1. Sistem budidaya ikan salmon menggunakan keramba jaring apung (KJA) di laut terbuka dianggap tidak berkelanjutan karena menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan dan ekosistem laut. Limbah pakan dan kotoran ikan langsung jatuh ke dasar laut tanpa pengolahan, menyebabkan pencemaran organik, penurunan kualitas air, dan gangguan keseimbangan ekosistem. Selain itu, sistem terbuka memungkinkan penyebaran penyakit dan parasit ke ikan liar di sekitar lokasi budidaya. Ikan hasil budidaya yang lepas ke alam juga dapat mengganggu keanekaragaman genetik populasi liar. Padatnya keramba di satu area memperburuk kondisi perairan dan menurunkan daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, sistem KJA di laut terbuka tidak sejalan dengan prinsip keberlanjutan karena merusak ekosistem laut dan tidak mendukung pengelolaan sumber daya secara berwawasan lingkungan.
2. Sistem budidaya ikan salmon dengan teknologi **Recirculating Aquaculture System (RAS)** dianggap lebih berkelanjutan dibandingkan dengan sistem **Keramba Jaring Apung (KJA)** di laut terbuka karena memiliki kemampuan untuk mengendalikan seluruh aspek lingkungan budidaya secara tertutup dan efisien. Dalam sistem RAS, air yang digunakan terus didaur ulang melalui proses filtrasi mekanik, biologis, dan kimia sehingga sekitar 95–99% air dapat digunakan kembali. Hal ini membuat konsumsi air menjadi sangat efisien sekaligus mengurangi limbah yang dibuang ke lingkungan. Berbeda dengan KJA yang membuang limbah pakan dan feses langsung ke laut, RAS memiliki sistem penanganan limbah padat yang baik sehingga sisa organik dapat diolah kembali menjadi bahan berguna seperti pupuk. Dengan demikian, pencemaran lingkungan akibat kegiatan budidaya dapat ditekan secara signifikan.
Selain itu, sistem RAS memberikan pengendalian penuh terhadap parameter lingkungan seperti suhu, pH, kadar oksigen terlarut, dan amonia, yang semuanya dapat diatur sesuai kebutuhan pertumbuhan ikan salmon. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang stabil, bebas dari fluktuasi cuaca, polusi laut, atau gangguan eksternal lainnya. Sebaliknya, sistem KJA sangat bergantung pada kondisi alam perairan, sehingga lebih rentan terhadap perubahan suhu, badai, dan pencemaran dari aktivitas manusia di laut. Pengendalian kualitas air yang optimal pada RAS juga mampu menurunkan tingkat stres dan kematian ikan, meningkatkan efisiensi pakan, serta mempercepat pertumbuhan ikan dibandingkan dengan sistem laut terbuka.
Dari sisi kesehatan ikan, RAS jauh lebih unggul karena sistem ini tertutup dan terisolasi dari lingkungan laut, sehingga ikan tidak terpapar penyakit dan parasit yang umum menyerang ikan di laut, seperti kutu laut (*sea lice*) dan virus anemia salmon. Dengan penerapan biosecurity yang ketat, risiko penularan penyakit antar populasi dapat dihindari, yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas dan kualitas ikan hasil budidaya. Sementara itu, budidaya di laut terbuka sering kali menjadi sumber penyebaran penyakit ke ikan liar dan dapat menimbulkan gangguan ekosistem di sekitar lokasi budidaya. Oleh karena itu, sistem RAS tidak hanya melindungi ikan budidaya tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian keanekaragaman hayati laut.
Keunggulan lain dari RAS adalah fleksibilitas lokasi dan efisiensi ruang. Karena dilakukan di darat dan tidak memerlukan laut atau perairan pesisir, sistem ini dapat dibangun di mana saja, termasuk di daerah perkotaan dekat pasar konsumen, sehingga mengurangi biaya distribusi dan tekanan terhadap ekosistem pesisir yang sudah padat aktivitas. Di sisi lain, sistem KJA membutuhkan area laut yang luas dan sering kali menimbulkan konflik ruang dengan sektor lain seperti pariwisata, transportasi laut, dan perikanan tangkap. Dengan sistem RAS, semua kegiatan produksi dapat dilakukan secara terpusat, higienis, dan mudah diawasi, serta mendukung transparansi dan ketertelusuran produk—dua aspek penting dalam sertifikasi keberlanjutan seperti **ASC (Aquaculture Stewardship Council)** dan **GlobalG.A.P.**
Secara keseluruhan, sistem RAS menawarkan solusi budidaya ikan salmon yang ramah lingkungan, efisien, dan adaptif terhadap tantangan perubahan iklim. RAS tidak tergantung pada kondisi laut, sehingga produksi ikan tetap stabil meskipun terjadi perubahan suhu laut, badai, atau pencemaran pesisir. Dengan dampak ekologis yang sangat kecil, efisiensi pakan dan air yang tinggi, serta pengendalian penuh terhadap kesehatan ikan, sistem ini menjadi pilihan utama dalam pengembangan akuakultur berkelanjutan masa depan. Sebaliknya, sistem KJA meskipun lebih murah secara awal, berisiko tinggi terhadap lingkungan, kesehatan ikan, dan keberlanjutan ekosistem laut. Oleh karena itu, secara ilmiah dan ekologis, sistem RAS dianggap jauh lebih berkelanjutan dan sesuai dengan prinsip **ekoaquaculture** yang menyeimbangkan antara produktivitas, ekonomi, dan kelestarian lingkungan.