Mengacu kepada kedua jurnal tersebut, berikan pendapat Anda tentang aspek perilaku dalam akuntansi? Apa urgensinya dan jelaskan proses standard-setting & ekonomi politiknya.
DISKUSI
Npm : 2413031086
Kelas : 2024 C
Menurut saya, aspek perilaku dalam akuntansi itu sangat penting karena menunjukkan bahwa akuntansi bukan sekadar soal angka atau laporan keuangan, tetapi juga tentang manusia yang membuat dan menafsirkannya. Trisnaningsih dan Husna (2022) menjelaskan bahwa sikap, motivasi, persepsi, dan nilai seseorang bisa memengaruhi cara mereka mengambil keputusan dalam akuntansi. Artinya, keputusan keuangan itu nggak sepenuhnya objektif ada unsur psikologis dan sosial yang ikut bermain. Jadi, memahami perilaku individu dan organisasi membuat kita bisa melihat akuntansi secara lebih manusiawi, bukan cuma teknis semata.
Saya juga melihat urgensi besar dari penerapan pendekatan perilaku ini, terutama karena di dunia nyata pengambil keputusan sering kali terpengaruh oleh bias dan emosi. Seperti yang disampaikan oleh Sabbar dan rekan-rekannya (2023), bias kognitif seperti overconfidence dan confirmation bias bisa bikin seseorang menilai data keuangan secara keliru. Kalau sistem akuntansi tidak memperhitungkan faktor-faktor ini, hasil keputusan bisa menyimpang jauh dari rasionalitas yang diharapkan. Maka dari itu, menurut saya akuntansi yang baik harus dirancang dengan memperhatikan sisi perilaku manusia agar keputusan yang dihasilkan lebih bijak, realistis, dan beretika.
Selain itu, saya berpendapat bahwa proses penyusunan standar akuntansi juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh perilaku dan politik ekonomi. Dalam praktiknya, standar akuntansi sering kali dipengaruhi oleh kepentingan pihak-pihak tertentu yang punya kekuatan lebih besar, seperti korporasi besar atau lembaga ekonomi kuat. Kalau perilaku dan dinamika ini tidak disadari, standar yang dihasilkan bisa saja berat sebelah dan kurang mencerminkan keadilan. Menurut saya, memahami aspek perilaku dalam proses standard-setting bisa membuat regulasi akuntansi lebih transparan dan partisipatif, sehingga hasilnya tidak hanya valid secara teknis, tetapi juga punya nilai moral dan sosial yang kuat.
NPM: 2413031091
Kelas; 2024 C
-Pendapat tentang Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Berdasarkan dua jurnal yaitu “Exploring the Impact of Behavioral Factors on Accounting Systems and Financial Decision-Making” oleh Muhammad Daham Sabbar dkk. dan “Concepts of Behavioral Accounting from Psychological, Social, and Human Behavior Aspects” oleh Sri Trisnaningsih & Gempita Asmaul Husna, dapat disimpulkan bahwa akuntansi keperilakuan memandang akuntansi bukan hanya sebagai proses teknis, tetapi juga sebagai proses sosial dan psikologis yang melibatkan manusia. Dalam pandangan Sabbar, pengambilan keputusan keuangan tidak selalu rasional karena dipengaruhi oleh bias kognitif, emosi, dan lingkungan organisasi. Misalnya, overconfidence dan confirmation bias bisa membuat seseorang menafsirkan data keuangan secara keliru.
Trisnaningsih dan Husna menambahkan bahwa perilaku seperti motivasi, sikap, persepsi, dan nilai pribadi juga berperan besar dalam menentukan bagaimana seseorang bekerja dalam sistem akuntansi. Artinya, laporan keuangan yang dihasilkan tidak hanya mencerminkan kondisi ekonomi, tetapi juga perilaku manusia yang menyusunnya. Dengan demikian, aspek perilaku menjadi jembatan antara teori akuntansi dan kenyataan psikologis di dunia kerja.
-Urgensi Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Aspek perilaku memiliki urgensi tinggi karena sangat memengaruhi kualitas keputusan dan efektivitas sistem akuntansi. Sabbar menekankan bahwa sistem akuntansi yang baik harus sesuai dengan perilaku penggunanya agar informasi yang disajikan benar-benar dimanfaatkan secara optimal. Sistem yang terlalu rumit atau tidak sesuai cara berpikir pengguna dapat menimbulkan salah tafsir atau pengabaian data.
Trisnaningsih juga menyoroti pentingnya aspek perilaku dalam menjaga etika dan integritas profesi. Banyak kasus kecurangan terjadi karena perilaku menyimpang dan kurangnya kesadaran moral. Dengan memahami perilaku manusia, akuntansi dapat berfungsi tidak hanya untuk mencatat transaksi, tetapi juga untuk mendorong kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab.
-Proses Standard-Setting dan Ekonomi Politik Akuntansi
Proses penetapan standar akuntansi (standard-setting) tidak sepenuhnya bersifat teknis, tetapi dipengaruhi oleh perilaku dan dinamika politik ekonomi. Sabbar menjelaskan bahwa lembaga pembuat standar seperti IASB dan FASB menghadapi berbagai tekanan dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan berbeda, seperti pemerintah, investor, dan perusahaan besar. Dengan demikian, standar akuntansi merupakan hasil kompromi antara kepentingan ekonomi, sosial, dan politik.
Trisnaningsih menambahkan bahwa keberhasilan penerapan standar juga sangat bergantung pada budaya organisasi dan sikap individu. Meskipun aturan sudah ada, jika perilaku pelaku akuntansi tidak berlandaskan nilai etika, maka standar tersebut dapat disalahgunakan. Oleh karena itu, perilaku manusia menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas dan kredibilitas kebijakan akuntansi.
NPM: 2453031008
Artinya, keputusan akuntansi tidak sepenuhnya rasional, karena setiap individu memiliki keterbatasan dalam berpikir dan dipengaruhi oleh emosi, pengalaman, serta lingkungan sosialnya. Misalnya, seorang manajer bisa terlalu percaya diri terhadap hasil keuangan perusahaan sehingga mengabaikan risiko. Inilah yang disebut dengan bias kognitif, dan jika tidak disadari, bisa berakibat fatal bagi perusahaan. Maka, perilaku manusia menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proses akuntansi.
-Urgensi Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Urgensi atau pentingnya memahami aspek perilaku ini terletak pada kemampuan akuntansi untuk menghasilkan informasi yang benar-benar berguna bagi pengambil keputusan. Tanpa memperhatikan perilaku, sistem akuntansi bisa saja menghasilkan data yang bagus secara teknis, tapi gagal membantu manajer mengambil keputusan yang tepat. Sabbar dkk. (2024) menekankan bahwa sistem akuntansi yang baik harus selaras dengan perilaku pengguna, seperti cara mereka memahami informasi, tingkat kepercayaan terhadap sistem, dan beban kognitif yang mampu mereka tanggung.
Selain itu, perilaku juga penting dalam menjaga etika dan integritas profesi akuntansi. Trisnaningsih & Husna (2022) memberi contoh kasus seperti skandal Enron yang terjadi karena kurangnya penerapan akuntansi keperilakuan, di mana faktor motivasi dan nilai etis diabaikan. Jadi, urgensinya bukan hanya soal efektivitas kerja, tetapi juga soal kejujuran dan tanggung jawab moral dalam profesi akuntan.
-Proses Standard-Setting dan Ekonomi Politik Akuntansi
Dalam proses standard-setting atau penetapan standar akuntansi, aspek perilaku dan politik ekonomi juga ikut berperan. Secara ideal, standar akuntansi dibuat untuk meningkatkan transparansi dan keseragaman pelaporan. Namun pada kenyataannya, prosesnya sering dipengaruhi oleh kepentingan berbagai pihak—mulai dari regulator, perusahaan besar, auditor, hingga pemerintah.
Dari perspektif perilaku, individu yang terlibat dalam penyusunan standar juga dipengaruhi oleh keyakinan, pengalaman, dan nilai yang mereka anut. Sementara dari sisi ekonomi politik, sebagaimana dijelaskan dalam kerangka Sabbar dkk. (2024), keputusan akuntansi sering kali mencerminkan hubungan kekuasaan antara kelompok yang berkepentingan. Misalnya, standar tertentu bisa menguntungkan perusahaan besar karena memberi ruang fleksibilitas dalam pelaporan, sementara merugikan pihak kecil yang harus menyesuaikan dengan aturan kompleks.
Jadi, standard-setting bukan sekadar kegiatan teknis, tetapi juga arena sosial dan politik di mana perilaku, motivasi, dan kepentingan ekonomi saling berinteraksi. Hal ini menunjukkan bahwa akuntansi sebenarnya bukan hanya soal “apa yang benar secara angka”, tetapi juga “apa yang disepakati secara sosial dan politik”.
NPM : 2413031079
Dari kedua jurnal tersebut dapat disimpulkan bahwa aspek perilaku dalam akuntansi sangat penting karena akuntansi tidak hanya sekadar proses teknis pengolahan dan pelaporan informasi keuangan, tetapi juga melibatkan perilaku manusia yang memengaruhi bagaimana informasi tersebut dipahami, digunakan, dan dijalankan dalam praktik.
Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Perilaku akuntansi menghubungkan ilmu perilaku manusia seperti psikologi dan sosiologi dengan praktik akuntansi, yang mencakup sikap, motivasi, persepsi, emosi, dan nilai yang dimiliki para pelaku akuntansi. Aspek ini penting karena perilaku manusia, termasuk bias kognitif seperti overconfidence, confirmation bias, dan heuristik, dapat menyebabkan distorsi dalam interpretasi dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi akuntansi. Selain itu, budaya organisasi, kepercayaan, dan norma sosial ikut memediasi penerimaan dan penggunaan sistem akuntansi sehingga tidak hanya aspek rasional yang berperan, namun juga faktor sosial dan psikologis.
Urgensi Aspek Perilaku
Urgensi memahami aspek perilaku dalam akuntansi terletak pada kenyataan bahwa keputusan keuangan tidak selalu didasarkan pada rasionalitas sempurna. Kesalahan persepsi dan bias dapat mengakibatkan keputusan yang suboptimal atau bahkan manipulasi akuntansi (contohnya skandal Enron). Dengan pemahaman perilaku, desain sistem akuntansi dapat dioptimalkan untuk meminimalisasi pengaruh bias tersebut, meningkatkan akurasi dan keandalan informasi keuangan serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik. Disamping itu, pemahaman aspek perilaku yang baik mendorong penerapan etika dan kepercayaan yang esensial dalam profesi akuntansi.
Proses Standard-Setting & Ekonomi Politik
Proses standard-setting akuntansi tidak hanya melibatkan pertimbangan teknis dan ekonomis, tetapi juga mencakup dimensi sosial dan politik. Proses ini dibentuk oleh interaksi antara berbagai pemangku kepentingan (regulator, profesi, bisnis, publik) yang memiliki kepentingan berbeda, serta dipengaruhi oleh kekuatan politik, budaya organisasi, dan faktor ekonomi. Keputusan standarisasi sering melibatkan negosiasi dan kompromi yang mencerminkan kekuasaan dan pengaruh kelompok tertentu. Oleh karena itu, aspek ekonomi politik menjadi krusial dalam menentukan standar yang disetujui dan diimplementasikan. Proses ini juga dipengaruhi oleh persepsi, sikap, dan motivasi stakeholder yang menjadi bagian dari perilaku dalam akuntansi.
Kelas: 2024 C
NPM: 2413031081
Berdasarkan kedua jurnal tersebut menurut saya, Pandangan tentang aspek perilaku dalam akutansi adalah sub disiplin akutansi yang menghubungkan perilaku manusia dengan sistem akutansi dan proses pengambillan keputusan ekonomi, menurut saya bidang ini muncul sebagai tanggapan terhadap model akutansi tradisional yang memiliki pendapat bahwa pengambilan keputusan adalah agen yang sepenuhnya rasional, logis, dan konsisten. Akutansi keperilakuan mengintegrasikan wawasan dari disiplin ilmu lain seperti psikologi, ekonomi keperilakuan dan teori organasasi. Ada juga beberapa konsep konsep perilaku yang paling penting dalam jurnal yaitu bias kognitif dan heuristic, yaitu pengambilan keputusan sering kali dipengaruhi oleh bias seperti overconvidence, kemudian bias konfirmasi, efek pembingkaian. Faktor psikologis dan sosial dan sistem sosial.
Menurut saya urgensi akutansi keperilakuan terletak pada pengakuan bahwa keputusan keuangan dalam dunia nyata tidak murni rasional dan memahami interaksi antara perilaku manusia dan sistem akutansi adalah esensial untuk meningkatkan kualitas keputusan dan kinerja organisasi, terutama dalam lingkungan ekonomi yang kompleks dan fluktuatif.
Setelah saya baca kedua jurnal tersebut berfokus pada dinamika perilaku dalam sistem akutansi organisasi dan pengambilan keputusan manajerial tetapi aspek aspek ini memiliki implikasi yang signifikan terhadap proses penetapan standar atau standard setting dan ekonomi politik akutansi. Pada standard setting yang melibatkann perumusan prinsip dan aturan akutansi seperti IFRS dan PSAK adalah proses yang dipengaruhi oleh perilaku dan kepentingan seperti behavioran bias pada pembuat standar, peran trust dan penerimaan sistem dan kaitannya dengan ekonomi politik adalah ekonomi politik akutansi mengakui bahwa akutansi adalah fenomena sosial dan politik bkan sekedar teknis dan penetapan standar akutansi adalah hasil dari perebutan kepentinngan antara berbagai kelompok seperti produsen penggunna dan regulator.
Jadi kesimpulannya adalah akutansi memberikan pandangan penting yang mmenolak asumsi rasionalitas sempurna dan menjadikannya kunci untuk merancang sistem akutansi yang lebih baik dan memahami dinamika politik dan kelembagaan di baik penetapan standar keuangan.
Nama: Melinda Dwi Safitri
Npm: 2413031092
Menurut saya, aspek perilaku dalam akuntansi merupakan bagian penting yang menjembatani antara manusia sebagai pengambil keputusan dan sistem akuntansi sebagai alat informasi ekonomi. Pendekatan ini muncul karena model akuntansi tradisional terlalu menekankan pada rasionalitas penuh, seolah semua keputusan dibuat secara logis dan objektif. Padahal dalam praktiknya, manusia sebagai pelaku akuntansi sering kali dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan emosional. Akuntansi keperilakuan mencoba memahami bagaimana persepsi, motivasi, dan bias kognitif seperti overconfidence, bias konfirmasi, atau efek pembingkaian dapat memengaruhi interpretasi dan pelaporan informasi keuangan. Dengan menggabungkan perspektif psikologi, ekonomi keperilakuan, dan teori organisasi, bidang ini memberikan cara pandang yang lebih realistis tentang bagaimana keputusan akuntansi benar-benar dibuat.
Urgensi akuntansi keperilakuan terletak pada kemampuannya untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di dunia nyata. Dalam situasi bisnis yang kompleks dan dinamis, keputusan keuangan jarang bersifat sepenuhnya rasional. Pemahaman terhadap perilaku individu dan kelompok dalam organisasi dapat membantu memperbaiki desain sistem akuntansi agar lebih adaptif, transparan, dan efektif. Selain itu, pendekatan perilaku juga penting untuk meminimalkan distorsi informasi akibat bias manusia serta memperkuat budaya etika dalam pengambilan keputusan ekonomi. Dengan kata lain, memahami dimensi perilaku bukan hanya soal psikologi individu, tetapi juga soal bagaimana struktur organisasi dan insentif memengaruhi cara orang bertindak dalam konteks akuntansi.
Jika dikaitkan dengan proses standard setting dan ekonomi politik akuntansi, aspek perilaku memainkan peran yang sangat besar. Penetapan standar seperti IFRS atau PSAK bukan sekadar proses teknis, tetapi juga sosial dan politik. Pembuat standar, auditor, manajer, dan regulator semuanya membawa kepentingan dan bias masing-masing. Keputusan yang diambil sering kali dipengaruhi oleh kepercayaan, pengalaman, serta tekanan dari berbagai pihak. Di sinilah ekonomi politik akuntansi masuk, karena ia mengakui bahwa standar akuntansi merupakan hasil kompromi antara kelompok kepentingan yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik berbeda, seperti perusahaan besar, investor, dan pemerintah.
Kesimpulannya, akuntansi keperilakuan memberikan perspektif yang lebih manusiawi dan realistis terhadap praktik akuntansi. Ia menolak asumsi rasionalitas sempurna dan menegaskan bahwa keputusan akuntansi selalu berakar pada interaksi sosial dan psikologis. Pemahaman ini penting untuk menciptakan sistem akuntansi dan regulasi yang tidak hanya efisien secara ekonomi, tetapi juga adil, transparan, dan selaras dengan
2413031098
kls 24c
Menurut saya, aspek perilaku dalam akuntansi sangat penting karena mempengaruhi cara individu dan organisasi membuat keputusan, mengelola motivasi, dan berinteraksi dalam konteks bisnis. Perilaku manusia seperti sikap, motivasi, persepsi, pembelajaran, dan emosi memengaruhi akurasi informasi akuntansi, efisiensi operasional, serta kinerja organisasi secara keseluruhan. Dengan memahami dan mengintegrasikan aspek psikologis dan sosial ke dalam praktik akuntansi, organisasi dapat meningkatkan keterlibatan karyawan, mengurangi bias kognitif, dan membuat keputusan yang lebih efektif sekaligus mengembangkan strategi yang lebih tepat sasaran untuk mencapai tujuan bisnis.
di dalam urgensi aspek perilaku dalam akuntansi adalah untuk mengoptimalkan kinerja organisasi melalui pemahaman yang mendalam tentang perilaku manusia yang mendasari pengambilan keputusan akuntansi dan manajemen sumber daya. Hal ini juga membantu dalam mengantisipasi dinamika sosial dan psikologis dalam organisasi yang berpengaruh pada pelaporan dan pengelolaan keuangan.
dan yang terakhir mengenai standar setting dan ekonomi politik dalam konteks perilaku akuntansi, standar akuntansi harus mempertimbangkan faktor perilaku agar aturan yang dibuat relevan dengan kenyataan bagaimana manusia berperilaku dalam praktik bisnis. Proses penetapan standar harus melibatkan keseimbangan kepentingan berbagai pemangku kepentingan dan memperhatikan aspek psikologi kolektif serta pengaruh ekonomi-politik yang dapat mempengaruhi kebijakan dan regulasi. Dengan demikian, standar akuntansi tidak hanya berbasis teknis tetapi juga adaptif terhadap perilaku sosial dan ekonomi di lingkungan bisnis.
Nama : Nuraini Naibaho
Npm : 2413031076
Kelas : 24 C
Menurut saya, aspek perilaku dalam akuntansi memiliki peranan yang sangat penting karena akuntansi tidak hanya berfokus pada angka dan sistem pencatatan, tetapi juga melibatkan perilaku manusia yang mengelolanya. Setelah membaca kedua jurnal tersebut, saya menyadari bahwa akuntansi keperilakuan berusaha menjelaskan bagaimana faktor psikologis, sosial, dan budaya dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan dalam bidang keuangan. Jadi, bagi saya akuntansi bukan hanya proses teknis, melainkan juga kegiatan sosial yang dipengaruhi oleh cara berpikir, perasaan, serta motivasi individu dalam bekerja.
Urgensi pentingnya aspek perilaku ini terlihat dari kenyataan bahwa keputusan keuangan sering kali tidak sepenuhnya rasional. Dalam jurnal yang ditulis oleh Muhammad Daham Sabbar, dijelaskan bahwa berbagai bias kognitif seperti overconfidence dan confirmation bias dapat menyebabkan seseorang salah memahami informasi akuntansi. Karena itu, menurut saya, akuntan dan manajer perlu memahami perilaku manusia agar mampu mengendalikan bias dan meningkatkan ketepatan pengambilan keputusan. Di sisi lain, penelitian Sri Trisnaningsih juga menekankan bahwa sikap, nilai, dan motivasi berperan besar dalam membentuk etika serta tanggung jawab seorang akuntan. Hal ini menurut saya sangat penting agar laporan keuangan tetap jujur, transparan, dan tidak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.
Selain itu, proses pembentukan standar akuntansi (standard-setting) juga tidak bisa dipisahkan dari faktor perilaku. Pihak-pihak yang menyusun standar tentu memiliki latar belakang, pandangan, dan nilai yang berbeda, sehingga interpretasi terhadap standar akuntansi juga bisa bervariasi. Oleh karena itu, menurut saya pembuat standar perlu mempertimbangkan kemampuan kognitif, konteks sosial, serta cara pengguna laporan memahami informasi tersebut. Jika standar terlalu rumit atau tidak sesuai dengan kondisi sosial dan budaya, hal itu dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam penerapannya.
NPM : 2413031095
Menurut pendapat saya, aspek perilaku dalam akuntansi penting karena seluruh proses akuntansi melibatkan keputusan dan penilaian individu, seperti akuntan, auditor, dan pengguna laporan keuangan. Akuntansi keperilakuan mempelajari bagaimana perilaku manusia, terutama dalam menggunakan dan menghasilkan informasi akuntansi, mempengaruhi keputusan ekonomi. Urgensinya terletak pada peningkatan kualitas keputusan, efisiensi, dan kredibilitas informasi akuntansi, yang pada akhirnya mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik, baik pihak internal maupun eksternal perusahaan.
Proses standard-setting akuntansi adalah suatu langkah yang melibatkan berbagai pihak penting, seperti para ahli, profesional, dan pengguna laporan keuangan. Dalam proses ini, draf standar dibuat dan disebarkan kepada publik untuk mendapatkan masukan. Pihak-pihak terkait dapat memberikan tanggapan atau keberatan terhadap draf tersebut. Setelah proses diskusi dan revisi, standar yang disepakati akan diputuskan dan diterapkan secara resmi. Proses ini juga memerlukan kompromi karena berbagai pihak mempunyai kepentingan berbeda, sehingga dibutuhkan kesepakatan agar standar yang dibuat bisa diterima oleh semua. Standar ini penting agar laporan keuangan menjadi lebih jelas, terpercaya, dan dapat dibandingkan antar perusahaan. Sedangkan ekonomi politik dalam akuntansi menjelaskan bahwa proses pembuatan standar ini tidak lepas dari pengaruh kekuatan dan kepentingan politik berbagai kelompok, seperti perusahaan besar, pemerintah, dan investor. Mereka dapat mempengaruhi keputusan standar agar sesuai dengan kepentingannya, sehingga proses ini bukan hanya soal teknis tetapi juga soal negosiasi dan pengaruh kekuasaan. Karena itu, penting untuk menjaga proses ini seadil mungkin agar standar yang dibuat benar-benar berguna dan tidak merugikan pihak tertentu secara tidak adil.
NPM : 2413031093
Menurut pendpat saya aspek perilaku dalam akuntansi membahas bagaimana sikap, motivasi, persepsi, nilai, dan kepribadian seseorang berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan dan penyusunan laporan keuangan. Akuntansi tidak hanya berkaitan dengan angka dan prosedur teknis, tetapi juga melibatkan unsur psikologis dan sosial dari individu dalam organisasi. Faktor-faktor seperti bias kognitif, tekanan emosional, serta lingkungan kerja dapat memengaruhi cara seseorang memahami dan menggunakan informasi akuntansi, seperti melalui overconfidence, confirmation bias, atau framing effect. Oleh karena itu, memahami perilaku manusia sangat penting agar sistem akuntansi dapat dirancang lebih manusiawi, transparan, dan beretika. Akuntansi keperilakuan berperan penting dalam meningkatkan mutu keputusan manajerial, mencegah penyimpangan seperti manipulasi laporan keuangan, serta menanamkan nilai integritas dan kesadaran etis dalam profesi akuntansi.
Selain itu, proses penetapan standar akuntansi (standard-setting) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku dan dinamika ekonomi politik. Pembentukan standar tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh interaksi sosial dan kepentingan berbagai pihak seperti regulator, pemerintah, perusahaan, dan profesi akuntan. Tiap pihak memiliki dorongan dan pandangan berbeda yang dapat memengaruhi arah kebijakan melalui proses negosiasi atau lobbying. Dengan demikian, memahami dimensi perilaku dan politik ekonomi dalam penyusunan standar menjadi penting agar hasilnya lebih realistis, dapat diterima luas, serta seimbang antara kepentingan teknis, etika, dan publik dalam praktik akuntansi.
NPM : 2413031071
Berdasarkan kedua jurnal tersebut, yaitu EXPLORING THE IMPACT OF BEHAVIORAL FACTORS ON ACCOUNTING SYSTEMS AND FINANCIAL DECISION-MAKING dan CONCEPTS OF BEHAVIORAL ACCOUNTING FROM PSYCHOLOGICAL, SOCIAL, AND HUMAN BEHAVIOR ASPECTS, aspek perilaku dalam akuntansi, yang menjadi fokus dari disiplin Akuntansi Keperilakuan (Behavioral Accounting), adalah sub-disiplin interdisipliner yang menghubungkan perilaku manusia dengan sistem akuntansi dan proses pengambilan keputusan ekonomi. Pendekatan ini secara mendasar meninggalkan paradigma akuntansi tradisional yang berasumsi bahwa pengambil keputusan adalah aktor yang sepenuhnya rasional (rational actor paradigm). Akuntansi Keperilakuan berargumen bahwa keputusan finansial dipengaruhi secara signifikan oleh dinamika kognitif, emosional, dan organisasi. Konsep perilaku utama yang dipelajari mencakup bias kognitif (seperti overconfidence, confirmation bias, dan framing) , heuristik, motivasi, kepercayaan (trust), persepsi, dan budaya organisasi. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip dari psikologi dan sosiologi, bidang ini menganalisis bagaimana faktor-faktor ini memengaruhi cara manajer dan individu menafsirkan, menggunakan, dan bertindak berdasarkan informasi akuntansi.
Urgensi Akuntansi Keperilakuan sangat tinggi karena adanya bukti empiris yang menunjukkan bahwa kegagalan untuk memperhitungkan faktor perilaku dapat menyebabkan konsekuensi finansial dan organisasi yang merugikan. Dari perspektif sistem, mengabaikan bias kognitif dapat menyebabkan distorsi dalam interpretasi informasi akuntansi dan, akibatnya, mengarah pada strategi keuangan yang suboptimal. Dari perspektif etika dan tata kelola, kurangnya penerapan akuntansi keperilakuan—yang menekankan aspek integritas, sikap, dan nilai dapat menjadi akar permasalahan kecurangan (fraud) dan manipulasi laporan keuangan. Kasus seperti ENRON disorot sebagai contoh konkret di mana manajemen dan auditor mengabaikan etika dan perilaku profesional, yang menegaskan bahwa kesadaran perilaku sangat penting untuk menjaga kualitas informasi dan akuntabilitas organisasi. Oleh karena itu, integrasi wawasan perilaku diperlukan dalam perancangan, implementasi, dan evaluasi sistem akuntansi untuk memastikan sistem tersebut adaptif dan responsif terhadap kecenderungan perilaku dunia nyata.
Proses penetapan standar akuntansi dan peran ekonomi politik di dalamnya sangat relevan karena akuntansi adalah praktik sosial yang tertanam dalam kerangka kelembagaan (institutional frameworks) dan realitas sosio-politik. Ekonomi politik atau tekanan kelembagaan memengaruhi bagaimana faktor perilaku memanifestasikan diri dan membentuk kebijakan akuntansi di berbagai sektor. Akuntansi Keperilakuan mengakui bahwa standar tidak dibentuk hanya dari teori murni, tetapi juga dipengaruhi oleh kepentingan politik, sosial, dan ekonomi yang melobi para pembuat kebijakan (policymakers). Para pembuat kebijakan (seperti badan penetap standar) perlu menyadari dinamika ini agar dapat merancang standar yang sensitif terhadap konteks dan memitigasi risiko di mana individu dan organisasi—didorong oleh insentif dan bias dapat menyalahgunakan celah dalam standar demi keuntungan pribadi atau organisasi (misalnya, menolak penggunaan sistem akuntansi yang inovatif karena inersia perilaku atau norma kelembagaan yang ada).
Npm : 2453031007
Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Aspek perilaku dalam akuntansi menunjukkan bahwa proses pelaporan dan pengambilan keputusan keuangan tidak hanya bergantung pada data angka, tetapi juga pada perilaku manusia. Faktor seperti emosi, motivasi, persepsi, dan budaya organisasi memengaruhi bagaimana seseorang menafsirkan serta menggunakan informasi akuntansi dalam pekerjaannya.
Urgensi Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Pemahaman aspek perilaku penting karena akuntan dan manajer tidak selalu bertindak secara rasional. Dengan memperhatikan perilaku manusia, sistem akuntansi dapat dirancang lebih efektif, mengurangi kesalahan, serta meningkatkan kepercayaan dan etika dalam pengambilan keputusan keuangan.
Proses Standard-Setting dan Ekonomi Politik Akuntansi
Proses penetapan standar akuntansi (standard-setting) dipengaruhi oleh perilaku individu, seperti bias, kepentingan, dan tekanan sosial. Selain itu, dari sisi ekonomi politik, akuntansi tidak hanya bersifat teknis tetapi juga dipengaruhi oleh kekuatan ekonomi, sosial, dan politik di lingkungan organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa standar akuntansi merupakan hasil interaksi antara faktor teknis dan perilaku manusia di dalamnya.
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C
Menurut pendapat saya, mengacu pada kedua jurnal yang diunggah, aspek perilaku dalam akuntansi adalah dimensi penting yang secara fundamental menentang asumsi tradisional bahwa pengambilan keputusan keuangan bersifat murni rasional. Aspek perilaku dalam akuntansi adalah dimensi krusial yang meneliti bagaimana faktor psikologis, sosiologis, dan kognitif individu (manajer, pengguna laporan, auditor) memengaruhi desain sistem akuntansi, pemrosesan informasi, dan pengambilan keputusan ekonomi.
Urgensi
Urgensinya adalah karena keputusan keuangan di dunia nyata tidak murni rasional tetapi dipengaruhi oleh bias kognitif (overconfidence, framing) dan heuristik. Mempelajari aspek ini penting untuk:
1. Meningkatkan Kualitas Keputusan: Dengan memahami dan memitigasi bias yang mendistorsi interpretasi informasi akuntansi.
2. Desain Sistem yang Efektif: Merancang sistem akuntansi yang selaras dengan kognisi manajerial (behavioral-system alignment) untuk meminimalkan kesalahan interpretasi.
3. Mengatasi Masalah Etika: Menjelaskan mengapa terjadi strategi suboptimal, fraud, atau pelanggaran etika profesional (kasus ENRON).
Standard-Setting dan Ekonomi Politik
1. Proses Standard-Setting (Penetapan Standar)
Aspek perilaku memberikan masukan bagi pembuat kebijakan (standard-setter) untuk merumuskan standar yang lebih realistis dan adaptif. Mereka harus mempertimbangkan rasionalitas terbatas (bounded rationality) pengguna saat merancang pelaporan dan sistem kontrol agar informasi dapat digunakan secara efektif, bukan hanya akurat.
2. Ekonomi Politik Akuntansi
Ekonomi politik berfokus pada dinamika kekuasaan, insentif, dan sosial-organisasi yang memengaruhi akuntansi. Peran perilaku terlihat dalam:
-Sistem Kontrol Perilaku: Akuntansi berfungsi sebagai alat (misalnya Levers of Control Simons) untuk mengelola dan menyelaraskan perilaku karyawan dengan tujuan strategis.
-Trust dan Budaya Organisasi: Faktor perilaku seperti kepercayaan (trust) dan budaya organisasi sangat menentukan penerimaan dan efektivitas penggunaan sistem akuntansi di tengah jaringan sosial dan teknis.
-Persepsi Keadilan: Desain sistem pengukuran kinerja harus mempertimbangkan persepsi keadilan dan harapan pengguna untuk memastikan perilaku yang termotivasi dan etis.
NPM : 2413031088
Kelas : 2024C
Pendapat Saya tentang Aspek Perilaku dalam Akuntansi menurut kedua jurnal yang berjudul EXPLORING THE IMPACT OF BEHAVIORAL FACTORS ON ACCOUNTING SYSTEMS AND FINANCIAL DECISION-MAKING dan Meningkatkan nilai keberlanjutan perusahaan: Sebuah pendekatan untuk menyelaraskan beberapa panduan SDGs dalam pelaporan , sikap dan cara pikir manusia sangat mempengaruhi akuntansi. Selama ini, orang berasumsi bahwa pengambil keputusan di perusahaan selalu logis dan hanya melihat angka. Kenyataannya, tidak begitu.
Keputusan keuangan sering dipengaruhi oleh:
a. Sifat manusiawi: Misalnya, rasa terlalu percaya diri bisa membuat manajer memprediksi pendapatan terlalu tinggi. Atau, kecenderungan untuk hanya mau dengar hal yang sesuai dengan pendapatnya bisa membuat mereka mengabaikan laporan yang bertentangan.
b. Faktor sosial: Seperti rasa percaya pada sistem akuntansi dan budaya di perusahaan itu sendiri. Jadi, sistem akuntansi yang hanya peduli pada angka dan teknis saja tidak cukup. Harus juga mempertimbangkan siapa yang akan memakainya dan bagaimana lingkungan kerjanya.
Aspek Perilaku Ini sangat penting karena
1. Agar Keputusan Keuangan Lebih Baik: Dengan tahu bahwa manusia punya bias, sistem akuntansi bisa dirancang untuk mengurangi kesalahan dalam menafsirkan data. Hasilnya, keputusan soal anggaran atau investasi jadi lebih tepat.
2. Agar Sistem Baru Benar-Benar Dipakai: Sistem akuntansi yang canggih bisa gagal jika karyawan tidak percaya atau tidak paham cara menggunakannya. Memahami perilaku manusia membantu agar sistem diterima dengan baik.
3. Untuk Mengatur Perilaku Karyawan: Sistem insentif dan pengawasan bisa dirancang agar selaras dengan cara berpikir karyawan, sehingga mereka termotivasi untuk mencapai tujuan perusahaan.
Proses Membuat Standar Akuntansi & Sisi Politik-Ekonomi
Membuat aturan akuntansi (standar akuntansi) tidaklah netral. Proses ini penuh dengan permainan kepentingan dari berbagai pihak.
1. Membuat draft atau rancangan aturan.
2. Minta pendapat dari publik (perusahaan, investor, dll).
3. Terima semua masukan (yang seringkali bertentangan).
4. Revisi draft berdasarkan masukan.
5. Terbitkan aturan final.
Sisi Politik dan Ekonomi (Tarik-Ulur Kepentingan):
a. Perusahaan vs Investor:
Perusahaan sering ingin aturan yang fleksibel, agar bisa membuat laporan keuangan mereka terlihat bagus dan stabil.
b. Investor menginginkan aturan yang transparan dan jujur, agar mereka bisa melihat kinerja perusahaan yang sebenarnya, meski angkanya naik-turun.
c. Campur Tangan Pemerintah: Pemerintah bisa ikut campur untuk melindungi perusahaan dalam negeri atau untuk tujuan ekonomi tertentu.
d. Negara Maju: Negara dengan ekonomi kuat bisa mendorong aturan global yang menguntungkan perusahaan-perusahaan dari negara mereka.
Npm: 2413031082
Aspek perilaku dalam akuntansi menunjukkan bahwa keputusan akuntansi tidak hanya berdasarkan data dan angka, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor manusia seperti emosi, motivasi, nilai, dan bias kognitif. Menurut Muhammad Daham Sabbar, perilaku individu dapat memengaruhi sistem akuntansi dan kualitas pengambilan keputusan keuangan. Sementara itu, jurnal “Konsep Akuntansi Perilaku” menekankan bahwa aspek psikologis dan sosial membentuk cara seseorang menafsirkan serta menggunakan informasi akuntansi di lingkungan organisasi.
Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi adalah agar sistem akuntansi lebih efektif dan realistis karena mempertimbangkan cara berpikir pengguna. Dengan memahami perilaku, perusahaan dapat mengurangi bias, meningkatkan keandalan laporan, serta membangun budaya kerja yang etis dan transparan.
Secara keseluruhan, akuntansi tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga pada perilaku manusia dan konteks sosial-ekonomi yang melingkupinya.
Npm : 2413031090
Kelas : C
Menurut saya Aspek perilaku dalam akuntansi menekankan bahwa proses pelaporan dan pengambilan keputusan keuangan tidak hanya dipengaruhi oleh data, tetapi juga oleh faktor psikologis, sosial, dan perilaku manusia. Berdasarkan jurnal Muhammad Daham Sabbar dkk. (2024) dan artikel Concepts of Behavioral Accounting di ResearchGate, perilaku seperti overconfidence, confirmation bias, dan tekanan sosial dapat memengaruhi cara seseorang menafsirkan dan menggunakan informasi akuntansi. Oleh karena itu, akuntansi harus dipahami sebagai praktik yang melibatkan emosi, motivasi, dan budaya organisasi, bukan sekadar sistem teknis.
Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi terletak pada pentingnya meningkatkan kualitas keputusan keuangan dan kepercayaan terhadap laporan keuangan. Dengan memahami perilaku pengguna, sistem akuntansi dapat dirancang agar lebih efektif, transparan, dan sesuai dengan kemampuan kognitif manusia.
Dalam proses standard-setting, aspek perilaku juga berperan karena penetapan standar akuntansi melibatkan kepentingan berbagai pihak. Proses ini bersifat ekonomi-politik, di mana kekuatan, persepsi, dan kepentingan kelompok tertentu dapat memengaruhi arah kebijakan akuntansi. Maka, pemahaman perilaku membantu menciptakan standar dan praktik akuntansi yang lebih adil, realistis, dan dapat diterima oleh semua pihak.
NPM : 2413031083
Mengacu pada dua jurnal tersebut, saya berpendapat bahwa elemen perilaku merupakan dasar penting dalam akuntansi yang sering kali terabaikan. Akuntansi tidak hanya tentang perhitungan teknis saja, tetapi juga melibatkan interaksi manusia yang dipengaruhi oleh faktor psikologis (seperti bias kognitif yang meliputi anchoring dan loss aversion), sosial (tekanan dari kelompok seperti perilaku herd), dan etis (pertentangan antara motivasi internal dan eksternal). Kedua jurnal ini menyoroti bahwa behavioral accounting menggabungkan elemen-elemen ini agar keputusan akuntansi dapat dibuat secara lebih realistis, etis, dan tahan terhadap manipulasi. Sebagai contoh, dalam kasus PT Lestari Mineral, sikap hati-hati manajemen mungkin dipengaruhi oleh ketidaknyamanan kognitif antara keuntungan finansial dan tanggung jawab terhadap lingkungan, yang pada gilirannya meningkatkan integritas.
Urgensi Behavioral Accounting sangat tinggi pada masa globalisasi dan ESG, karena mengabaikan hal ini dapat meningkatkan risiko manipulasi laporan keuangan, terjadinya skandal perusahaan, serta kerugian bagi para pemangku kepentingan. Kedua jurnalmenyatakan bahwa bias perilaku (seperti kepercayaan diri berlebihan atau groupthink) sering berujung pada "manajemen laba" yang agresif, yang mengurangi transparansi dan akurasi—contoh nyata terlihat dalam kasus Enron atau Jiwasraya.
Proses penetapan standar akuntansi melibatkan perumusan regulasi oleh institusi seperti IASB (untuk IFRS global) atau DSAK di Indonesia (untuk PSAK), melalui serangkaian tahapan seperti konsultasi publik, draf eksposur, dan negosiasi. Namun, seperti yang dijelaskan dalam kedua jurnal di atas, proses ini seringkali dipengaruhi oleh dinamika ekonomi politik—di mana kekuatan ekonomi (lobi perusahaan, asosiasi industri) dan kekuatan politik (pemerintah, kelompok kepentingan) berkontribusi dalam membentuk standar yang lebih mengutamakan kepentingan bisnis jangka pendek daripada objektivitas teknik. Hal ini membuat standar menjadi lebih bernuansa politik, dengan aspek perilaku manusia (seperti pengaruh sosial) memperburuk situasi tersebut.
NPM: 2413031078
Pendapat mengenai aspek perilaku dalam akuntansi:
Akuntansi tidak hanya sekedar berurusan dengan angka, tetapi juga dengan manusia yang menggunakan angka-angka tersebut. Aspek perilaku dalam akuntansi mengakui bahwa Keputusan keuangan sering dipengaruhi oleh hal-hal seperti sifat terlalu percaya diri, malas mencari informasi lain, cara penyajian informasi, dan juga tekanan dari lingkungan kerja. Sehingga, meskipun datanya akurat, jika orang yang membacanya memiliki bias, Keputusannya bisa tetap salah. Pemahaman ini penting untuk merancang sistem akuntansi yang tidak hanya canggih secara teknis, tapi juga ramah terhadap cara berpikir penggunanya.
Urgensinya, memahami aspek perilaku sangat penting karena dapat mencegah kesalahan pengambilan Keputusan dan penipuan. Misalnya, dengan tahu bahwa manajer cenderung overconvident, sistem dapat dirancang untuk memberikan peringatan atau membutuhkan persetujuan lebih sebelum proyek berisiko tinggi disetujui. Selain itu, sistem yang memperhatikan aspek psikologis pengguna akan lebih mudah diterima dan digunakan dengan benar, sehingga investasi pada teknologi akuntansi yang mahal tidak akan sia-sia.
Proses standard-setting & ekonomi politiknya, proses pembuatan standar akuntansi seperti aturan pencatatan keuangan ternyata tidak murni objektif. Proses ini juga dipengaruhi oleh lobi kepentingan politik dari berbagai pihak, seperti pihak perusahaan besar, pemerintah, atau asosiasi profesi. Hal inilah yang disebut sebagai ekonomi politik. Setiap pihak yang ingin aturan yang menguntungkan mereka. Contohnya, aturan tentang pengakuan laba bisa diperdebatkan antara perusahaan yang ingin laporannya terlihat bagus dan regulator yang ingin melindungi investor. Jadi standar akuntansi yang kita pakai merupakan hasil kompromi dari berbagai kekuatan ini, bukan hanya kebenaran teknis semata.
Npm : 2413031094
Perkembangan akuntansi modern menunjukkan bahwa praktik akuntansi tidak dapat dipahami semata-mata sebagai proses teknis pencatatan dan pelaporan, melainkan sebagai aktivitas sosial yang dipengaruhi oleh perilaku manusia. Kajian behavioral accounting menegaskan bahwa keputusan akuntansi dan penggunaan informasi keuangan sangat dipengaruhi oleh bias kognitif, motivasi, emosi, serta dinamika organisasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa manajer dan akuntan kerap mengambil keputusan berdasarkan heuristik, seperti overconfidence, anchoring, dan confirmation bias, yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas keputusan finansial. Karena itu, akuntansi tidak cukup dipandang sebagai sistem angka yang objektif, melainkan sebagai produk interaksi antara sistem informasi dan perilaku penggunanya.
Urgensi pendekatan perilaku semakin meningkat seiring kompleksitas lingkungan bisnis, teknologi akuntansi, dan tuntutan transparansi. Sistem akuntansi yang canggih sekalipun dapat gagal apabila tidak mempertimbangkan aspek penerimaan pengguna, tingkat kepercayaan, dan budaya organisasi. Dengan kata lain, efektivitas akuntansi sangat ditentukan oleh sejauh mana desain sistem mampu selaras dengan cara manusia berpikir dan bertindak.
Hal yang sama berlaku dalam proses standard-setting. Standar akuntansi sering diasumsikan netral, padahal proses penyusunannya melibatkan kepentingan politik, ideologi pasar, dan kekuatan lobi ekonomi. Standar akuntansi pada akhirnya menjadi arena ekonomi politik, di mana berbagai aktor—regulator, korporasi, auditor, investor—berkompetisi membentuk definisi “kebenaran” dalam pelaporan keuangan. Oleh sebab itu, memahami aspek perilaku dan relasi kekuasaan dalam akuntansi bukan sekadar pelengkap, tetapi prasyarat untuk menjelaskan mengapa standar diterapkan secara berbeda, mengapa praktik akuntansi tidak selalu rasional, dan mengapa informasi akuntansi sering kali mencerminkan kepentingan sosial tertentu.
Npm : 2413031094
Perkembangan akuntansi modern menunjukkan bahwa praktik akuntansi tidak dapat dipahami semata-mata sebagai proses teknis pencatatan dan pelaporan, melainkan sebagai aktivitas sosial yang dipengaruhi oleh perilaku manusia. Kajian behavioral accounting menegaskan bahwa keputusan akuntansi dan penggunaan informasi keuangan sangat dipengaruhi oleh bias kognitif, motivasi, emosi, serta dinamika organisasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa manajer dan akuntan kerap mengambil keputusan berdasarkan heuristik, seperti overconfidence, anchoring, dan confirmation bias, yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas keputusan finansial. Karena itu, akuntansi tidak cukup dipandang sebagai sistem angka yang objektif, melainkan sebagai produk interaksi antara sistem informasi dan perilaku penggunanya.
Urgensi pendekatan perilaku semakin meningkat seiring kompleksitas lingkungan bisnis, teknologi akuntansi, dan tuntutan transparansi. Sistem akuntansi yang canggih sekalipun dapat gagal apabila tidak mempertimbangkan aspek penerimaan pengguna, tingkat kepercayaan, dan budaya organisasi. Dengan kata lain, efektivitas akuntansi sangat ditentukan oleh sejauh mana desain sistem mampu selaras dengan cara manusia berpikir dan bertindak.
Hal yang sama berlaku dalam proses standard-setting. Standar akuntansi sering diasumsikan netral, padahal proses penyusunannya melibatkan kepentingan politik, ideologi pasar, dan kekuatan lobi ekonomi. Standar akuntansi pada akhirnya menjadi arena ekonomi politik, di mana berbagai aktor—regulator, korporasi, auditor, investor—berkompetisi membentuk definisi “kebenaran” dalam pelaporan keuangan. Oleh sebab itu, memahami aspek perilaku dan relasi kekuasaan dalam akuntansi bukan sekadar pelengkap, tetapi prasyarat untuk menjelaskan mengapa standar diterapkan secara berbeda, mengapa praktik akuntansi tidak selalu rasional, dan mengapa informasi akuntansi sering kali mencerminkan kepentingan sosial tertentu.
NPM = 2413031085
Kelas = 2024 c
Karena menghubungkan tindakan manusia dengan sistem akuntansi, komponen perilaku dalam akuntansi sangatlah vital. Selain sebagai alat ukur dan pelaporan, sistem ini juga dipengaruhi oleh unsur-unsur psikologis, sosiologis, dan dinamika sosial yang ada di dalam perusahaan. Relevansi komponen perilaku terletak pada kemampuannya menjelaskan bagaimana sikap, dorongan, persepsi, dan bias kognitif dapat memengaruhi keputusan ekonomi dan penerapan data akuntansi dalam praktik. Dengan demikian, fitur ini dapat mencegah masalah seperti manipulasi laporan keuangan dan penurunan etika profesional, seperti yang terlihat dalam kasus ENRON.
Penetapan standar dalam akuntansi merupakan proses yang melibatkan interaksi antara unsur-unsur teknis dan kekuatan politik-ekonomi. Penetapan standar dipengaruhi oleh dinamika politik, kepentingan berbagai pihak yang terlibat, budaya organisasi, dan konteks kelembagaan yang mendasari pembentukan standar itu; bukan hanya didasarkan pada kebutuhan informasi atau analisis teknis. Proses ini melibatkan kesepakatan antara pelaku industri, inspektur, dan pembuat undang-undang yang memengaruhi penerimaan dan penerapan standar yang efektif.
Dari sudut pandang ekonomi-politik, akuntansi pembuatan standar merupakan wadah tawar-menawar kekuasaan yang melibatkan pelaku bisnis, auditor, regulator, dan pengguna laporan keuangan dalam upaya mengendalikan informasi dan sumber daya ekonomi melalui aturan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, pemahaman tentang aspek perilaku dan lingkungan sosial politik sangat penting untuk mengembangkan standar akuntansi yang tidak hanya valid secara teknis tetapi juga dapat diterima secara sosial, serta membantu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di dalam perusahaan.
NPM : 2413031087
Kelas : 24 C
Menurut saya, akuntansi keperilakuan (behavioral accounting) merupakan pandangan kritis dan esensial yang menandai pergeseran dari paradigma akuntansi tradisional yang berasumsi bahwa pengambil keputusan adalah aktor yang sepenuhnya rasional, logis, dan konsisten. Aspek perilaku melihat akuntansi bukan sekadar alat teknis untuk mengumpulkan dan melaporkan data, melainkan sebagai praktik sosial dan perilaku yang tertanam dalam proses pengambilan keputusan individu dan organisasi.
Urgensinya sangat tinggi karena keputusan keuangan dalam dunia nyata seringkali secara sistematis irasional , dipengaruhi oleh dinamika kognitif, emosional, dan organisasi. Faktor-faktor perilaku seperti bias kognitif (misalnya, overconfidence, confirmation bias, framing) dapat secara signifikan mendistorsi interpretasi dan penggunaan informasi akuntansi. Selain itu, motivasi, kepercayaan (trust), dan budaya organisasi menjadi faktor mediasi yang memengaruhi penerimaan dan efektivitas sistem akuntansi. Mengabaikan aspek perilaku dapat menyebabkan strategi keuangan yang suboptimal dan, dalam kasus ekstrem, memicu penipuan (fraud) karena pelanggaran etika dan perilaku profesional, seperti yang dicontohkan dalam kasus Enron. Oleh karena itu, akuntansi keperilakuan penting untuk meningkatkan kualitas keputusan, kinerja organisasi, dan integritas pelaporan.
Proses Standard-Setting dan Ekonomi Politik dalam Akuntansi Keperilakuan
Aspek perilaku memiliki peran signifikan dalam ekonomi politik standard-setting akuntansi, karena proses penetapan standar bukanlah kegiatan teknis murni, melainkan arena politik dan sosial tempat faktor perilaku serta kelembagaan saling berinteraksi. Dalam kerangka ini, ekonomi politik merujuk pada pengaruh konteks kelembagaan, kerangka regulasi, dan dinamika politik terhadap bagaimana informasi akuntansi diinterpretasikan dan digunakan. Standard-setting (penetapan standar) dipandang sebagai upaya oleh pembuat kebijakan untuk merancang aturan yang tidak hanya menyediakan informasi yang akurat tetapi juga resilien terhadap bias dan mempertimbangkan keterbatasan kognitif pengguna. Para pembuat standar harus menyadari bahwa pengaruh perilaku sangat bergantung pada konteks (misalnya, perbedaan di sektor publik atau berbagai budaya). Tantangannya adalah mencapai keselarasan yang efektif antara fitur sistem akuntansi dengan kognisi manajerial , sebab standar yang terlalu kompleks dapat membebani pengguna (cognitive load), sehingga mengurangi efektivitasnya dan mendorong kepatuhan simbolis daripada keterlibatan substantif. Oleh karena itu, standar harus dirancang dengan kesadaran perilaku untuk memastikan bahwa insentif, sistem kontrol, dan mekanisme akuntabilitas yang ditetapkan dapat memitigasi distorsi perilaku dan selaras dengan norma kelembagaan yang ada.
NPM : 2413031077
Kelas :C
Aspek perilaku dalam akuntansi sangat penting karena mengakui bahwa akuntansi melampaui proses teknis angka-angka, melibatkan keputusan dan perilaku manusia (manajemen, investor, akuntan), yang memengaruhi kualitas informasi dan judgment profesional; hal ini penting untuk mendeteksi manajemen laba dan mengatasi bias kognitif. Keterkaitan ini meluas ke proses penetapan standar, di mana ekonomi politik berperan sentral: standar yang dihasilkan merupakan hasil kompromi dari kekuatan lobi antara asosiasi industri (yang menekan untuk laba tinggi), pemerintah/regulator (yang menjaga stabilitas), dan investor (yang menuntut transparansi), sehingga standar pada akhirnya mencerminkan keseimbangan perilaku dan kekuasaan di pasar.
NPM: 2413031073
Akuntansi Keperilakuan adalah disiplin interdisipliner yang menghubungkan perilaku manusia dengan sistem akuntansi dan pengambilan keputusan keuangan, berbeda dari paradigma tradisional yang menganggap pengambil keputusan sepenuhnya rasional. Bidang ini menelaah pengaruh bias kognitif, emosi, motivasi, kepercayaan, persepsi, dan budaya organisasi terhadap penggunaan informasi akuntansi.
Pentingnya Akuntansi Keperilakuan terlihat dari dampak negatif jika faktor perilaku diabaikan, seperti distorsi informasi dan risiko kecurangan, contohnya kasus Enron. Integrasi aspek perilaku membantu menciptakan sistem akuntansi yang lebih adaptif dan akuntabel.
Proses penetapan standar akuntansi juga dipengaruhi oleh ekonomi politik dan tekanan sosial, di mana kepentingan politik dan kelembagaan memengaruhi kebijakan standar. Pembuat kebijakan harus memahami dinamika ini agar standar yang dibuat sensitif terhadap konteks dan meminimalkan penyalahgunaan akibat bias atau norma kelembagaan yang ada.
NPM: 2453031005
Kelas: 2024 C
Menurut pendpat saya aspek perilaku dalam akuntansi membahas bagaimana sikap, motivasi, persepsi, nilai, dan kepribadian seseorang berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan dan penyusunan laporan keuangan. Akuntansi tidak hanya berkaitan dengan angka dan prosedur teknis, tetapi juga melibatkan unsur psikologis dan sosial dari individu dalam organisasi. Faktor-faktor seperti bias kognitif, tekanan emosional, serta lingkungan kerja dapat memengaruhi cara seseorang memahami dan menggunakan informasi akuntansi, seperti melalui overconfidence, confirmation bias, atau framing effect. Oleh karena itu, memahami perilaku manusia sangat penting agar sistem akuntansi dapat dirancang lebih manusiawi, transparan, dan beretika. Akuntansi keperilakuan berperan penting dalam meningkatkan mutu keputusan manajerial, mencegah penyimpangan seperti manipulasi laporan keuangan, serta menanamkan nilai integritas dan kesadaran etis dalam profesi akuntansi.
Selain itu, proses penetapan standar akuntansi (standard-setting) juga dipengaruhi oleh faktor perilaku dan dinamika ekonomi politik. Pembentukan standar tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh interaksi sosial dan kepentingan berbagai pihak seperti regulator, pemerintah, perusahaan, dan profesi akuntan. Tiap pihak memiliki dorongan dan pandangan berbeda yang dapat memengaruhi arah kebijakan melalui proses negosiasi atau lobbying. Dengan demikian, memahami dimensi perilaku dan politik ekonomi dalam penyusunan standar menjadi penting agar hasilnya lebih realistis, dapat diterima luas, serta seimbang antara kepentingan teknis, etika, dan publik dalam praktik akuntansi.
NPM: 2413031075
Pendapat tentang aspek perilaku dalam akuntansi
Menurut saya, aspek perilaku memiliki peran penting dalam memahami bagaimana akuntansi bekerja dalam praktik. Kedua jurnal menunjukkan bahwa akuntansi tidak sepenuhnya bersifat mekanis karena setiap prosesnya dipengaruhi cara manusia berpikir, merespons tekanan, dan mengambil keputusan. Saya melihat bahwa bias kognitif, emosi, serta lingkungan kerja dapat mempengaruhi bagaimana seseorang membaca, menafsirkan, dan menyusun informasi akuntansi. Selain itu, motivasi, nilai pribadi, dan persepsi juga mempengaruhi bagaimana sistem akuntansi dijalankan. Bagi saya, hal ini menjelaskan mengapa laporan keuangan bukan hanya cerminan kondisi ekonomi, tetapi juga hasil interaksi perilaku manusia yang terlibat di dalamnya.
Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi
Saya menilai bahwa aspek perilaku sangat penting karena dapat menentukan kualitas informasi akuntansi. Jika sistem akuntansi tidak sesuai dengan cara pengguna memahami informasi, maka data yang sebenarnya bermanfaat bisa disalahartikan atau bahkan diabaikan. Saya juga melihat bahwa aspek perilaku berkaitan erat dengan etika profesi. Banyak kasus penyimpangan muncul karena lemahnya integritas, bukan karena tidak adanya standar. Oleh karena itu, memahami perilaku manusia membantu memastikan bahwa akuntansi tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga dijalankan secara jujur dan bertanggung jawab. Menurut saya, aspek perilaku membuat akuntansi lebih realistis karena mempertimbangkan kondisi manusiawi para pelakunya.
Proses standard setting dan ekonomi politik akuntansi
Menurut pemahaman saya, penetapan standar akuntansi tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik dan kepentingan ekonomi. Lembaga pembuat standar menghadapi tekanan dari berbagai pihak seperti investor, regulator, dan perusahaan besar yang memiliki kepentingan berbeda. Saya melihat bahwa standar akuntansi pada akhirnya menjadi hasil kompromi dari kepentingan tersebut. Selain itu, saya berpendapat bahwa keberhasilan standar sangat bergantung pada perilaku individu dan budaya organisasi. Meskipun aturan sudah dibuat sebaik mungkin, penerapannya tetap dapat menyimpang jika tidak didukung nilai etika. Hal ini membuat saya berkesimpulan bahwa perilaku manusia memiliki peran penting baik dalam penyusunan standar maupun dalam praktiknya di lapangan.
NPM : 2413031084
Kelas : 2024 C
Menurut saya, aspek perilaku dalam akuntansi itu sangat penting karena keputusan finansial tidak hanya berdasarkan rasionalitas, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor kognitif, emosional, dan lingkungan organisasi dari orang-orang yang terlibat, seperti manajer, investor, dan akuntan. Pandangan ini menempatkan akuntansi sebagai suatu praktik sosial serta perilaku yang terintegrasi dalam proses pengambilan keputusan, berbeda dari model tradisional yang cenderung memperlakukan aktor sebagai entitas yang logis dan konsisten. Pentingnya aspek perilaku dalam akuntansi terletak pada bukti bahwa bias kognitif (misalnya, kelebihan percaya diri, bias konfirmasi, dan penggambaran) dapat secara signifikan mengubah cara informasi akuntansi diinterpretasikan dan digunakan, yang pada akhirnya dapat mengarah pada strategi keuangan yang kurang optimal atau bahkan memicu tindakan penggelapan (contohnya, kasus ENRON). Dengan demikian, pemahaman terhadap aspek perilaku menjadi sangat penting untuk memperbaiki kualitas keputusan, kinerja organisasi, serta menjamin akuntabilitas dan pelaporan yang lebih transparan.
Dalam hal proses penetapan standar, meskipun seharusnya penetapan standar akuntansi didasarkan pada pertimbangan konseptual, kenyataannya merupakan proses yang kompleks dan dipengaruhi oleh politik yang melibatkan berbagai elemen, termasuk ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Proses ini melibatkan badan penetap standar (seperti DSAK/IAI di Indonesia atau FASB di Amerika Serikat) yang memulai inisiatif, menyusun draf publikasi, dan mendistribusikannya ke masyarakat umum untuk mendapatkan umpan balik. Di sisi lain, ekonomi politik akuntansi menunjukkan bahwa penetapan standar tidak terlepas dari kepentingan, melainkan sarat dengan tekanan dari berbagai pemangku kepentingan seperti investor, kreditor, manajemen, auditor, dan pemerintah. Dampak ekonomi dari penerapan sebuah standar (yaitu, pengaruhnya terhadap biaya, laba, atau daya saing perusahaan) menjadi alasan utama terjadinya proses politis atau politisasi dalam penetapan standar akuntansi. Kelompok-kelompok ini berusaha untuk melobi atau memengaruhi penetap standar agar hasil yang dirumuskan memaksimalkan manfaat atau keuntungan bagi mereka, sehingga proses penetapan standar harus secara jelas mempertimbangkan aspek politik dan kesejahteraan sosial. Oleh karena itu, standar akuntansi pada akhirnya merupakan hasil dari kompromi antara kepentingan publik dan kelompok melalui proses regulasi politik.
NPM : 2413031072
Kelas : C
1. Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Menurut pandangan saya, sisi perilaku merupakan cara pandang yang penting dan realistis dalam memahami akuntansi. Akuntansi konvensional berasumsi bahwa proses pengambilan keputusan finansial sepenuhnya berbasis rasionalitas, namun sisi perilaku menegaskan bahwa anggapan ini tidak sesuai dengan kenyataan. Fokus utamanya adalah pengakuan bahwa keputusan keuangan sangat dipengaruhi oleh faktor kognitif, emosional, dan aspek organisasi. Bias kognitif seperti kepercayaan berlebihan (overconfidence), bias konfirmasi (confirmation bias), dan cara penyampaian informasi (framing) dapat secara signifikan mengubah cara kita menilai dan memanfaatkan informasi akuntansi. Oleh karena itu, akuntansi perilaku berfokus pada pemahaman perilaku manusia yang mendasari angka-angka, bukan hanya pada perhitungan angka itu sendiri.
2. Urgensi Aspek Perilaku
Urgensi aspek perilaku
berfokus pada peningkatan mutu pengambilan keputusan dan efektivitas sistem akuntansi dalam aplikasi nyata. Pertama, dengan memahami aspek perilaku, sistem akuntansi dapat dirancang agar lebih responsif dan disesuaikan dengan kecenderungan kognitif serta manajerial pengguna, yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Kedua, kepercayaan dan budaya organisasi memengaruhi penerimaan serta pemanfaatan sistem akuntansi oleh penggunanya. Memperhatikan kesadaran perilaku dalam desain, implementasi, dan evaluasi sistem adalah kunci untuk memastikan sistem tersebut digunakan secara efektif di tengah kompleksitas yang kian bertambah.
3. Proses Penetapan Standar (Standard-Setting) dan Perilaku
Proses penetapan standar akuntansi merupakan langkah yang kompleks, mencakup aspek ekonomi, politik, sosial, dan budaya, bukan hanya aspek teknis. Dari perspektif perilaku, badan penetapan standar (standard setter) berfungsi sebagai mediator untuk menyelesaikan konflik kepentingan antara berbagai pemangku kepentingan (investor dan manajer). Mereka dituntut menciptakan konsensus yang cukup agar standar dapat diterima. Selain itu, tingkah laku serta preferensi manajer dan birokrat dapat memengaruhi cara suatu standar dirumuskan dan akhirnya diberlakukan, menunjukkan adanya implikasi bagi para pembuat kebijakan.
4. Ekonomi Politik dalam Akuntansi
Ekonomi politik dalam akuntansi melihat standar akuntansi sebagai hasil dari proses politik, bukan sebagai kebijakan yang bebas dari bias atau hanya aspek teknis. Keputusan mengenai standar memiliki dampak ekonomi signifikan (terhadap laba, kekayaan, dan kekuatan) yang mendorong sisi politik dalam pembentukannya. Pemangku kepentingan seperti pemegang saham, kreditur, dan manajemen akan berusaha melakukan lobi (political process) untuk memaksakan kepentingan pribadi ke dalam standar, sering kali demi memaksimalkan transfer kekayaan yang menguntungkan mereka. Aspek ini juga menyadari bahwa standar berfungsi dalam lingkungan historis dan konteks kelembagaan tertentu, sehingga standar harus mempertimbangkan aspek politik (misalnya kesejahteraan sosial) di samping teori akuntansi itu sendiri.
NPM: 2413031080
Kelas: 24C
Mengacu pada kedua jurnal tersebut, menurut saya aspek perilaku dalam akuntansi merupakan elemen yang sangat fundamental karena praktik akuntansi pada dasarnya tidak pernah netral. Laporan keuangan, kebijakan akuntansi, hingga standar yang berlaku adalah hasil dari keputusan manusia yang dipengaruhi oleh motivasi, persepsi, kepentingan, dan tekanan lingkungan. Positive Accounting Theory menegaskan bahwa manajer bertindak rasional untuk memaksimalkan utilitasnya sendiri melalui pilihan akuntansi, sementara kajian behavioral accounting menunjukkan bahwa keputusan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial seperti sikap, nilai, emosi, dan etika. Dengan kata lain, akuntansi bukan hanya sistem teknis, tetapi juga sistem perilaku.
Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi
Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi terletak pada kemampuannya menjelaskan kesenjangan antara standar akuntansi dan praktik nyata. Banyak kasus manipulasi laporan keuangan, manajemen laba, hingga skandal seperti Enron tidak dapat dipahami hanya dari sudut pandang aturan, tetapi harus dilihat dari perilaku individu dan budaya organisasi. Behavioral accounting membantu menjelaskan mengapa individu yang memahami standar tetap melakukan penyimpangan, misalnya karena tekanan bonus, target kinerja, rasa takut, atau rasionalisasi moral. Oleh karena itu, pemahaman perilaku menjadi penting untuk meningkatkan kualitas pelaporan, desain sistem pengendalian, serta pendidikan etika akuntansi .
Terkait proses standard-setting, kedua jurnal secara implisit menunjukkan bahwa standar akuntansi tidak lahir di ruang hampa. Proses penyusunan standar melibatkan banyak aktor (pihak) seperti regulator, profesi akuntan, perusahaan besar, investor, dan pemerintah. Dalam kerangka Positive Accounting Theory, proses ini dapat dipahami sebagai arena kepentingan di mana masing-masing pihak berusaha memengaruhi standar agar sesuai dengan kepentingannya, misalnya terkait pajak, kontrak utang, atau biaya politik. Dari sudut behavioral accounting, preferensi, persepsi risiko, serta nilai yang dianut oleh para penyusun standar juga ikut membentuk hasil akhirnya.
Sementara itu, dari perspektif ekonomi politik akuntansi, standar akuntansi mencerminkan distribusi kekuasaan dan kepentingan dalam masyarakat. Perusahaan besar cenderung memiliki pengaruh lebih kuat dalam proses standard-setting dibandingkan pihak lain, sehingga standar yang dihasilkan sering kali lebih mengakomodasi kepentingan pasar modal dan perusahaan. Dalam konteks ini, akuntansi berfungsi tidak hanya sebagai alat pelaporan, tetapi juga sebagai instrumen legitimasi dan pengendalian sosial. Oleh karena itu, memahami aspek perilaku dan ekonomi politik dalam akuntansi menjadi penting agar standar yang dihasilkan tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga adil dan bertanggung jawab secara sosial.
NPM : 2413031089
Aspek perilaku dalam akuntansi menunjukkan bahwa akuntansi tidak dapat dianggap hanya sebagai sistem teknis yang netral, melainkan sebagai praktik sosial yang sangat dipengaruhi oleh mereka yang menerapkannya. Kedua artikel tersebut menekankan bahwa proses akuntansi mulai dari penyusunan laporan dan penggunaan sistem akuntansi hingga pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh sikap, motivasi, persepsi, nilai, dan bias kognitif individu. Hal ini menunjukkan bahwa informasi akuntansi tidak selalu digunakan secara rasional, karena manusia memiliki keterbatasan kognitif dan kecenderungan psikologis tertentu ketika menafsirkan angka-angka keuangan.
Urgensi aspek perilaku dalam akuntansi meningkat seiring dengan meningkatnya kompleksitas sistem akuntansi dan tuntutan akan pengambilan keputusan yang cepat. Artikel kedua menunjukkan bahwa bias seperti overconfidence, framing, dan confirmation bias dapat menurunkan kualitas keputusan keuangan bahkan ketika informasi yang tersedia akurat. Tanpa pemahaman tentang perilaku sistem akuntansi berisiko menjadi tidak efektif dan bahkan dapat dieksploitasi secara oportunistik untuk membenarkan keputusan manajerial yang bias atau manipulatif. Oleh karena itu pendekatan akuntansi perilaku sangat penting untuk menjembatani kesenjangan antara desain rasional sistem akuntansi dan perilaku aktual pengguna di lapangan.
Dalam konteks penetapan standar, kedua jurnal tersebut secara implisit menunjukkan bahwa penetapan standar akuntansi tidak dapat dipisahkan dari proses politik dan ekonomi. Standar akuntansi muncul dari interaksi berbagai kepentingan regulator, perusahaan, auditor, dan investor yang masing-masing dipengaruhi oleh perilaku, persepsi risiko, dan insentif ekonomi. Akibatnya standar akuntansi bukan hanya hasil dari pertimbangan teknis tetapi juga dari kompromi sosial dan politik. Perspektif perilaku membantu kita memahami bahwa keberhasilan standar akuntansi ditentukan tidak hanya oleh kualitas konsepnya tetapi juga oleh bagaimana orang memahami, menerima, dan menggunakannya dalam konteks kelembagaan yang berbeda.
NPM: 2413031097
Kelas: 2024C
Jurnal yang pertama membahas bagaimana faktor perilaku seperti kesalahan berpikir, kepercayaan, dan budaya dalam sebuah organisasi dapat mempengaruhi cara sistem akuntansi digunakan dan seberapa efektif sistem tersebut dalam membantu keputusan finansial. Setelah melihat lebih dari enam puluh sumber akademis, ditemukan bahwa kesalahan berpikir seperti terlalu percaya diri dan bias konfirmasi bisa mengganggu cara orang memahami informasi, sementara kepercayaan dan budaya organisasi mempengaruhi seberapa baik sistem diterima. Seringkali, sulitnya sistem membuat pengguna merasa kewalahan, yang berdampak pada kemudahan penggunaan dan keputusan yang dibuat. Penelitian ini menunjukkan bahwa penting untuk menyelaraskan fitur sistem dengan cara berpikir para manajer agar kualitas keputusan yang diambil bisa lebih baik. Selain itu, kondisi atau konteks institusi juga berpengaruh pada bagaimana perilaku berdampak pada efektivitas sistem. Sistem yang dirancang dengan memperhatikan aspek perilaku, yang jelas, dan berfokus pada pengguna dapat mengurangi kesalahan berpikir dan meningkatkan kinerja organisasi. Pendekatan ini menekankan pentingnya menggabungkan pemahaman tentang perilaku dalam desain sistem dan kebijakan agar pengambilan keputusan finansial menjadi lebih responsif dan bertanggung jawab. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa faktor perilaku adalah bagian penting yang harus diperhatikan dalam membuat dan menerapkan sistem akuntansi untuk mencapai hasil terbaik dalam berbagai konteks organisasi dan sektor yang berbeda.
sedangkan jurnal yang kedua membahas cara menggabungkan pemahaman tentang psikologi, sosial, dan tingkah laku manusia ke dalam bidang akuntansi perilaku. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana tingkah laku manusia memengaruhi cara praktik akuntansi dilakukan, dengan menyoroti faktor-faktor seperti sikap, motivasi, persepsi, nilai, kepercayaan, dan pandangan orang yang membentuk tingkah laku dalam dunia akuntansi. Penelitian ini menunjukkan betapa pentingnya memahami sisi psikologis dan sosial agar bisa mencegah tindakan tidak etis seperti penipuan, contohnya kasus Enron. Hal-hal seperti kebiasaan, sikap, dan motivasi dijelaskan sebagai elemen yang memengaruhi cara orang membuat keputusan dan perilaku dalam organisasi. Sikap membantu kita memahami situasi, memenuhi keinginan, menjaga rasa diri, dan menunjukkan nilai-nilai, sedangkan motivasi dipengaruhi oleh kebutuhan dasar dan teori-teori seperti hierarki Maslow dan teori harapan. Persepsi juga berpengaruh pada cara kita melihat dan menafsirkan berbagai kejadian, sementara nilai dan kepribadian membantu menentukan tingkah laku dan etika seseorang. Kepribadian sendiri dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan, mencakup sifat-sifat seperti locus of control, Machiavellianism, dan kecenderungan mengambil risiko, yang bisa berdampak pada tingkah laku baik maupun buruk. Penelitian ini menegaskan bahwa penting untuk memahami faktor psikologis dan sosial secara mendalam agar bisa memperbaiki standar etika dalam akuntansi dan juga mendorong perkembangan perilaku yang lebih baik di dalam organisasi.
npm : 2453031006
kelas : c
Dari kedua jurnal tersebut dapat disimpulkan bahwa aspek perilaku dalam akuntansi sangat penting karena akuntansi tidak hanya sekadar proses teknis pengolahan dan pelaporan informasi keuangan, tetapi juga melibatkan perilaku manusia yang memengaruhi bagaimana informasi tersebut dipahami, digunakan, dan dijalankan dalam praktik.
Aspek Perilaku dalam Akuntansi
Perilaku akuntansi menghubungkan ilmu perilaku manusia seperti psikologi dan sosiologi dengan praktik akuntansi, yang mencakup sikap, motivasi, persepsi, emosi, dan nilai yang dimiliki para pelaku akuntansi. Aspek ini penting karena perilaku manusia, termasuk bias kognitif seperti overconfidence, confirmation bias, dan heuristik, dapat menyebabkan distorsi dalam interpretasi dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi akuntansi. Selain itu, budaya organisasi, kepercayaan, dan norma sosial ikut memediasi penerimaan dan penggunaan sistem akuntansi sehingga tidak hanya aspek rasional yang berperan, namun juga faktor sosial dan psikologis.
Urgensi Aspek Perilaku
Urgensi memahami aspek perilaku dalam akuntansi terletak pada kenyataan bahwa keputusan keuangan tidak selalu didasarkan pada rasionalitas sempurna. Kesalahan persepsi dan bias dapat mengakibatkan keputusan yang suboptimal atau bahkan manipulasi akuntansi (contohnya skandal Enron). Dengan pemahaman perilaku, desain sistem akuntansi dapat dioptimalkan untuk meminimalisasi pengaruh bias tersebut, meningkatkan akurasi dan keandalan informasi keuangan serta mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik. Disamping itu, pemahaman aspek perilaku yang baik mendorong penerapan etika dan kepercayaan yang esensial dalam profesi akuntansi.
Proses Standard-Setting & Ekonomi Politik
Proses standard-setting akuntansi tidak hanya melibatkan pertimbangan teknis dan ekonomis, tetapi juga mencakup dimensi sosial dan politik. Proses ini dibentuk oleh interaksi antara berbagai pemangku kepentingan (regulator, profesi, bisnis, publik) yang memiliki kepentingan berbeda, serta dipengaruhi oleh kekuatan politik, budaya organisasi, dan faktor ekonomi. Keputusan standarisasi sering melibatkan negosiasi dan kompromi yang mencerminkan kekuasaan dan pengaruh kelompok tertentu. Oleh karena itu, aspek ekonomi politik menjadi krusial dalam menentukan standar yang disetujui dan diimplementasikan. Proses ini juga dipengaruhi oleh persepsi, sikap, dan motivasi stakeholder yang menjadi bagian dari perilaku dalam akuntansi.