Diskusi Pertemuan 12

keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd. -
Number of replies: 14

1. .  Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL) di seluruh ruang kelas yang berpusat pada tema bersama, meskipun dengan berbagai tingkat kompleksitas (misalnya: poster kreatif versus sistem penyaringan air). Melakukan analisis untuk menentukan signifikansi diferensiasi ini dalam tingkat kompleksitas untuk mempromosikan pemikiran kreatif di kelas PKR. Implikasi apa yang akan muncul jika pendidik menugaskan tugas dengan tingkat kesulitan yang identik kepada siswa kelas bawah dan kelas atas di bawah tema terpadu?

2. Menganalisis bagaimana aspek “keterbatasan” yang melekat dalam struktur PKR dapat diubah menjadi keunggulan pedagogis (manfaat untuk pembelajaran) dibandingkan dengan kelas tunggal tradisional di mana pengawasan guru yang konstan hadir. Selain itu, gabungkan analisis potensi risiko yang mungkin muncul jika kemandirian tersebut tidak dibudidayakan dalam lingkungan kelas yang kondusif.


In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by DEVITA SARI -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perkenalkan pak, saya :
Nama : Devitasari
NPM : 231053039
Kelas : 6b

1. Perbedaan tingkat kesulitan dalam PJBL itu sangat penting supaya pembelajaran tetap sesuai dengan kemampuan siswa di setiap tingkat kelas. Misalnya, ketika temanya sama tentang air bersih, siswa kelas bawah bisa diminta membuat poster sederhana yang menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan air, sedangkan siswa kelas atas bisa diberi tugas yang lebih kompleks seperti merancang alat penyaring air atau menganalisis penyebab pencemaran. Dengan cara ini, semua siswa tetap terlibat dalam tema yang sama, tetapi proses berpikirnya disesuaikan dengan kemampuan mereka. Hal ini juga mendorong kreativitas, karena siswa diberi ruang untuk bereksplorasi sesuai levelnya. Jika tugas yang diberikan sama tingkat kesulitannya untuk semua siswa, maka akan muncul ketidakseimbangan. Siswa kelas bawah bisa merasa kesulitan, bingung, bahkan kehilangan motivasi karena tugas terlalu berat. Sebaliknya, siswa kelas atas bisa merasa kurang tertantang sehingga tidak berkembang secara maksimal. Akibatnya, proses belajar menjadi tidak efektif dan tujuan pembelajaran tidak tercapai dengan optimal.

2. Keterbatasan dalam PKR, seperti waktu guru yang terbagi dan kondisi kelas yang heterogen, sebenarnya bisa menjadi keunggulan jika dimanfaatkan dengan baik. Dalam kondisi ini, siswa tidak bisa terus bergantung pada guru, sehingga mereka terdorong untuk belajar mandiri, berdiskusi dengan teman, dan mencari solusi sendiri ketika menghadapi kesulitan. Hal ini membantu mengembangkan keterampilan penting seperti kerja sama, tanggung jawab, dan kemampuan berpikir mandiri. Selain itu, interaksi antar siswa juga menjadi lebih aktif, karena mereka saling membantu dan belajar satu sama lain. Namun, jika kemandirian ini tidak dibimbing dengan baik, bisa muncul beberapa risiko. Misalnya, siswa bisa salah memahami materi, tidak fokus dalam belajar, atau hanya mengikuti teman tanpa benar-benar mengerti. Oleh karena itu, meskipun siswa diberi ruang untuk mandiri, guru tetap perlu memberikan arahan yang jelas, memantau proses belajar, dan memberikan umpan balik agar pembelajaran tetap terarah dan berjalan dengan baik.

Sekiann jawaban dari sya pak, terimakasih
Wassalamualaikum wrahmatullahi wabarakatuh
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Dinda Lailatus Sa'adah -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
perkenalkan
Nama: Dinda Lailatus Sa'adah
NPM: 2313053062
Kelas: 6B
Izin menjawab diskusi tersebut:

1. Menurut saya, diferensiasi tingkat kompleksitas dalam Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL) sangat penting untuk mendorong pemikiran kreatif di kelas PKR. Dengan tema yang sama tetapi tingkat kesulitan berbeda, setiap siswa dapat belajar sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya. Siswa kelas bawah bisa mengekspresikan ide melalui tugas yang lebih sederhana seperti poster, sementara siswa kelas atas dapat mengembangkan pemikiran kritis melalui proyek yang lebih kompleks seperti merancang sistem penyaringan air. Pendekatan ini membuat semua siswa tetap terlibat tanpa merasa terlalu terbebani atau justru bosan. Jika guru memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang sama untuk semua jenjang, kemungkinan besar akan muncul ketimpangan: siswa yang lebih muda bisa kesulitan dan kehilangan motivasi, sedangkan siswa yang lebih tua merasa kurang tertantang. Akibatnya, tujuan pembelajaran dan pengembangan kreativitas tidak tercapai secara optimal.

2. Menurut saya, keterbatasan dalam struktur PKR, seperti terbatasnya perhatian guru, justru bisa menjadi keunggulan pedagogis jika dikelola dengan baik. Kondisi ini mendorong siswa untuk lebih mandiri, bertanggung jawab, dan aktif dalam proses belajar, berbeda dengan kelas tradisional yang cenderung bergantung pada arahan guru secara terus-menerus. Siswa belajar mengatur waktu, bekerja sama, dan memecahkan masalah secara mandiri maupun kelompok. Namun, jika kemandirian ini tidak dibina dalam lingkungan yang terarah dan kondusif, ada risiko seperti siswa menjadi bingung, kurang fokus, atau bahkan tidak mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, tetap diperlukan struktur, panduan yang jelas, serta pengawasan yang terarah agar kemandirian tersebut berkembang secara positif dan tidak menimbulkan dampak negatif.

sekian terima kasih Pak,
Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Intania Alda -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Izin memperkenalkan diri

Nama: Intania Alda
NPM: 2313053040
Kelas: 6B

Izin menjawab diskusi tersebut:

1. Dalam pembelajaran berbasis proyek (PJBL) pada kelas PKR, perbedaan tingkat kompleksitas tugas sangat penting untuk mendorong kreativitas siswa sesuai dengan tahap perkembangan dan kemampuan mereka. Misalnya, siswa kelas bawah dapat membuat poster sederhana, sedangkan siswa kelas atas merancang proyek yang lebih rumit seperti sistem penyaringan air. Meskipun tema yang digunakan sama, tingkat kesulitan yang berbeda memungkinkan setiap siswa tetap tertantang dan mampu mengembangkan ide kreatif sesuai kapasitasnya. Jika guru memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang sama kepada semua jenjang, maka siswa kelas bawah dapat merasa kesulitan dan kehilangan motivasi, sementara siswa kelas atas mungkin merasa kurang tertantang. Akibatnya, proses belajar menjadi kurang efektif karena kebutuhan dan kemampuan siswa tidak diperhatikan secara seimbang.

2. Keterbatasan dalam struktur PKR, seperti terbatasnya waktu guru untuk mendampingi setiap kelompok, sebenarnya dapat menjadi keunggulan pedagogis karena mendorong siswa belajar lebih mandiri dan aktif. Dalam kondisi tersebut, siswa terbiasa bekerja sama, memecahkan masalah, serta mencari informasi tanpa selalu bergantung pada guru. Hal ini berbeda dengan kelas tunggal tradisional yang cenderung lebih bergantung pada pengawasan langsung guru. PKR justru dapat membantu membentuk tanggung jawab, keterampilan sosial, dan kemampuan belajar mandiri yang penting bagi perkembangan siswa. Namun, jika kemandirian ini tidak dibangun dalam lingkungan yang mendukung, risiko yang muncul adalah siswa menjadi bingung, kurang terarah, atau bahkan tidak terlibat dalam pembelajaran. Oleh karena itu, guru tetap perlu menciptakan suasana kelas yang terstruktur, memberikan arahan yang jelas, dan memastikan adanya dukungan agar kemandirian siswa berkembang secara positif.

Sekian terimakasih bapak
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Tina Selviani -
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Perkenalkan, saya:

Nama : Tina Selviani
Kelas : 6B
NPM : 2313053052

Berikut jawaban saya terkait soal diskusi mengenai Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR).

1. Menurut saya, diferensiasi tingkat kompleksitas dalam model Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL) sangat penting untuk mendorong pemikiran kreatif siswa di kelas PKR. Walaupun tema pembelajaran sama, tingkat kesulitan proyek harus disesuaikan dengan usia, kemampuan berpikir, dan tingkat perkembangan siswa. Misalnya, siswa kelas bawah membuat poster kreatif tentang lingkungan, sedangkan siswa kelas atas membuat sistem penyaringan air sederhana. Perbedaan kompleksitas ini membantu setiap siswa belajar sesuai kapasitasnya tanpa merasa terlalu mudah maupun terlalu sulit. Dengan demikian, kreativitas siswa dapat berkembang secara optimal karena mereka mampu mengeksplorasi ide sesuai kemampuan masing-masing.

Jika guru memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang sama kepada siswa kelas bawah dan kelas atas, maka dapat muncul beberapa masalah. Siswa kelas bawah mungkin akan merasa kesulitan, kehilangan motivasi, dan tidak percaya diri karena tugas terlalu berat bagi mereka. Sebaliknya, siswa kelas atas dapat merasa kurang tertantang apabila tugas terlalu sederhana. Akibatnya, tujuan pembelajaran dan pengembangan kreativitas tidak tercapai secara maksimal. Oleh karena itu, diferensiasi tugas menjadi hal penting dalam PKR agar semua siswa tetap aktif, termotivasi, dan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kreatif sesuai tingkat perkembangannya.

2. Dalam struktur PKR, keterbatasan seperti terbatasnya perhatian guru justru dapat diubah menjadi keunggulan pedagogis. Karena guru harus membagi fokus pada beberapa kelas sekaligus, siswa menjadi lebih mandiri, bertanggung jawab, dan terbiasa mengatur proses belajar mereka sendiri. Kondisi ini berbeda dengan kelas tunggal tradisional yang cenderung memiliki pengawasan guru secara terus-menerus. Dalam PKR, siswa lebih terdorong untuk berdiskusi, bekerja sama, mencari informasi sendiri, serta mengambil inisiatif dalam menyelesaikan tugas. Situasi tersebut dapat membantu mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti komunikasi, kolaborasi, berpikir kritis, dan pemecahan masalah.

Namun, kemandirian tersebut juga memiliki potensi risiko apabila tidak dibudidayakan dalam lingkungan kelas yang kondusif. Jika guru tidak memberikan arahan yang jelas, aturan kelas yang baik, atau dukungan yang cukup, siswa dapat kehilangan fokus dan menggunakan waktu belajar secara tidak efektif. Selain itu, siswa yang kurang siap belajar mandiri mungkin mengalami kebingungan, kurang disiplin, atau bahkan tertinggal dalam memahami materi. Oleh karena itu, walaupun PKR dapat melatih kemandirian siswa, guru tetap memiliki peran penting sebagai fasilitator yang menciptakan suasana belajar yang terarah, nyaman, dan mendukung perkembangan siswa secara optimal.

Demikian jawaban diskusi yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Nia Cahyani -
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Izin memperkenalkan diri pak.
Nama : Nia Cahyani
Kelas : 6B
NPM : 2313053060

Izin menjawab pertanyaan tersebut pak.
  1. Diferensiasi tingkat kompleksitas dalam PJBL sangat penting untuk mendorong kreativitas siswa di kelas PKR karena setiap tingkat kelas memiliki kemampuan berpikir dan pengalaman belajar yang berbeda. Dengan tema yang sama tetapi tugas yang disesuaikan, siswa kelas bawah dapat tetap berpartisipasi melalui proyek sederhana seperti membuat poster, sedangkan siswa kelas atas dapat mengerjakan proyek yang lebih kompleks seperti merancang sistem penyaringan air. Pendekatan ini membuat semua siswa tertantang sesuai kemampuannya dan tetap kreatif dalam menyelesaikan tugas. Jika guru memberikan tingkat kesulitan yang sama kepada semua siswa, maka siswa kelas bawah dapat merasa kesulitan dan kehilangan motivasi, sementara siswa kelas atas mungkin merasa kurang tertantang sehingga proses belajar menjadi kurang efektif.
  2. Keterbatasan dalam struktur PKR, seperti terbatasnya perhatian guru karena harus mengajar beberapa tingkat kelas sekaligus, dapat menjadi keunggulan pedagogis karena mendorong siswa belajar lebih mandiri, aktif, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri. Siswa menjadi terbiasa bekerja sama, memecahkan masalah, dan mencari informasi tanpa selalu menunggu bantuan guru. Hal ini justru membantu mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis. Namun, jika kemandirian ini tidak dibangun dalam lingkungan yang kondusif dan terarah, risiko yang dapat muncul adalah siswa menjadi bingung, pasif, atau tidak fokus dalam belajar. Oleh karena itu, guru tetap perlu menyediakan arahan, struktur, dan dukungan yang cukup agar kemandirian siswa berkembang secara positif.

Sekian Terima Kasih Bapak, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Fitri Gautari -
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

izin memperkenalkan diri Pak,
Nama : Fitri Gautari
NPM : 2313053041
Kelas : 6B

izin menjawab diskusi di atas Pak,
1. Menurut pendapat saya, perbedaan tingkat kesulitan dalam PJBL itu penting karena kemampuan siswa tiap kelas tentu berbeda. Dengan tugas yang disesuaikan, semua siswa tetap bisa berpikir kreatif sesuai tahapnya masing-masing. Kalau tugasnya dibuat sama, siswa kelas bawah bisa merasa kesulitan, sedangkan siswa kelas atas jadi kurang tertantang.

2. Menurut saya, keterbatasan dalam PKR justru bisa melatih siswa menjadi lebih mandiri dan terbiasa bekerja sama tanpa selalu bergantung pada guru. Siswa jadi belajar aktif mencari solusi dan berdiskusi bersama. Tetapi kalau kemandirian itu tidak dibangun dengan baik, siswa bisa mudah bingung dan pembelajaran jadi kurang terarah.

Sekian terima kasih Bapak,
Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh.
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Adinda Mutiara Cantika -
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat malam bapak, izin memperkenalkan diri
Nama: Adinda Mutiara Cantika
Npm: 2313053063
Kelas: 6B

Izin menjawab diskusi,

1. Menurut saya, perbedaan tingkat kompleksitas tugas dalam PJBL sangat penting diterapkan pada kelas PKR agar kemampuan dan tahap perkembangan setiap siswa tetap diperhatikan. Walaupun tema yang digunakan sama, siswa kelas bawah dan kelas atas tentu memiliki kemampuan berpikir dan pemecahan masalah yang berbeda. Misalnya, siswa kelas bawah dapat membuat poster sederhana, sedangkan siswa kelas atas membuat proyek yang lebih kompleks seperti alat penyaringan air. Perbedaan ini dapat membantu semua siswa tetap kreatif sesuai tingkat kemampuannya. Jika guru memberikan tingkat kesulitan yang sama kepada semua siswa, maka siswa kelas bawah bisa merasa kesulitan dan kehilangan motivasi, sementara siswa kelas atas justru kurang tertantang sehingga kreativitas mereka tidak berkembang secara maksimal.

2. Menurut saya, keterbatasan dalam pembelajaran PKR justru dapat menjadi keunggulan pedagogis apabila dikelola dengan baik. Karena guru tidak selalu dapat mendampingi semua kelompok secara bersamaan, siswa menjadi lebih mandiri, terbiasa bekerja sama, dan belajar mengambil tanggung jawab terhadap tugasnya sendiri. Kondisi ini berbeda dengan kelas tunggal yang cenderung lebih bergantung pada arahan guru secara terus-menerus. Namun, jika kemandirian tersebut tidak dibangun dalam suasana kelas yang kondusif, dapat muncul beberapa risiko seperti siswa menjadi kurang terarah, tidak fokus belajar, atau hanya bergantung pada teman yang lebih aktif. Oleh karena itu, guru tetap perlu memberikan arahan, aturan, dan pengawasan yang seimbang agar kemandirian siswa berkembang secara positif.

Sekian jawaban saya, Terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Desta Dwi Pertiwi -
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Izin memperkenalkan diri pak.
Nama : Desta Dwi Pertiwi
Kelas : 6B
NPM : 2313053046

Izin menjawab pertanyaan tersebut pak.

  1. Menurut saya, perbedaan tingkat kompleksitas tugas dalam PJBL di kelas PKR itu penting untuk menyesuaikan kemampuan dan tahap perkembangan siswa. Misalnya, siswa kelas bawah membuat poster sederhana, sedangkan siswa kelas atas membuat proyek yang lebih kompleks seperti sistem penyaringan air. Walaupun temanya sama, tugas yang berbeda bisa tetap melatih kreativitas siswa sesuai kemampuan mereka masing-masing. Kalau semua siswa diberi tugas dengan tingkat kesulitan yang sama, siswa kelas bawah bisa merasa kesulitan dan kurang percaya diri, sedangkan siswa kelas atas justru bisa merasa tugasnya terlalu mudah dan kurang menantang. Jadi, diferensiasi tugas diperlukan supaya semua siswa tetap bisa berpikir kreatif dan aktif dalam pembelajaran.
  2. Menurut saya, keterbatasan dalam PKR justru bisa menjadi keunggulan dalam pembelajaran karena siswa jadi lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada guru. Saat guru harus membagi fokus ke beberapa kelas, siswa belajar mengatur waktu, bekerja sama, dan menyelesaikan tugas sendiri. Hal ini berbeda dengan kelas tradisional yang biasanya lebih banyak bergantung pada arahan guru secara terus-menerus. Namun, kalau kemandirian siswa tidak dibangun dalam suasana kelas yang baik, bisa muncul beberapa risiko, seperti siswa menjadi kurang fokus, tidak serius belajar, atau malah mengganggu teman lainnya. Karena itu, guru tetap perlu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif agar kemandirian siswa berkembang dengan positif.
Sekian terimakasih Bapak, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Latifah irsyadiyatul jannah -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perkenalkan pak, saya :
Nama : Latifah Irsyadiyatul Jannah
NPM : 2313053042
Kelas : 6B

1. Dalam pembelajaran berbasis proyek (PJBL) di kelas PKR, perbedaan tingkat kompleksitas tugas sangat penting untuk menumbuhkan kreativitas siswa sesuai usia dan kemampuan mereka. Misalnya, siswa kelas bawah dapat membuat poster sederhana, sedangkan siswa kelas atas mengerjakan proyek yang lebih rumit seperti sistem penyaringan udara. Dengan adanya perbedaan tingkat kesulitan, setiap siswa tetap merasa tertantang sesuai kemampuannya sehingga kreativitas dan kemampuan berpikir mereka dapat berkembang secara optimal. Jika guru memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang sama kepada semua siswa, maka siswa kelas bawah bisa merasa kesulitan dan kehilangan semangat belajar, sementara siswa kelas atas mungkin merasa kurang tertantang. Akibatnya, pembelajaran tidak berjalan efektif karena kebutuhan dan kemampuan siswa yang berbeda tidak diperhatikan dengan baik.

2. Keterbatasan dalam struktur PKR, seperti guru yang harus mengajar beberapa tingkat kelas sekaligus, sebenarnya dapat menjadi keunggulan dalam proses pembelajaran. Kondisi ini membuat siswa belajar lebih mandiri, bertanggung jawab, dan aktif mencari solusi tanpa selalu bergantung pada guru. Selain itu, siswa juga terbiasa bekerja sama, berdiskusi, dan membantu teman sehingga kemampuan komunikasi serta keterampilan sosial mereka berkembang lebih baik dibandingkan kelas tradisional yang selalu diawasi guru secara penuh. Namun, jika kemandirian tersebut tidak dibangun dalam lingkungan belajar yang kondusif, dapat muncul risiko seperti siswa menjadi bingung, kurang fokus, atau tidak memahami tugas dengan baik. Oleh karena itu, guru tetap perlu memberikan arahan, aturan, dan pendampingan yang jelas agar kemandirian siswa berkembang secara positif dan mendukung keberhasilan pembelajaran.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by DINI FADHILLA PUTRI -
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Izin memperkenalkan diri Bapak,
Nama : Dini Fadhilla Putri
Kelas : 6B
NPM : 2313043054

Izin menjawab Diskusi tersebut Bapak,

  1. Dalam pembelajaran PJBL di kelas PKR, perbedaan tingkat kesulitan proyek memiliki peran penting agar setiap siswa dapat berpikir kreatif sesuai usia dan kemampuan belajarnya. Siswa kelas rendah lebih cocok mengerjakan proyek sederhana yang menekankan imajinasi dan pengenalan konsep dasar, sedangkan siswa kelas tinggi dapat diberi proyek yang membutuhkan analisis dan pemecahan masalah. Melalui perbedaan tersebut, semua siswa tetap dapat terlibat aktif tanpa merasa terlalu terbebani atau terlalu mudah. Apabila guru memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang sama kepada seluruh siswa, maka pembelajaran dapat menjadi kurang efektif. Siswa kelas kecil kemungkinan mengalami kebingungan karena materi belum sesuai dengan kemampuan mereka, sementara siswa kelas besar dapat kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Akibatnya, kreativitas dan minat belajar siswa menjadi kurang berkembang secara optimal.

  2. Kondisi PKR yang memiliki keterbatasan guru sebenarnya dapat menciptakan suasana belajar yang lebih melatih kemandirian dibandingkan kelas biasa. Karena guru harus membagi perhatian ke beberapa kelompok, siswa terbiasa mengambil inisiatif sendiri dalam memahami tugas, bekerja sama dengan teman, dan menyelesaikan masalah tanpa selalu menunggu bantuan guru. Hal ini dapat membentuk sikap percaya diri, tanggung jawab, dan kemampuan mengatur belajar secara mandiri. Namun, jika kemandirian tersebut tidak dibangun dengan suasana kelas yang mendukung, maka dapat menimbulkan masalah dalam pembelajaran. Sebagian siswa mungkin merasa kurang diperhatikan, kehilangan motivasi, atau tidak serius dalam mengerjakan tugas. Oleh sebab itu, meskipun PKR memberikan kesempatan untuk melatih kemandirian, guru tetap perlu menciptakan aturan, arahan, dan pengawasan yang baik agar pembelajaran tetap berjalan efektif. 

Sekian jawaban yang dapat saya sampaikan. Terima Kasih..
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Desmara Afinda -
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat siang pak, izin memperkenalkan diri
Nama : Desmara Afinda
NPM : 2313053037
Kelas : 6B

Izin menjawab diskusi diatas pak
1. Menurut saya, perbedaan tingkat kesulitan tugas dalam PJBL sangat penting agar semua siswa bisa belajar sesuai kemampuan dan tingkat berpikir mereka. Siswa kelas bawah dapat membuat proyek yang lebih sederhana seperti poster atau gambar, sedangkan siswa kelas atas bisa membuat proyek yang lebih kompleks seperti alat sederhana atau percobaan. Walaupun temanya sama, tingkat kesulitan yang berbeda membantu siswa tetap kreatif dan merasa tertantang sesuai kemampuannya. Jika semua siswa diberi tugas dengan tingkat kesulitan yang sama, siswa kelas bawah bisa merasa kesulitan dan tidak percaya diri, sedangkan siswa kelas atas bisa merasa kurang tertantang dan mudah bosan.

2. Menurut saya, keterbatasan dalam PKR justru dapat menjadi kelebihan karena siswa belajar lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada guru. Saat guru mengajar kelas lain, siswa belajar bekerja sama, mencari informasi sendiri, dan menyelesaikan tugas bersama teman kelompoknya. Hal ini membuat siswa lebih aktif dibandingkan pembelajaran yang hanya menunggu arahan guru. Namun, jika kemandirian tersebut tidak dibangun dengan suasana belajar yang baik, siswa bisa menjadi bingung, tidak fokus, atau hanya bergantung pada teman yang lebih aktif. Oleh karena itu, guru tetap perlu memberikan arahan dan pengawasan agar proses belajar tetap berjalan dengan baik.

Sekian terima kasih
Wassalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Catur Putri Purnaningrum -
Assalamualaikum Wr. Wb.
Nama: Catur Putri P.
NPM: 2313053045
Kelas: 6B
Izin menjawab pak,

1. Menurut saya, perbedaan tingkat kompleksitas tugas dalam PJBL sangat penting di PKR karena kemampuan siswa tiap kelas berbeda. Misalnya, pada tema lingkungan, siswa kelas bawah membuat poster kebersihan, sedangkan kelas atas membuat rancangan alat penyaringan air sederhana. Walaupun temanya sama, tingkat berpikir dan tantangannya disesuaikan dengan usia dan kemampuan siswa. Hal ini dapat mendorong kreativitas karena setiap siswa tetap merasa tertantang sesuai levelnya. Jika guru memberi tugas dengan tingkat kesulitan yang sama untuk semua kelas, siswa kelas bawah bisa merasa kesulitan dan kehilangan motivasi, sedangkan siswa kelas atas mungkin merasa kurang tertantang. Akibatnya, tujuan pembelajaran dan pengembangan kreativitas menjadi kurang optimal.

2. Dalam PKR, keterbatasan seperti guru yang harus membagi perhatian ternyata bisa menjadi kelebihan pedagogis. Karena guru tidak selalu mendampingi secara langsung, siswa menjadi lebih mandiri, aktif berdiskusi, dan terbiasa mencari solusi sendiri. Dibanding kelas tunggal yang pengawasan gurunya lebih penuh, PKR justru bisa lebih melatih tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan belajar mandiri siswa. Namun, jika kemandirian ini tidak dibangun dalam suasana kelas yang kondusif, ada risiko siswa menjadi tidak terarah, pasif, atau bahkan mengganggu kelompok lain. Karena itu, guru tetap perlu membuat aturan, arahan, dan manajemen kelas yang jelas agar kemandirian siswa berkembang secara positif.

Sekian, terima kasih
Wassalamualaikum Wr. Wb.
In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Risty Najwa Syahbanu -
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Izin memperkenalkan diri pak.
Nama : Risty Najwa Syahbanu
Kelas : 6/B
NPM : 2313053053

Izin menjawab pertanyaan tersebut pak.
  1. Jika guru memberikan tugas dengan tingkat kesulitan yang sama kepada siswa kelas bawah dan kelas atas, maka pembelajaran bisa menjadi kurang efektif. Siswa kelas bawah mungkin merasa kesulitan, bingung, dan kehilangan percaya diri karena tugas terlalu berat bagi kemampuan mereka. Sebaliknya, siswa kelas atas dapat merasa bosan karena tugas terlalu mudah dan tidak menantang. Akibatnya, kreativitas dan semangat belajar siswa dapat menurun. Tujuan pembelajaran juga tidak tercapai dengan baik karena kebutuhan dan kemampuan setiap tingkatan kelas berbeda. Oleh karena itu, tugas perlu disesuaikan agar semua siswa tetap aktif, nyaman, dan termotivasi dalam belajar.
  2. Aspek keterbatasan dapat menjadi keunggulan pedagogis karena siswa dilatih untuk lebih mandiri, kreatif, dan aktif dalam belajar. Berbeda dengan kelas tradisional yang selalu bergantung pada pengawasan guru, siswa di PKR belajar mencari solusi sendiri, bekerja sama dengan teman, dan mengelola tugas secara mandiri. Kondisi ini membantu mengembangkan keterampilan seperti tanggung jawab, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah. Namun, jika kemandirian tidak dibangun dalam lingkungan yang kondusif, dapat muncul beberapa risiko. Siswa bisa menjadi bingung, kurang disiplin, atau kehilangan arah belajar karena minimnya pendampingan langsung dari guru. Siswa yang kurang percaya diri juga mungkin menjadi pasif dan tertinggal dalam pembelajaran. Oleh sebab itu, guru tetap perlu menciptakan suasana kelas yang teratur, mendukung, dan memberikan arahan yang jelas agar kemandirian siswa berkembang secara positif.

Sekian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada kesalahan.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

In reply to Yoga Fernando Rizqi.,M.Pd.

Re: keterampilan berpikir kreatif dalam Pembelajaran Kelas Ganda (PKR)

by Dwi Rahayu Sekarningrum -

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat malam bapak, izin memperkenalkan diri

Nama: Dwi Rahayu Sekarningrum
Npm: 2313053044
Kelas: 6B

Izin menjawab,

  1. Menurut saya, diferensiasi tingkat kompleksitas dalam PJBL merupakan hal yang penting karena kreativitas berkembang ketika siswa menghadapi tantangan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Tema yang sama dapat menciptakan pengalaman belajar bersama, tetapi tingkat kesulitan yang berbeda memastikan setiap siswa tetap berada pada zona belajar yang optimal. Jika tugas yang diberikan identik untuk semua jenjang, maka akan muncul ketimpangan: siswa kelas bawah berisiko mengalami cognitive overload, sementara siswa kelas atas tidak memperoleh tantangan yang cukup untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
  2. Keterbatasan dalam PKR tidak selalu menjadi hambatan, tetapi dapat menjadi sarana untuk membangun kemandirian belajar. Ketika guru tidak selalu hadir dalam setiap aktivitas kelompok, siswa dituntut untuk mengambil inisiatif, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghasilkan peserta didik yang lebih adaptif dibandingkan pembelajaran yang terlalu berpusat pada guru. Namun, kemandirian tidak muncul secara otomatis. Tanpa arahan, budaya belajar yang positif, dan dukungan yang memadai, keterbatasan tersebut justru dapat menyebabkan miskonsepsi, rendahnya partisipasi, dan ketergantungan pada siswa yang lebih dominan dalam kelompok.
Sekian, Terima Kasih
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.