Ringkasan Mingguan
Umum
Pertemuan 1 Tanggal 12 Februari Pembahasan RPS, Kontrak Perkuliahan, dan pembagian Tugas
Mata kuliah ini merupakan mata kuliah dengan lingkup bahasan meliputi: Pengertian Dan Hakikat IPS Dalam Program Pendidikan Konsep Dasar Antropologi, Sosiologi Dan Psikologi Sosial, Konten IPS, Pengaruh Kebudayaan Luar Terhadap Kebudayaan Indonesia Perekonomian Indonesia, Lingkungan Fisik Wilayah Dan Hubungannya Dengan Kehidupan Manusia Serta Kemajemukan Ras, Etnik Dan Agama Nusantara Menggunakan Peta, Atlas, Dan Globe Untuk Mendapatkan Data Dan Informasi Spasial (Geospasial), Lingkungan Hidup Dan Keanekaragaman Sumberdaya Alam, Individu Masyarakat dan Negara.
Simak Pembagian kelompok di Excel dapat dilakukan secara otomatis, acak, maupun terstruktur menggunakan fitur Sorting
Pertemuan 2 Tanggal 19 Februari Pentingnya IPS dalam program pendidikan dan Hakikat IPS (Sejarah, pengertian, tujuan dan ruang lingkup)
Pendidikan Ilmu Sosia (IPS) memainkan peran penting dalam kerangka pendidikan, bertindak sebagai dasar untuk pengembangan karakter siswa dan kompetensi sipil dalam konteks dinamika sosial yang rumit. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi, IPS tidak hanya memberikan siswa wawasan tentang struktur sosial dan warisan budaya tetapi juga meningkatkan kemampuan berpikir kritis mereka untuk mengatasi tantangan sosial sambil menumbuhkan nilai-nilai empati dan toleransi. Akibatnya, IPS berfungsi sebagai alat strategis untuk menumbuhkan generasi yang cerdik secara intelektual, sadar sosial, dan mampu beradaptasi dengan bijaksana dalam lanskap global yang terus berkembang.
Prinsip inti Ilmu Sosif (IPS) merupakan penggabungan metodis dari beragam disiplin ilmu sosial dan humaniora, disesuaikan untuk tujuan pendidikan di lembaga terapan untuk menumbuhkan warga yang reflektif dan terlibat. Secara historis, IPS dipahami sebagai reaksi terhadap tantangan sosial yang rumit setelah Revolusi Industri dan sejak itu menyaksikan integrasi substansial ke dalam kerangka pendidikan kontemporer (seperti Studi Sosif di Amerika Serikat) untuk meningkatkan persatuan sosial. Pada dasarnya, IPS mewakili sintesis sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi, dengan tujuan menumbuhkan kesadaran peserta pendidikan akan masalah sosial, mempromosikan sikap mental yang konstruktif, dan memperlengkapi mereka untuk secara mahir mengatasi perbedaan yang ada di lingkungan mereka. Luasnya meliputi hubungan interpersonal, interaksi manusia dengan lingkungan, di samping dinamika perubahan temporal dan sistem nilai yang berkembang dalam masyarakat.
Bisa disimak Video Penjelasan lan sebagai sumber rujukan
Berikan Tanggapan anda terkait kedua materi di atas dan silahkan untuk berdiskusi
- Pekan ini
Pertemuan 3 Tanggal 26 Februari Konsep Dasar Ilmu-Ilmu Sosial seperti Geografi, Sejarah, Ekonomi Dan Koperasi
Prinsip-prinsip dasar ilmu sosial menggabungkan berbagai sudut pandang untuk memahami kompleksitas keberadaan manusia, di mana Geografi menggarisbawahi interaksi spasial atau timbal balik antara individu dan lingkungannya, sementara Sejarah berkonsentrasi pada dimensi temporal yang mencatat transformasi dan kontinuitas kejadian sejarah. Sebaliknya, Ekonomi mengkaji perilaku manusia dalam alokasi sumber daya terbatas untuk memenuhi kebutuhan esensial, sebuah konsep yang, dalam kerangka Indonesia, ditambah dengan gagasan Koperasi sebagai pendidik sosial ekonomi yang memprioritaskan prinsip-prinsip ikatan keluarga dan kesejahteraan kolektif. Keempat komponen ini menyatu untuk membentuk kerangka holistik untuk menganalisis fenomena sosial, yang mencakup pertimbangan teritorial, asal usul sejarah, dan otonomi keuangan masyarakat.
Berikan Tanggapan anda terkait kedua materi di atas dan silahkan untuk berdiskusi
Pertemuan 4 Tanggal 5 Maret Konsep Dasar Antropologi, Sosiologi, Psikologi Sosial Politik Dan Pemerintahan
Prinsip-prinsip dasar dalam kumpulan disiplin ilmu ini berkonsentrasi pada keberadaan kemanusiaan, baik sebagai entitas yang berbeda maupun sebagai komponen integral dari kerangka sosial yang lebih luas. Antropologi menyelidiki manusia melalui warisan budaya mereka, tradisi sejarah, dan evolusi biologis untuk mendapatkan wawasan tentang permadani identitas yang kaya, sedangkan sosiologi menganalisis dinamika hubungan interpersonal, struktur institusi sosial, dan perilaku kolektif yang membangun tatanan masyarakat. Sebaliknya, Psikologi Sosif berfungsi sebagai saluran antara bidang-bidang ini dengan mengeksplorasi bagaimana proses kognitif, respons emosional, dan tindakan individu dibentuk oleh pengaruh orang lain, sehingga menawarkan wawasan mendalam tentang motivasi dan persepsi manusia dalam konteks komunal.
Dalam domain otoritas, Politik dan Pemerintahan berfungsi sebagai mekanisme untuk orkestrasi kepentingan publik dan alokasi kekuasaan formal. Teori politik menggarisbawahi metodologi untuk memperoleh kekuasaan, seluk-beluk pengambilan keputusan, dan kebijakan yang mengatur kehidupan warga negara, sementara pemerintahan berkaitan dengan organisasi struktural dan proses administrasi negara dalam penegakan undang-undang. Interaksi antara pemahaman perilaku manusia (meliputi antropologi, sosiologi, dan psikologi) dan kerangka pemerintahan (mencakup politik dan pemerintahan) sangat penting untuk menumbuhkan tatanan sosial yang stabil, adil, dan demokratis.
Berikan Tanggapan anda terkait kedua materi di atas dan silahkan untuk berdiskusi
Pertemuan 5 Tanggal 12 Maret
Pertemuan 6 Tanggal 19 Maret Mencari Fakta, Konsep, Generalisasi Dan Teori Dalam IPS
- Dalam bidang pembelajaran IPS, pemahaman dimulai melalui informasi faktual, yang mencakup data objektif atau peristiwa aktual yang telah terjadi, seperti tanggal proklamasi atau koordinat geografis lokal tertentu. Elemen-elemen faktual ini kemudian dikategorikan berdasarkan karakteristik bersama mereka untuk membangun konsep, yang berfungsi sebagai abstraksi yang menunjuk kolektif fakta (misalnya, konsep “migrasi,” “inflasi,” atau “budaya”). Fakta didefinisikan dan terbatas, sedangkan konsep mulai memberikan interpretasi yang lebih luas dari data mentah, memfasilitasi pemahaman kognitif. Selain itu, keterkaitan antara dua atau lebih konsep yang terhubung memuncak dalam generalisasi, didefinisikan sebagai pernyataan komprehensif yang menjelaskan hubungan sebab-akibat atau pola dominan perilaku masyarakat. Ketika generalisasi ini menjalani validasi berulang untuk akurasi dan diatur ke dalam kerangka pemikiran yang koheren yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena sosial secara menyeluruh, konstruksi teoretis muncul. Akibatnya, struktur IPS berkembang secara hierarkis dari data nyata ke abstraksi yang semakin rumit, meningkatkan kemampuan kita untuk memprediksi dan memahami seluk-beluk dinamika sosial.
Berikan Tanggapan anda terkait kedua materi di atas dan silahkan untuk berdiskusi
Pertemuan 7 Tanggal 26 Maret Nilai Dan Sikap Dalam IPS
Dalam bidang pendidikan Ilmu Sosif (IPS), nilai berfungsi sebagai landasan filosofis yang menetapkan tolok ukur keunggulan dan kebenaran bagi siswa dalam keterlibatan komunitas mereka. Nilai-nilai tidak hanya berkomitmen pada ingatan; melainkan, mereka berasimilasi untuk menumbuhkan perspektif kritis dan etis. Sebagai pendidik, peran kami adalah untuk memfasilitasi pemahaman siswa tentang nilai-nilai teoritis melalui pembelajaran investigasi, nilai-nilai praktis untuk perolehan keterampilan hidup, dan nilai-nilai pendidikan yang memperoleh wawasan dari peristiwa sejarah atau fenomena sosial. Dengan memahami nilai-nilai ini, siswa tidak hanya menjadi sadar akan “apa” yang terjadi di dunia tetapi juga memahami “mengapa” mereka harus berinvestasi dalam kerangka sosial itu.
Bersamaan dengan itu, sikap mewakili ekspresi konkret atau tanggapan otentik siswa yang berasal dari nilai-nilai yang mereka junjung tinggi. Dalam konteks IPS, sikap mencakup kesiapan mental yang mengintegrasikan dimensi kognitif (pemahaman), afektif (perasaan), dan konatif (kecenderungan untuk bertindak). Misalnya, ketika seorang siswa mewujudkan nilai pengelolaan lingkungan, sikap yang dihasilkan adalah ketidaknyamanan dengan adanya polusi, yang pada akhirnya diterjemahkan ke dalam perilaku proaktif yang bertujuan menjaga kebersihan. Adalah tanggung jawab kami sebagai pendidik untuk melampaui penyebaran informasi belaka dan untuk memfasilitasi transformasi dalam sikap ini, memungkinkan siswa untuk berkembang menjadi warga negara yang demokratis dan toleran dengan empati sosial yang mendalam.
Interaksi antara nilai dan sikap adalah apa yang menumbuhkan kompetensi sosial yang komprehensif. Pendidikan IPS yang optimal diwujudkan ketika nilai-nilai yang ditinggikan diinternalisasi oleh siswa dan kemudian dimanifestasikan dalam sikap sehari-hari mereka, seperti menghargai pendapat yang berbeda atau berkolaborasi di tengah keragaman. Akibatnya, pengasuhan nilai-nilai dan sikap tidak dapat dicapai melalui kuliah satu dimensi; sebaliknya, itu membutuhkan keterlibatan sadar kita sebagai pendidik dan pembinaan lingkungan kelas yang reflektif. Dengan demikian, IPS melampaui subjek hafalan; itu berkembang menjadi wadah untuk mengembangkan karakter dan kemanusiaan.
Berikan Tanggapan anda terkait kedua materi di atas dan silahkan untuk berdiskusi
Silahkan upload ppt kelompok 1 disini
Pertemuan 8 Tanggal 2 April UTS
Pertemuan 9 Tanggal 9 April Pengaruh Kebudayaan Luar Terhadap Kebudayaan Indonesia
Mengamati dampak budaya asing terhadap budaya Indonesia mirip dengan menyaksikan aliran sungai yang terus-menerus mengangkut bahan-bahan baru ke hulu, sebuah proses yang mencerminkan perkembangan sejarah yang tak terhindarkan. Sebagai pendidik, sangat penting bagi kita untuk mengakui posisi geografis strategis Indonesia di persimpangan dunia, yang telah menjadikan bangsa ini pertemuan peradaban yang beragam dan signifikan, termasuk pengaruh India, Arab, Tiongkok, dan Eropa. Interaksi dinamis ini mengarah pada akulturasi yang dinamis, di mana unsur-unsur asing tidak hanya menekan budaya lokal; sebaliknya, mereka bergabung untuk membentuk identitas baru yang berbeda, terbukti dalam berbagai domain seperti arsitektur tempat ibadah, lanskap kuliner yang beragam di nusantara, dan integrasi kosakata asing ke dalam bahasa kita sehari-hari.
Dalam lanskap kontemporer, pengaruh budaya eksternal—terutama melalui kekuatan globalisasi dan digitalisasi—memberikan dampak ganda yang memerlukan filter mental yang kuat dari siswa kami. Di satu sisi, infus nilai-nilai seperti keterbukaan, etos kerja yang kompetitif, dan kemahiran teknologi dari budaya Barat dan Asia Timur dapat mengkatalisasi modernisasi yang berkontribusi positif terhadap pembangunan nasional. Sebaliknya, keunggulan budaya populer global sering menghadirkan tantangan dalam bentuk pergeseran menuju nilai-nilai yang dicirikan oleh individualisme, konsumerisme, dan gaya hidup hedonistik, yang dapat merusak identitas dan semangat gotong royong yang membentuk fondasi budaya Indonesia.
Akibatnya, tujuan utama kami di kelas Studi Sosif bukanlah untuk melindungi diri dari pengaruh eksternal, melainkan untuk menumbuhkan ketahanan budaya di antara siswa. Kita harus membimbing mereka untuk menjadi warga global yang terinformasi, mampu mengasimilasi pengetahuan dan kemajuan dari luar negeri sambil melestarikan warisan budaya mereka. Dengan memperkuat nilai-nilai Pancasila sebagai saringan penuntun, kami mengantisipasi bahwa siswa akan diperlengkapi untuk membedakan elemen budaya asing mana yang berkontribusi positif terhadap pembangunan bangsa dan yang dapat menimbulkan ancaman bagi integritas moral. Pada akhirnya, aspirasi kita adalah untuk memelihara generasi yang menyerupai pohon yang megah: cabang-cabangnya membentang ke langit dunia, namun akarnya tetap berlabuh dalam di bumi.
Silahkan upload ppt kelompok 1 disini
Pertemuan 10 Tanggal 16 April Perjuangan Indonesia Dalam Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan
Membahas upaya Indonesia untuk kemerdekaan dan pelestariannya adalah narasi luas yang ditandai dengan pengorbanan, diplomasi, dan ketahanan suatu bangsa. Sebagai pendidik, sangat penting untuk menyampaikan bahwa kemerdekaan bukanlah “hadiah” yang tidak diminta yang turun dari atas, melainkan hasil dari dialektika yang berlarut-larut antara perjuangan fisik dan ketajaman intelektual. Proses pencapaian kemerdekaan dibedakan oleh evolusi gerakan dari perlawanan regional yang berbeda ke persatuan nasional yang kohesif. Melalui organisasi kontemporer seperti Budi Utomo dan memuncak dengan Sumpah Pemuda 1928, para pendiri bangsa dengan mahir menggeser paradigma perjuangan dari persenjataan konvensional ke kekuatan pemersatu ideologi. Proklamasi pada 17 Agustus 1945, mewakili puncak pengambilan keputusan berani di tengah kekosongan kekuasaan pasca-kekalahan Jepang, menunjukkan bahwa kedaulatan kita secara tegas merupakan manifestasi dari kehendak bangsa itu sendiri.
Meskipun demikian, perjuangan tidak berhenti dengan pembacaan proklamasi; sebaliknya, fase mempertahankan kemerdekaan menjadi ujian yang lebih sulit ketika Sekutu dan Belanda berusaha untuk menegaskan kembali otoritas mereka. Pada titik inilah kita mengamati sifat khas strategi Indonesia, yang menggunakan pendekatan “jalur ganda”, yang mencakup perlawanan bersenjata dan keterlibatan diplomatik. Episode heroik seperti Pertempuran Surabaya dan Palagan Ambarawa menggambarkan semangat rakyat, sementara secara bersamaan, para diplomat terkemuka kami terlibat dalam dialog internasional melalui Negosiasi Linggarjati, Renville, dan Konferensi Meja Bundar (KMB). Penggabungan tekanan militer dan kemenangan opini publik di panggung global inilah yang akhirnya memaksa Belanda untuk mengakui kedaulatan penuh Indonesia pada tahun 1949.
Pelajaran penting bagi siswa kami hari ini adalah menyadari bahwa kemandirian yang mereka alami saat ini adalah warisan yang diperoleh dengan susah payah. Tanggung jawab pendidik adalah untuk mengkontekstualisasikan semangat “perjuangan” dalam kerangka tantangan kontemporer. Jika, di masa lalu, para pahlawan kita menghadapi kolonialisme fisik, maka “perjuangan” generasi sekarang berkaitan dengan memerangi kemiskinan, ketidaktahuan, dan perselisihan internal. Dengan menumbuhkan kesadaran sejarah ini, siswa diantisipasi untuk berkembang tidak hanya menjadi penerima manfaat kemerdekaan tetapi juga menjadi penjaga yang waspada dari negara berdaulat yang memiliki daya saing global sambil mempertahankan nasionalisme yang tak tergoyahkan.
Berikan Tanggapan anda terkait kedua materi di atas dan silahkan untuk berdiskusi
Silahkan upload ppt kelompok 1 disini
Pertemuan 11 Tanggal 23 April Kegiatan Pokok Ekonomi BUMN, CV PT PERMA, Koperasi dan Bisnis Di Indonesia
Pemahaman komprehensif tentang kegiatan ekonomi fundamental di Indonesia memerlukan pemeriksaan “mesin” rumit yang mendukung kemakmuran bangsa. Sebagai pendidik, sangat penting bagi kita untuk menggarisbawahi bahwa keragaman entitas perusahaan—dari perusahaan milik negara hingga koperasi—bukan merupakan tumpang tindih, melainkan ekosistem yang dirancang dengan cermat untuk meningkatkan satu sama lain sesuai dengan mandat yang ditetapkan oleh Konstitusi.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melayani fungsi penting sebagai perpanjangan otoritas pemerintah dalam mengelola sektor-sektor strategis yang secara signifikan berdampak pada masyarakat. Operasi utama BUMN tidak hanya didorong oleh keuntungan; mereka juga memenuhi misi layanan publik (berorientasi sosial) yang bertujuan untuk memastikan stabilitas ekonomi nasional, mencakup bidang-bidang penting seperti penyediaan energi, transportasi, dan perbankan. Sebaliknya, sektor swasta, yang diwakili oleh Perseroan Terbatas (PT) dan Commanditaire Vennootschap (CV), bertindak sebagai katalis untuk efisiensi dan inovasi dalam ranah bisnis. PT, yang dicirikan oleh struktur modalnya yang kuat, biasanya mengejar usaha bisnis skala besar dengan tanggung jawab terbatas, sementara CV memberikan fleksibilitas bagi pengusaha menengah melalui sistem mitra aktif dan pasif. Kedua entitas berperan penting dalam menghasilkan peluang kerja dan menyumbangkan pendapatan pajak kepada negara.
Berbeda dengan dominasi korporasi besar, koperasi muncul sebagai “Soko Guru” ekonomi Indonesia yang berpusat pada keluarga. Tidak seperti PT, yang menekankan akumulasi modal, kegiatan inti koperasi memprioritaskan kesejahteraan anggotanya melalui prinsip gotong royong, yang diwujudkan dalam tabungan dan pinjaman koperasi, serta inisiatif konsumsi dan produksi. Koperasi mencontohkan demokrasi ekonomi, di mana setiap anggota memiliki hak suara yang sama. Dalam lanskap bisnis kontemporer Indonesia, tantangan yang dihadapi semua entitas ini adalah integrasi teknologi digital dan mengejar keberlanjutan. Sebagai pendidik, kita harus menyampaikan kepada siswa kita pemahaman bahwa apakah mereka terlibat dalam BUMN, membangun CV atau PT, atau membina koperasi, tujuan utamanya tetap tunggal: untuk mendorong kemajuan ekonomi yang inklusif dan adil bagi semua orang Indonesia.
Berikan Tanggapan anda terkait kedua materi di atas dan silahkan untuk berdiskusi
Silahkan upload ppt kelompok 1 disini
Pertemuan 12 Tanggal 30 April KUIS
Pertemuan 13 Tanggal 7 Mei Lingkungan Fisik Wilayah Nusantara dan Hubungan Dengan Manusia
Mengenai lingkungan fisik wilayah kepulauan, kami memeriksa arena yang luas di mana geografi dan kemanusiaan saling mempengaruhi satu sama lain. Indonesia, yang diakui sebagai negara kepulauan terbesar secara global, terletak di antara dua benua dan dua samudra, menampilkan atribut fisik yang sangat khas. Topografi yang beragam — mulai dari puncak gunung berapi yang megah hingga bentangan pantai yang luas — memupuk berbagai iklim mikro dan sumber daya alam yang berlimpah. Posisi khatulistiwa menghasilkan curah hujan yang besar dan sinar matahari yang melimpah sepanjang tahun, menjadikan kepulauan ini di antara daerah paling subur di dunia, sebagian besar karena bahan vulkanik yang bersumber dari cincin vulkanik aktif yang dikenal sebagai Cincin Api.
Interaksi antara lingkungan fisik dan manusia di Indonesia bersifat timbal balik dan sangat rumit. Lanskap fisik secara signifikan mempengaruhi pola kehidupan, mata pencaharian, dan praktik budaya dalam masyarakat. Penduduk daerah dataran tinggi biasanya mengolah sistem pertanian hortikultura dan menunjukkan pola pemukiman yang berkumpul di lembah, sedangkan populasi pesisir mengidentifikasi diri sebagai navigator maritim dan nelayan, membangun pemukiman yang membentang di sepanjang garis pantai. Adaptasi umat manusia terhadap lingkungan fisik ini juga telah memupuk kebijaksanaan adat, dicontohkan oleh sistem Subak di Bali, yang menyelaraskan irigasi dengan medan pegunungan, atau desain rumah panggung yang mengurangi kelembaban dan risiko banjir di daerah berawa atau hutan.
Namun demikian, dari perspektif Ilmu Politik Terpadu yang kritis, hubungan ini saat ini menghadapi tantangan besar karena aktivitas manusia yang melampaui daya dukung lingkungan. Eksploitasi sumber daya alam yang ekstensif, perubahan penggunaan lahan, dan polusi telah mengakibatkan ketidakseimbangan yang bermanifestasi sebagai bencana hidrometeorologi, termasuk banjir dan tanah longsor. Sebagai pendidik, tanggung jawab kita adalah menumbuhkan dalam diri siswa pemahaman bahwa manusia bukan hanya “penguasa” lingkungan fisik, tetapi lebih merupakan komponen integral dari ekosistem itu. Pendidikan harus mendorong pembentukan etika lingkungan, di mana pemanfaatan sumber daya Nusantara harus disertai dengan inisiatif konservasi untuk memastikan bahwa kekayaan fisik ini dapat secara berkelanjutan mendukung mata pencaharian generasi mendatang.
Berikan Tanggapan anda terkait kedua materi di atas dan silahkan untuk berdiskusi
Silahkan upload ppt kelompok 1 disini
Pertemuan 14 Tanggal 14 Mei Kemajemukan RAS, Etnik dan Agama di Indonesia
Sebagai profesional pendidikan, sangat penting bagi kita untuk mengartikulasikan gagasan bahwa keragaman ras, etnis, dan agama yang melekat di nusantara melampaui representasi statistik belaka; itu merupakan realitas sosiologis yang mendukung moto Bhinneka Tunggal Ika. Indonesia berdiri sebagai salah satu laboratorium sosial paling rumit secara global, ditandai dengan keragaman ras yang nyata - termasuk Mongoloid di wilayah barat dan Melanesoid di timur - yang selanjutnya dibagi menjadi ratusan suku atau kelompok etnis, masing-masing dengan bahasa dan adat istiadat yang berbeda.
Dalam kerangka etnis, permadani keragaman yang kaya ini muncul dari pengasingan geografis ribuan pulau, menumbuhkan ciri-ciri budaya yang unik di setiap daerah. Suku Jawa, Sunda, Batak, Dayak, dan Papua menyumbangkan sistem nilai, hukum adat, dan kearifan lokal mereka sendiri, yang semuanya memperkaya warisan nasional. Bersamaan dengan itu, dari perspektif agama, posisi strategis Indonesia di pertemuan rute perdagangan global telah menyebabkan masuknya berbagai sistem kepercayaan yang berpengaruh. Pengakuan negara atas enam agama resmi, di samping kehadiran sistem kepercayaan adat, menggarisbawahi pentingnya membina ruang toleransi. Keragaman ini horisontal, menandakan bahwa tidak ada ras, etnis, atau agama yang memiliki keunggulan inheren atas yang lain; semua hidup berdampingan secara adil dalam kerangka kewarganegaraan yang sama.
Namun demikian, sebagai pendidik, kita harus dengan jujur mengakui bahwa kekayaan keragaman ini membawa potensi konflik jika tidak didekati dengan pola pikir inklusif. Dalam konteks ini, peran nilai-nilai IPS menjadi penting dalam mempromosikan multikulturalisme, yang mencakup tidak hanya pengakuan perbedaan tetapi juga apresiasi dan perayaan keragaman tersebut. Sangat penting untuk menumbuhkan pada siswa kemampuan untuk melampaui prasangka (stereotip) dan menumbuhkan empati lintas budaya. Dengan mendapatkan pemahaman mendalam tentang asal-usul keragaman ini, kami bercita-cita agar siswa memahami perbedaan bukan sebagai elemen yang memecah belah, melainkan sebagai aset kolektif yang harus dilestarikan demi persatuan nasional dan keharmonisan sosial di masa depan.
Silahkan upload ppt kelompok 1 disini
Berikan Tanggapan anda terkait kedua materi di atas dan silahkan untuk berdiskusi
Pertemuan 15 Tanggal 21 Mei Sikap Sosial Masyarakt berdasarkan Struktur, Pranata dan Proses Sosial Budaya
Memahami sikap sosial individu dalam kerangka kacamata IPS memerlukan analisis tentang bagaimana individu beroperasi dalam tatanan masyarakat kolektif. Sebagai profesional dalam pendidikan, sangat penting untuk mengartikulasikan bahwa sikap individu tidak muncul secara terpisah; melainkan, mereka dipengaruhi oleh tiga komponen dasar: struktur, pranata, dan proses sosiokultural. Struktur sosial membentuk kerangka kerja atau “cetak biru” untuk hubungan interpersonal, menggambarkan status dan peran. Dalam konteks Indonesia, yang dicirikan oleh struktur hierarkis dan fungsional, ekspresi rasa hormat terhadap penatua dan kolaborasi di antara berbagai profesi mencontohkan posisi seseorang dalam struktur itu. Kerangka struktural ini memastikan bahwa interaksi sosial mematuhi pola yang dapat diprediksi dan stabil.
Selain itu, sikap-sikap ini diperkuat dan dilestarikan oleh pranata sosial (institusi), yang mencakup sistem norma dan tata kelola yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan mendasar masyarakat. Keluarga, kepercayaan agama, sistem pendidikan, kerangka ekonomi, dan struktur politik berfungsi sebagai “pedoman” perilaku. Misalnya, di ranah pra-agama, individu ditanamkan dengan nilai-nilai kasih sayang dan integritas, sedangkan di pra-pendidikan, peserta didik dikondisikan untuk mewujudkan disiplin dan daya saing yang sehat. Dengan tidak adanya pranata, struktur sosial dapat kehilangan nilai-nilai kohesif mereka, berpotensi mengarah pada sikap masyarakat yang membelok ke arah anarkisme karena kurangnya kontrol sosial yang dilembagakan.
Terakhir, sikap sosial secara inheren dinamis, dibentuk oleh proses sosiokultural — interaksi timbal balik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Proses-proses ini mungkin asosiatif (konstruktif), dicontohkan oleh akomodasi dan asimilasi yang menumbuhkan sikap toleran di tengah keragaman, atau disosiatif (peregangan), seperti persaingan dan konflik yang dapat memicu sikap etnosentris atau prasangka. Sebagai pendidik, tanggung jawab kami terletak pada membimbing siswa untuk menavigasi proses sosial ini dengan kebijaksanaan. Dengan memahami interaksi antara struktur yang stabil, kerangka kerja pemerintahan, dan proses dinamis, siswa diantisipasi untuk memelihara sikap sosial yang adaptif dan kritis, yang berakar kuat pada nilai-nilai mulia yang intrinsik budaya bangsa.
Silahkan upload ppt kelompok 1 disini
Berikan Tanggapan anda terkait kedua materi di atas dan silahkan untuk berdiskusi
Pertemuan 16 Tanggal 28 Mei UAS