Tugas Mandiri (1 Nop 25)

Tugas Mandiri (1 Nop 25)

Tugas Mandiri (1 Nop 25)

Number of replies: 9

1. deskripsikan 1 masalah ditempat anda mengajar/sekolah (kalau belum mengajar masalah bisa dari media masa/cetak), lalu berikan solusinya dengan desain dam model  pembelajaran IPS yang sesuai,

2. dikumpul paling lambat jam 13. 00 wib

In reply to First post

Re: Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by Ahmad Ridwan Syuhada -
Nama: Ahmad Ridwan Syuhada
NPM: 2523031008

Permasalahan ketimpangan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan di Indonesia sangat nyata dan menjadi tantangan utama pembangunan pendidikan nasional. Sekolah-sekolah di perkotaan umumnya memiliki fasilitas lebih lengkap, guru yang berkualitas, serta akses teknologi yang memadai, sementara di daerah pedesaan sering kekurangan ruang kelas, sarana belajar, hingga akses listrik dan internet. Selain itu, distribusi guru profesional yang tidak merata menyebabkan banyak sekolah pedesaan kekurangan tenaga pengajar berkualifikasi. Faktor ekonomi keluarga di pedesaan juga memperparah masalah, karena anak-anak terkadang harus membantu orang tua bekerja sehingga angka putus sekolah di pedesaan lebih tinggi daripada di perkotaan. Kondisi ini mengakibatkan ketidakmerataan kesempatan belajar dan kualitas pendidikan yang signifikan di Indonesia (Kompasiana, Abdullah Hakim, 2025)

Desain pembelajaran Kemp sangat cocok dipadukan dengan model pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) untuk menangani ketimpangan kualitas pendidikan di daerah pedesaan. Desain Kemp menekankan perencanaan pembelajaran yang komprehensif dan berkelanjutan, yang dimulai dari analisis kebutuhan dan karakteristik siswa, penetapan tujuan, pemilihan materi dan strategi pembelajaran, hingga evaluasi dan revisi. Fleksibilitas desain Kemp memungkinkan guru menyesuaikan konteks lokal dan karakteristik siswa di daerah pedesaan yang memerlukan perhatian khusus pada analisis kebutuhan dan penggunaan media pembelajaran yang relevan. Siklus revisi dalam desain Kemp memungkinkan penyesuaian berkelanjutan sesuai kondisi lapangan yang dinamis. Model PjBL yang menitikberatkan pada pembelajaran melalui pengerjaan proyek yang kontekstual sangat relevan dengan pendekatan Kemp. PjBL mendorong siswa belajar aktif, mandiri, dan kolaboratif dengan memecahkan masalah nyata yang dekat dengan lingkungan mereka. Hal ini sangat membantu memotivasi siswa dan membuat pembelajaran lebih bermakna serta aplikatif. Proyek-proyek yang berlandaskan budaya dan sumber daya lokal dapat meningkatkan keterlibatan siswa serta mengatasi keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar di daerah terpencil. Penggunaan proyek yang relevan dengan kehidupan sehari-hari sekaligus memotivasi siswa dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara nyata. Dengan menggabungkan desain Kemp dan model PjBL, proses pembelajaran menjadi terstruktur secara sistemik tetapi tetap dinamis dan kontekstual. Guru dapat mengidentifikasi kebutuhan khusus siswa, merancang proyek yang relevan, serta melakukan evaluasi untuk perbaikan berkelanjutan. Pendekatan ini dapat mengatasi masalah kualitas pendidikan yang tidak merata dan meningkatkan hasil belajar secara signifikan di daerah pedesaan dan terpencil.
In reply to First post

Re: Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Selama mengajar, saya menemukan permasalahan yang komplesk. Permasalahan pertama, motivasi belajar siswa rendah. Dibuktikan dari hasil penilaiian harian siswa dengan nilai di bawah rata-rata dan kurang antusiasnya siswa ketika proses belajar berlangsung. Selain itu, yang menjadi permasalahan lain adalah pemanfaatan teknologi dan akses internet belum dimaksimalkan. Pada dasarnya, kemajuan teknologi memberi kemudahan dan manfaat bagi dunia pendidikan yaitu dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik, memungkinkan pembelajaran yang fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan siswa, memperkaya pengalaman belajar dengan alat multimedia, dan manfaat lainnya yang didapat jika mampu menerapkan dengan maksimal. Tantangan sekanjutnya yang harus saya hadapi ketika saya mengajar siswa yang berkebutuhan kusus yaitu tuna netra dan autisme. Kesalahanya adalah kurang kesesuainya metode pengajaran yang digunakan dan gaya belajar yang diharapkan siswa berkebutuhan khusus tersebut. Upaya saya untuk mengatasi masalah tersebut yaitu mengubah motode pembelajaran, semula hanya pemberian tugas mandiri disertai dengan pembelajaran empat mata untuk memastikan materi pembelajaran dapat benar-benar dipahami oleh anak dengan kebutuhan khusus tersebut, diubah menjadi mengikutsertakan anak dengan kebutuhan khusus tersebut ke dalam kelompok-kelopok belajar bersama teman-teman yang lain. Dengan itu, mereka akan lebih aktif berdiskusi dengan teman sekelompok dan tidak merasa dibedakan atau dikucilkan. Anak yang memiliki kebutuhan khusus autisme mempunyai kelebihan yaitu dapat menulis dengan rapih, sehingga dia dipercara untuk menulis hasil diskusi yang nantinya akan dikumpul ke guru, namun tetap selalu melibatkan dia dalam diskusi dan sesekali bergantian menulis dengan teman sekelompok. Anak dengan kebutuhan khusus tuna netra memiliki kelebihan percaya diri, membuat dia dipercaya untuk menjadi moderator ketika presentasi di depan kelas. Saya percaya dengan kerjasama dan pembagian peran di dalam kelompok dengan tidak membeda-bedakan tersebut dapat dengan efektif meningkatkan semangat belajar siswa dan memberikan kesan positif bagi pribadi siswa yang berkebutuhan khusus tersebut. Melalui pengalaman ini, saya belajar betapa pentingnya eksibilitas dalam pendekatan pembelajaran untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan produktif bagi semua siswa.
Permasalahan rendahnya minat belajar dan juga belum maksimalnya pemanfaatan teknologi, menjadikan saya lebih adaptif dalam merancang pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap siswa, serta melalui diskusi dengan wali kelas dihasilkan bahwa strategi yang paling cocok untuk digunakan yaitu PAIKEM GEMBROT (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Menyenangkan, Gembira, dan Berbobot) dipadukan dengan metode pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam komunikasi, berfikir kritis, dan kerja sama. Mengkolaborasikan teknologi dengan metode pembelajaran STAD berdampak signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Saya menyaksikan bagaimana setiap kelompok belajar dengan serius, saling membantu dan sangat antusias ketika sesi diskusi berjalan. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan merupakan upaya saya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan modal awal bagi saya sebagai guru ekonomi untuk memberi pemahaman terkait pentingnya pendidikan tinggi sebagai bekal dalam menghadapi persaingan global dan sebagai upaya untuk keluar dari kemiskinan struktural.
In reply to First post

Re: Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by Indri Mutiara -
Nama : Indri Mutiara
NPM : 2523031001

Banyak siswa cenderung pasif dalam proses pembelajaran, terutama saat diminta untuk mengemukakan pendapat atau menganalisis suatu permasalahan sosial. Siswa lebih sering menyalin informasi dari buku teks tanpa mencoba memahami dan menilai informasi tersebut secara kritis. Ketika diberikan pertanyaan terbuka seperti “Mengapa ketimpangan sosial bisa terjadi di masyarakat?” sebagian besar siswa hanya menjawab secara faktual tanpa penalaran mendalam. Mereka kurang mampu menghubungkan fakta sosial dengan konteks kehidupan nyata, serta jarang mengajukan pertanyaan balik terhadap fenomena sosial yang mereka amati. Fenomena ini juga selaras dengan laporan media massa dan hasil riset pendidikan nasional yang menunjukkan adanya penurunan kemampuan berpikir kritis di kalangan pelajar Indonesia, terutama dalam kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan menyimpulkan informasi. Masalah ini menjadi perhatian penting, karena mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bertujuan membentuk peserta didik yang mampu berpikir kritis, reflektif, dan bertanggung jawab terhadap permasalahan sosial di masyarakat.

Dalam pembelajaran IPS, berpikir kritis merupakan kemampuan esensial yang diperlukan untuk:
1. Menganalisis fenomena sosial secara logis dan rasional,
2. Memahami keterkaitan antara fakta, nilai, dan keputusan sosial,
3. Mengembangkan solusi terhadap persoalan masyarakat secara argumentatif.
4. Penurunan kemampuan berpikir kritis dapat disebabkan oleh:
5. Pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan (teacher-centered),
6. Kurangnya penggunaan media aktual dan kontekstual,
7. Minimnya kesempatan siswa untuk berdiskusi, berargumen, dan mengevaluasi isu sosial secara mendalam.

Desain pembelajaran J. Kemp digunakan karena memberikan kerangka sistematis dan fleksibel untuk mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa. Dalam konteks ini, fokus desain diarahkan pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills / HOTS).
Langkah penerapan desain J. Kemp:
1. Identifikasi kebutuhan belajar: siswa perlu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan analisis sosial.
2. Menentukan tujuan pembelajaran: siswa dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan mengevaluasi fenomena sosial secara logis serta menyusun solusi alternatif.
3. Pemilihan konten: isu-isu aktual dalam masyarakat (ketimpangan sosial, kemiskinan, dan globalisasi).
4. Strategi pembelajaran: menggunakan Problem Based Learning (PBL) yang menekankan pada pemecahan masalah nyata.
5. Media pembelajaran: artikel berita, video dokumenter sosial, dan data statistik dari media massa.
6. Evaluasi: asesmen kinerja melalui diskusi, presentasi, dan refleksi individu.

Model Pembelajaran yang Digunakan: Problem Based Learning (PBL). Model Problem Based Learning (PBL) dipilih karena dapat menstimulasi kemampuan berpikir kritis siswa dengan menghadapkan mereka pada masalah nyata yang menuntut analisis dan solusi.
Langkah penerapan PBL dalam pembelajaran IPS:
1. Orientasi masalah: Guru menampilkan video berita tentang ketimpangan sosial di Indonesia.
2. Identifikasi masalah: Siswa mendiskusikan penyebab dan dampak ketimpangan sosial tersebut.
3. Pengumpulan data: Siswa mencari data dan informasi dari berbagai sumber (artikel, internet, wawancara).
4. Analisis dan sintesis: Siswa menganalisis faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang memengaruhi masalah.
5. Presentasi hasil dan refleksi: Siswa menyajikan hasil diskusi dan menarik kesimpulan kritis terhadap solusi yang ditawarkan.
In reply to First post

Re: Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama: Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM: 2523031009

Di SMP Negeri 1 Pardasuka, Kabupaten Pringsewu, guru-guru terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran agar siswa lebih aktif dan termotivasi dalam belajar. Namun, pada praktiknya, masih ditemukan berbagai kendala, khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Berdasarkan pengamatan di kelas serta hasil refleksi bersama guru mata pelajaran, teridentifikasi bahwa motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran IPS masih rendah.

Banyak siswa yang menganggap IPS sebagai pelajaran yang penuh hafalan dan kurang menarik. Mereka sering merasa sulit memahami materi yang bersifat konseptual, seperti interaksi sosial dan kegiatan ekonomi masyarakat. Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa cenderung pasif, hanya mendengarkan penjelasan guru dan mencatat tanpa menunjukkan antusiasme atau rasa ingin tahu yang tinggi. Proses diskusi kelompok sering kali tidak berjalan efektif karena siswa belum terbiasa berpikir kritis dan menyampaikan pendapatnya.

Salah satu penyebab utama rendahnya motivasi ini adalah karena pembelajaran IPS masih banyak menggunakan metode konvensional seperti ceramah dan pemberian tugas individu. Selain itu, materi pelajaran belum dikaitkan secara langsung dengan kehidupan nyata di sekitar siswa, padahal lingkungan sosial dan ekonomi masyarakat Pardasuka sebenarnya kaya akan potensi untuk dijadikan sumber belajar yang kontekstual dan bermakna.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan perubahan desain pembelajaran yang lebih inovatif dan berpusat pada siswa. Salah satu solusi yang tepat adalah menerapkan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) berbasis lingkungan sosial lokal. Model ini dirancang agar siswa tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga terlibat aktif dalam menemukan, meneliti, dan menyimpulkan sendiri konsep-konsep IPS melalui kegiatan proyek nyata yang ada di lingkungan sekitar mereka.

Dalam penerapannya, guru dapat mengangkat tema tentang aktivitas ekonomi masyarakat Pardasuka, seperti kegiatan pertanian, perdagangan lokal, hingga usaha kecil menengah (UMKM) yang berkembang di wilayah tersebut. Proses pembelajaran dimulai dengan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa melalui pertanyaan mendasar, misalnya: “Bagaimana cara masyarakat Pardasuka mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal agar tetap menjaga kelestarian lingkungan?”

Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta merancang proyek kecil untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka dapat melakukan observasi atau wawancara dengan pelaku usaha lokal, mendokumentasikan kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat, lalu menganalisisnya berdasarkan konsep produksi, distribusi, dan konsumsi dalam IPS. Setelah proyek selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasilnya dalam bentuk laporan, poster, atau video dokumenter yang menampilkan potret nyata kehidupan sosial ekonomi di lingkungan mereka.

Selama proses berlangsung, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing, memantau kemajuan kelompok, dan membantu siswa mengaitkan hasil pengamatan dengan teori yang dipelajari di kelas. Melalui kegiatan ini, siswa belajar memahami bahwa IPS bukan sekadar teori, melainkan ilmu yang membantu mereka memahami kehidupan sosial yang sebenarnya.

Hasil penerapan model Project Based Learning ini terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Mereka menjadi lebih aktif, kreatif, dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Siswa juga menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, serta lebih menghargai potensi ekonomi lokal di daerah mereka.

Dengan demikian, penerapan model pembelajaran PjBL berbasis lingkungan sosial lokal menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi rendahnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 1 Pardasuka. Melalui pendekatan ini, pembelajaran menjadi lebih hidup, bermakna, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa, sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan sosial dan budaya lokal di Kabupaten Pringsewu.
In reply to First post

Re: Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by Diah Rachmawati Syukri -
Nama : Diah Rachmawati Syukri
NPM : 2523031003

Salah satu masalah yang sering muncul di kelas VII SMPN 40 Bandar Lampung dalam pembelajaran IPS adalah rendahnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran, terutama ketika materi berhubungan dengan konsep-konsep abstrak seperti interaksi sosial, aktivitas ekonomi, atau dinamika keruangan. Banyak siswa cenderung pasif dan hanya menyalin penjelasan guru tanpa benar-benar memahami konteksnya dalam kehidupan nyata. Kondisi ini menyebabkan pembelajaran IPS menjadi berorientasi pada hafalan, bukan pada pemahaman dan penerapan konsep dalam situasi sosial sehari-hari.

Untuk mengatasi masalah tersebut, solusi yang tepat adalah menerapkan desain pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PjBL) dengan pendekatan diferensiasi. Desain ini memungkinkan guru merancang kegiatan yang kontekstual dan menyesuaikan tugas proyek dengan kemampuan serta minat siswa. Misalnya, dalam topik “Kegiatan Ekonomi dan Interaksi Sosial di Lingkungan Sekitar”, siswa dapat melakukan observasi lapangan di pasar tradisional atau lingkungan tempat tinggal, kemudian menyusun laporan dan presentasi hasil pengamatan. Dengan desain ini, siswa tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaboratif, dan kreatif.

Model PjBL diferensiatif selaras dengan pandangan konstruktivisme Vygotsky yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan pengalaman langsung. Selain itu, pembelajaran ini sejalan dengan paradigma Merdeka Belajar yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran. Menurut Hosnan (2014), model pembelajaran berbasis proyek efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi karena siswa dilibatkan secara langsung dalam proses pemecahan masalah nyata. Dengan demikian, penerapan desain PjBL yang berorientasi pada konteks lokal dan diferensiasi kemampuan siswa dapat menjadi solusi efektif untuk meningkatkan partisipasi, pemahaman konseptual, dan keterampilan sosial siswa dalam pembelajaran IPS di SMPN 40 Bandar Lampung.

Referensi:
Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Ghalia Indonesia.
In reply to First post

Re: Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Terdapat kasus yang baru-baru ini sangat tranding yaitu kasus perundungan di Universitas Udayana yang mengakibatkan satu korban jiwa (Media Indonesia, 2025). Hal tersebut menunjukkan lemahnya kesadaran sosial, empati, dan kontrol diri di kalangan mahasiswa. Tindakan bullying yang berujung tragis mencerminkan belum sepenuhnya berhasil menumbuhkan karakter sosial dan moral peserta didik. Dalam konteks ini, pendidikan IPS memiliki peran strategis untuk memberikan solusi melalui pembelajaran yang tidak hanya menekankan aspek pengetahuan sosial, tetapi juga membentuk kepribadian, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial peserta didik.

Salah satu desain pembelajaran yang relevan untuk diterapkan adalah pembelajaran berbasis isu sosial (Social Issue-Based Learning). Melalui model ini, guru menghadirkan kasus nyata seperti perundungan di kampus Udayana sebagai bahan diskusi dan analisis di kelas. Peserta didik diajak untuk mengidentifikasi akar masalah bullying, menganalisis dampaknya dari perspektif sosial, budaya, dan moral, serta merumuskan solusi yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini dapat dikombinasikan dengan Problem Based Learning dan Service Learning, di mana siswa tidak hanya memahami masalah, tetapi juga melakukan aksi nyata seperti kampanye anti-bullying di lingkungan sekolah atau media sosial. Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak berhenti pada tataran teori, melainkan menjadi sarana pembentukan karakter sosial yang berorientasi pada empati dan kepedulian.
Selain itu, model pembelajaran Humanistik Sosial (Humanistic Social Learning Model) juga sangat relevan untuk mengatasi persoalan ini. Model ini berlandaskan pada gagasan Carl Rogers dan Paulo Freire yang menekankan bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia. Dalam penerapannya, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta didik memahami dirinya dan orang lain melalui dialog reflektif, kegiatan menulis jurnal empati, dan diskusi nilai-nilai sosial. Evaluasi pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada perkembangan sikap sosial, kemampuan berempati, dan kesadaran moral peserta didik.
Model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) juga dapat dijadikan pendekatan pelengkap. Melalui kerja kelompok yang heterogen, peserta didik belajar menghargai perbedaan, bekerja sama, dan menyelesaikan tugas secara tanggung jawab bersama. Penilaian diarahkan tidak hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada proses interaksi sosial yang mencerminkan nilai gotong royong, toleransi, dan solidaritas. Dengan cara ini, pembelajaran IPS menjadi wahana untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan mencegah munculnya perilaku diskriminatif maupun perundungan.

Secara keseluruhan, penerapan desain dan model pembelajaran IPS seperti di atas mampu mengintegrasikan antara pengetahuan, nilai, dan tindakan sosial. Melalui pendekatan kontekstual, reflektif, dan kolaboratif, peserta didik tidak hanya memahami fenomena sosial, tetapi juga terlibat aktif dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan beradab. Dengan demikian, IPS berfungsi bukan hanya sebagai mata pelajaran yang mempelajari masyarakat, tetapi juga sebagai sarana transformasi sosial yang menumbuhkan empati, menghormati keberagaman, serta menegakkan nilai kemanusiaan dalam kehidupan bersama.
In reply to First post

Re: Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by Resti Apriliyani -
Nama : Resti Apriliyani
NPM : 2523031107

Salah satu masalah yang muncul di SMPN 44 Bandar Lampung adalah rendahnya keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar yang bersifat kolaboratif, terutama ketika bekerja dalam kelompok. Banyak siswa cenderung pasif, hanya menunggu instruksi, atau membiarkan satu-dua orang temannya mendominasi tugas kelompok. Sebagian siswa juga kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapat karena khawatir salah atau takut diejek teman. Kondisi ini menyebabkan proses pembelajaran IPS tidak berjalan optimal, karena tujuan utama IPS adalah membentuk keterampilan sosial, kemampuan berkomunikasi, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Rendahnya partisipasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, pola pembelajaran yang selama ini lebih menekankan ceramah membuat siswa tidak terbiasa menghadapi situasi yang menuntut diskusi dan pemecahan masalah. Kedua, minimnya pengalaman belajar berbasis proyek atau masalah membuat siswa kurang terlatih bekerja sama secara terstruktur. Ketiga, dinamika kelas yang heterogen kadang memunculkan rasa minder pada siswa tertentu sehingga mereka memilih diam dalam proses kelompok. Jika tidak ditangani, masalah ini akan menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berinteraksi sosial siswa.

Untuk mengatasi masalah tersebut, guru IPS dapat menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Model ini mendorong siswa aktif mencari tahu, berdiskusi, bertanya, dan menemukan solusi dari permasalahan nyata. PBL sesuai dengan karakter mata pelajaran IPS yang mempelajari fenomena sosial dan berusaha menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan serta kemampuan memecahkan masalah kehidupan sehari-hari.

Guru dapat memulainya dengan menyajikan masalah yang dekat dengan kehidupan siswa di Bandar Lampung, misalnya persoalan sampah di sekitar sekolah, kemacetan saat jam pulang sekolah, atau banjir yang terjadi di beberapa wilayah kota. Siswa dibagi ke dalam kelompok kecil, kemudian mereka diajak mengidentifikasi inti masalah, menganalisis penyebabnya, mengumpulkan data dari berbagai sumber, merumuskan alternatif solusi, dan mempresentasikannya kepada kelas. Selama proses ini guru berperan sebagai fasilitator yang memastikan semua anggota berpartisipasi aktif.

Melalui pembelajaran berbasis masalah, siswa dilatih untuk berani berbicara, bekerja sama, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang dibagi. Proses ini membantu menciptakan dinamika kelompok yang lebih sehat dan setara, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang bermakna. Dengan demikian, penerapan PBL dapat menjadi solusi untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kerja kelompok serta memperkuat kemampuan sosial dan berpikir kritis mereka. Model pembelajaran ini tidak hanya membuat pembelajaran IPS lebih hidup, tetapi juga membantu siswa memahami bahwa mereka memiliki peran penting dalam menyelesaikan persoalan sosial di lingkungan sekitar.
In reply to First post

Re: Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by Rizky Melatama -
Nama : Rizky Melatama
NPM : 2523031005

Masalah: Siswa kurang aktif dan kurang memahami konsep sosial karena pembelajaran IPS masih bersifat teoritis dan guru sering mengajar dengan metode ceramah sehingga siswa hanya menghafal materi tanpa mampu memecahkan masalah sosial nyata.
Contoh nyata di banyak sekolah adalah ketika guru memberikan materi IPS secara normatif dari buku teks saja tanpa mengaitkannya dengan masalah di lingkungan siswa. Akibatnya siswa menunjukkan keterlibatan rendah, kurang berpikir kritis, dan tidak mampu menerapkan pengetahuan IPS dalam konteks kehidupan nyata. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pendekatan konvensional membuat siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran IPS sehingga pemahaman konseptual dan keterampilan berpikir kritis kurang berkembang

Solusi dengan Desain dan Model Pembelajaran IPS yang Sesuai
Desain Pembelajaran IPS yang Direkomendasikan
Pilih isu sosial nyata di lingkungan sekolah atau komunitas (misalnya masalah sampah, kemacetan, ketidakadilan distribusi air, migrasi penduduk). Hal ini menjadikan pembelajaran relevan dengan kehidupan siswa sehingga mereka tidak hanya menghafal tetapi memahami fenomena secara nyata.
Guru tidak hanya ceramah tetapi membimbing siswa dalam menyelidiki masalah, mengumpulkan data, berdiskusi, dan merumuskan solusi. Ini membuat siswa aktif secara intelektual.
PBL mendorong kerja kelompok sehingga siswa belajar berkolaborasi, berpikir kritis, serta berkomunikasi — keterampilan sosial dan abad 21.
Siswa menghasilkan produk nyata seperti poster solusi, laporan temuan, peta sosial, atau kampanye komunitas tentang isu yang dianalisis. Ini memperkuat keterampilan berpikir dan aplikasi.
Solusi yang efektif adalah menerapkan desain pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning / PBL) yang terencana dengan baik:

  • Fokus pada masalah kontekstual

  • Guru sebagai fasilitator

  • Kolaborasi dan diskusi kelompok

  • Output nyata atau produk

Kelebihan Model Problem Based Learning dalam Konteks IPS
Meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah, karena siswa dilatih menghadapi situasi nyata. Pembelajaran kontekstual dan relevan dengan kehidupan siswa, sehingga tidak hanya hafalan tetapi pemahaman yang mendalam. Kolaborasi dan komunikasi antar siswa meningkat karena kerja kelompok. 
Motivasi belajar meningkat karena siswa terlibat langsung dalam proses menemukan solusi bukan sekedar menerima informasi

Masalah pembelajaran IPS di sekolah sering berkaitan dengan pembelajaran teoritis, siswa pasif, dan kurangnya keterkaitan dengan isu nyata. Solusi yang tepat adalah desain pembelajaran berbasis masalah yang terstruktur menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Model ini menempatkan siswa sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran, membangun pemahaman kontekstual, keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan aplikasi nyata dalam kehidupan sosial mereka. Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi juga membentuk keterampilan dan sikap sosial siswa.
In reply to First post

Re: Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by Siti Aminah -
Nama : Siti Aminah
NPM : 2523031002

Masalah yang dihadapi siswa kelas VII dan VIII di sekolah adalah rendahnya keterlibatan belajar yang ditunjukkan dengan siswa mudah mengantuk di kelas, belum berkembangnya kemampuan berpikir kritis, serta lemahnya pengetahuan dasar IPS. Kondisi ini membuat siswa kesulitan memahami materi IPS yang bersifat konseptual dan cenderung pasif ketika pembelajaran dilakukan di dalam kelas. Pembelajaran yang dominan ceramah dan berpusat pada buku teks menyebabkan IPS dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang membosankan dan jauh dari kehidupan mereka.

Namun demikian, kondisi tersebut sekaligus menunjukkan potensi positif, karena siswa lebih menyukai pembelajaran di luar kelas, seperti melakukan wawancara dengan warga sekolah dan berkeliling lingkungan sekolah. Minat ini dapat dimanfaatkan sebagai titik masuk untuk memperkuat pemahaman konsep dasar IPS dan melatih kemampuan berpikir kritis. Oleh karena itu, solusi yang tepat adalah merancang pembelajaran IPS yang kontekstual dan berbasis pengalaman langsung, sehingga siswa dapat belajar melalui aktivitas nyata yang dekat dengan kehidupan mereka.

Solusi pembelajaran dapat dirancang menggunakan desain pembelajaran J. Kemp yang dipadukan dengan model Contextual Teaching and Learning (CTL) dan Problem Based Learning (PBL). Melalui desain J. Kemp, guru terlebih dahulu menganalisis karakteristik siswa yang cenderung kinestetik dan membutuhkan aktivitas belajar yang variatif. Tujuan pembelajaran IPS kemudian dirumuskan secara bertahap, dimulai dari penguatan konsep dasar IPS melalui pengalaman langsung, sebelum diarahkan pada kemampuan analisis dan berpikir kritis yang lebih kompleks.

Dalam pelaksanaannya, guru dapat mengajak siswa belajar di luar kelas dengan melakukan observasi lingkungan sekolah dan wawancara sederhana terhadap warga sekolah, seperti petugas kebersihan, penjaga kantin, atau guru. Aktivitas ini dikaitkan dengan materi IPS, misalnya interaksi sosial, kegiatan ekonomi, norma dan aturan sosial di sekolah. Melalui model PBL, siswa diajak mengidentifikasi masalah sosial sederhana yang mereka temui di lingkungan sekolah, mendiskusikan penyebab dan dampaknya, serta menyusun solusi berdasarkan konsep IPS yang dipelajari.

Pembelajaran luar kelas ini membuat siswa lebih aktif secara fisik dan mental, sehingga mengurangi rasa ngantuk dan meningkatkan motivasi belajar. Guru berperan sebagai fasilitator dengan memberikan pertanyaan pemantik, peta konsep, dan bimbingan agar siswa mampu menghubungkan pengalaman lapangan dengan konsep IPS. Dengan demikian, pembelajaran IPS menjadi lebih bermakna, kontekstual, dan menantang, sehingga pengetahuan dasar siswa menguat, kemampuan berpikir kritis berkembang, dan pembelajaran IPS tidak lagi dianggap membosankan, melainkan relevan dengan kehidupan sehari-hari.