bom pertama dari sebelah timur kota Yogyakarta, tepatnya di Wonocatur dan Maguwo.
4. TNI melakukan serangan umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta yang menyebabkan penguasaan kota Yogyakarta yang dilakukan oleh Belanda akhirnya dapat tergoyahkan. Serangan yang dilakukan pasukan pimpinan kolonel Soeharto ini berhasil menduduki kota Yogyakarta walau hanya 6 jam saja. Dukungan kepada pasukan TNI pun diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, ia juga melakukan penolakan segala kerjasama dengan pemerintah Belanda.
Terimakasih
Nama : Bunga Nurlatifah
NPM : 1853033003
Hal penting dan krusial yang dilakukan militer Indonesia saat agresi militer yaitu:
1. Soedirman melakukan perjalanan gerilya selama 8 bulan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dan Kembali ke Yogyakarta tanggal 10 Juli 1949.
2. Kolonel A.H Nasution selaku panglima tentara dan teritorium Jawa Menyusun rencana pertahanan rakyat totaliter dan dikenal sebagai Perintah Siasat No 1 (isinya: pasukan menyusup ke belakang garis musuh dan membentuk kantong gerilya sehingga seluruh pulau jawa menjadi medan gerilya yang luas). Salah satu pasukannya akhirnya melakukan wingate, yaitu pasukan siliwangi dan perjalanan ini dinamakan Long March Siliwangi.
3. Setelah adanya persetujuan Renville, Divisi-divisi TNI di Sumatra, tanpa kecuali diharuskan menarik mundur pasukan dari garis pertahanan disekitar kota-kota. Mereka terpaksa bertahan dikantong-kantong pertahanan daerah pedalaman sambil melancarkan serangan Gerilya
4. Serangan umum 1 Maret Yogyakarta, dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng, bertujuan untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI masih ada dan cukup kuat dengan harapan memperkuat posisi di perundingan denganDewan Keamanan PBB
NPM : 1853033003
Hal penting dan krusial yang dilakukan militer Indonesia saat agresi militer yaitu:
1. Soedirman melakukan perjalanan gerilya selama 8 bulan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dan Kembali ke Yogyakarta tanggal 10 Juli 1949.
2. Kolonel A.H Nasution selaku panglima tentara dan teritorium Jawa Menyusun rencana pertahanan rakyat totaliter dan dikenal sebagai Perintah Siasat No 1 (isinya: pasukan menyusup ke belakang garis musuh dan membentuk kantong gerilya sehingga seluruh pulau jawa menjadi medan gerilya yang luas). Salah satu pasukannya akhirnya melakukan wingate, yaitu pasukan siliwangi dan perjalanan ini dinamakan Long March Siliwangi.
3. Setelah adanya persetujuan Renville, Divisi-divisi TNI di Sumatra, tanpa kecuali diharuskan menarik mundur pasukan dari garis pertahanan disekitar kota-kota. Mereka terpaksa bertahan dikantong-kantong pertahanan daerah pedalaman sambil melancarkan serangan Gerilya
4. Serangan umum 1 Maret Yogyakarta, dipersiapkan oleh jajaran tertinggi militer di wilayah Divisi III/GM III dengan mengikutsertakan pimpinan pemerintah sipil setempat berdasarkan instruksi dari Panglima Divisi III, Kol. Bambang Sugeng, bertujuan untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI masih ada dan cukup kuat dengan harapan memperkuat posisi di perundingan denganDewan Keamanan PBB