Perubahan pada lingkungan, seperti deforestasi, fragmentasi habitat, urbanisasi, dan perubahan iklim, memiliki pengaruh mendalam terhadap dinamika populasi satwa liar di ekosistem terestrial. Faktor-faktor ini menyebabkan penurunan luas habitat yang tersedia, sehingga membatasi akses terhadap sumber pakan, air, dan tempat berkembang biak, yang pada akhirnya menurunkan tingkat reproduksi, kelangsungan hidup anak, dan keragaman genetik akibat isolasi subpopulasi. Selain itu, perubahan pola curah hujan dan suhu akibat pemanasan global mengganggu siklus fenologi tanaman seperti pembungaan dan berbuah yang menjadi makanan utama satwa herbivora, sehingga memicu kelaparan massal dan migrasi paksa ke area yang tidak sesuai. Konflik dengan aktivitas manusia juga meningkat, karena satwa terdesak masuk ke lahan pertanian atau permukiman, mempercepat penurunan populasi melalui perburuan balasan atau kecelakaan. Sebagai contoh kasus nyata, populasi gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) di hutan Sumatra telah menyusut dari sekitar 5.000 ekor pada 1980-an menjadi kurang dari 1.700 ekor saat ini, terutama akibat deforestasi untuk perkebunan sawit yang menghancurkan 70% habitatnya, memaksa gajah merusak tanaman padi dan kelapa sawit, yang mengakibatkan ratusan kasus konflik manusia-satwa per tahun serta peningkatan perburuan ilegal. Tanpa intervensi konservasi seperti pembangunan koridor hijau dan pengurangan emisi karbon, ancaman ini berpotensi menyebabkan kepunahan lokal berbagai spesies endemik dalam satu dekade ke depan, merusak keanekaragaman hayati secara permanen.