Kiriman dibuat oleh Eka Saryuni

AKM A2025 -> Diskusi

oleh Eka Saryuni -
Nama : Eka Saryuni
Npm : 2413031030

1. Instrumen keuangan adalah kontrak yang menimbulkan aset keuangan bagi satu pihak dan liabilitas keuangan atau instrumen ekuitas bagi pihak lainnya.
Contohnya: saham, obligasi, deposito, piutang, utang, dan derivatif.
Jenis-jenis instrumen keuangan:
1. Instrumen Keuangan Primer
- Aset keuangan: kas, piutang, investasi obligasi, saham.
- Liabilitas keuangan: utang usaha, pinjaman, obligasi yang diterbitkan.
- Instrumen ekuitas: saham biasa, saham preferen.
2. Instrumen Keuangan Derivatif
- Nilainya bergantung pada aset pokok seperti bunga, valuta asing, atau komoditas.

2. Kas adalah aset paling likuid yang terdiri atas uang tunai, saldo bank, dan setara kas yang mudah dicairkan dan tidak berisiko tinggi terhadap perubahan nilai.

Pengendalian Internal terhadap Kas:
Tujuannya untuk mencegah penyalahgunaan dan memastikan keandalan catatan kas. Langkah-langkahnya:
- Pemisahan tugas antara penerimaan, pencatatan, dan penyimpanan kas.
- Otorisasi transaksi kas oleh pejabat berwenang.
- Penggunaan dokumen bernomor urut seperti kwitansi dan cek.
- Rekonsiliasi bank secara periodik untuk mencocokkan saldo kas di pembukuan dengan rekening koran.
- Penyimpanan kas dalam brankas atau rekening bank yang aman.

3. Penyajian:
Kas disajikan pada pos aset lancar di laporan posisi keuangan (neraca).
Jika ada pembatasan penggunaan kas (misalnya kas untuk proyek tertentu), harus disajikan terpisah sebagai kas dibatasi penggunaannya.

Pengungkapan:
Dalam catatan atas laporan keuangan (CALK), dijelaskan:
- Komponen kas dan setara kas.
- Kebijakan pengukuran kas.
- Rekonsiliasi saldo kas dengan laporan arus kas.
- Pembatasan atau penjaminan atas kas tertentu.

4. Piutang adalah hak perusahaan untuk menerima kas atau imbalan ekonomi lainnya dari pelanggan atau pihak lain akibat penyerahan barang/jasa secara kredit.
Pengakuan:
Piutang diakui ketika barang atau jasa telah diserahkan kepada pelanggan dan hak atas pembayaran telah timbul, meskipun kas belum diterima (basis aktual).

5. - Penilaian Piutang:
Dicatat sebesar nilai realisasi bersih (net realizable value), yaitu jumlah piutang dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai (penyisihan piutang tak tertagih).
- Perhitungan Penurunan Nilai:
Berdasarkan model ekspektasi kerugian kredit (expected credit loss) menurut PSAK 71.
Penyajian:
Disajikan di aset lancar dalam laporan posisi keuangan, setelah dikurangi cadangan kerugian.

Pengungkapan:
Dalam CALK dijelaskan:
- Kebijakan pengakuan dan pengukuran piutang.
- Metode penentuan cadangan kerugian.
- Rincian saldo piutang per kategori pelanggan.

6. Analisis kas dan piutang dilakukan untuk menilai efektivitas pengelolaan dana dan kemampuan perusahaan dalam menagih piutang. Rasio likuiditas seperti rasio kas digunakan untuk menilai kecukupan kas, sedangkan analisis piutang mencakup evaluasi umur piutang dan tingkat keberhasilan penagihan untuk memastikan kelancaran arus kas perusahaan.

AKM A2025 -> Diskusi

oleh Eka Saryuni -
Nama : Eka Saryuni
Npm : 2413031030

Mengembangkan kerangka kerja definisional untuk unsur-unsur dasar akuntansi sangat diperlukan karena berfungsi sebagai fondasi konseptual dalam penyusunan, pengukuran, dan pelaporan informasi keuangan yang andal dan konsisten. Berikut pandangan saya mengenai pentingnya hal tersebut:
1. Menjadi Dasar dalam Penyusunan Standar Akuntansi
Standar akuntansi (seperti IFRS atau SAK) disusun berdasarkan kerangka konseptual yang berisi definisi, pengakuan, dan pengukuran unsur akuntansi. Tanpa kerangka ini, standar akan bersifat reaktif dan tidak memiliki pedoman teoritis yang konsisten.
2. Meningkatkan Keandalan dan Kejelasan Pelaporan
Definisi yang baku membantu akuntan dan pengguna laporan keuangan memahami apa yang dimaksud dengan setiap unsur. Dengan demikian, informasi yang disajikan menjadi lebih relevan, dapat dipahami, dan dipercaya oleh pemakai laporan seperti investor, kreditor, dan regulator.
3. Mendukung Pengambilan Keputusan Ekonomi
Dengan adanya kerangka definisional, laporan keuangan dapat menggambarkan posisi dan kinerja keuangan secara akurat, sehingga membantu manajemen, investor, dan pihak eksternal dalam mengambil keputusan ekonomi yang rasional

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Eka Saryuni -
Nama : Eka Saryuni
Npm : 2413031030

JURNAL 1

Membahas perbedaan penerapan teori akuntansi pada dua perusahaan besar di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka untuk menganalisis kebijakan akuntansi dari perspektif teori normatif dan positif selama periode 2017–2024.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa PT Astra International Tbk (sektor manufaktur) cenderung menggunakan pendekatan teori normatif, yang menekankan kepatuhan terhadap standar akuntansi (SAK dan IFRS), regulasi OJK, serta transparansi laporan keuangan guna menjaga legitimasi sosial dan kepercayaan investor. Pendekatan ini sesuai dengan karakteristik industri manufaktur yang padat modal, memiliki risiko sosial-lingkungan tinggi, dan menuntut akuntabilitas tinggi.
Sebaliknya, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (sektor teknologi) lebih mengadopsi pendekatan teori positif dengan kebijakan akuntansi yang fleksibel untuk menyesuaikan diri terhadap dinamika bisnis dan inovasi teknologi. Keputusan akuntansi di Telkom lebih dipengaruhi oleh motivasi manajerial, insentif pasar modal, serta strategi pengelolaan laba (earnings management).
Penelitian menyimpulkan bahwa perbedaan karakteristik industri, tekanan regulasi, dan motivasi manajemen menjadi faktor utama yang membentuk kebijakan akuntansi kedua perusahaan. Ditekankan pula pentingnya keseimbangan antara pendekatan normatif dan positif agar kebijakan akuntansi tidak hanya mematuhi standar etika dan regulasi, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan strategis dan keberlanjutan bisnis.

JURNAL 2

Membahas teori akuntansi positif (Positive Accounting Theory/PAT) dan kaitannya dengan pemilihan kebijakan akuntansi oleh manajemen. Teori ini dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman (1978–1986) sebagai reaksi terhadap kelemahan teori normatif yang dinilai terlalu idealis dan tidak dapat diuji secara empiris.

PAT berfokus untuk menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi nyata, bukan menentukan bagaimana akuntansi seharusnya dilakukan. Teori ini berasumsi bahwa manajer bersikap rasional dan memilih kebijakan akuntansi untuk memaksimalkan kepentingan pribadi atau perusahaan, misalnya melalui bonus, perjanjian utang, atau pertimbangan biaya politik. Tiga hipotesis utama PAT adalah:
- Bonus Plan Hypothesis, manajer memilih kebijakan yang meningkatkan laba kini demi bonus lebih tinggi.
- Debt Covenant Hypothesis, perusahaan yang mendekati pelanggaran perjanjian utang akan menaikkan laba agar tetap patuh.
- Political Cost Hypothesis, perusahaan besar menurunkan laba yang dilaporkan untuk mengurangi tekanan politik atau regulasi.

Kesimpulannya, Positive Accounting Theory memberikan kontribusi besar dalam riset akuntansi dengan menekankan hubungan antara perilaku manajemen, pilihan kebijakan akuntansi, dan konsekuensi ekonomi dari keputusan tersebut.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Eka Saryuni -
Nama : Eka Saryuni
Npm : 2413031030

Jurnal tersebut membahas perdebatan antara penggunaan biaya historis (historical cost) dan nilai wajar (fair value) dalam pengukuran akuntansi keuangan. Pengukuran merupakan isu utama dalam pelaporan keuangan modern karena menentukan bagaimana aset dan liabilitas dinilai baik pada saat pengakuan awal maupun pada tanggal pelaporan.
Biaya historis mengukur aset berdasarkan harga perolehan awal dan hanya disesuaikan jika terjadi penurunan nilai (impairment). Sementara itu, nilai wajar mencerminkan kondisi ekonomi saat ini dengan menilai aset dan liabilitas berdasarkan harga pasar yang disepakati antara pihak yang berpengetahuan dan bersedia bertransaksi. Pendekatan ini dianggap lebih relevan karena memberikan informasi yang lebih mencerminkan nilai ekonomi aktual.
Dvořáková menjelaskan bahwa International Financial Reporting Standards (IFRS) semakin mengarah pada penggunaan nilai wajar, terutama untuk instrumen keuangan dan aset biologis (IAS 39 dan IAS 41). Namun, penerapan nilai wajar menimbulkan risiko seperti ketidakandalan ketika pasar tidak aktif, serta potensi distorsi laba akibat pengakuan keuntungan yang belum direalisasi.
Selama krisis keuangan global, banyak pihak mempertanyakan relevansi penggunaan nilai wajar karena volatilitas pasar menyebabkan nilai aset turun drastis. Beberapa lembaga seperti SEC dan FASB bahkan mengizinkan penilaian berdasarkan arus kas masa depan alih-alih harga pasar.
Dvořáková menyimpulkan bahwa tidak ada satu metode pengukuran yang sepenuhnya tepat. Nilai wajar memberikan relevansi dan transparansi lebih tinggi untuk instrumen keuangan, sementara biaya historis tetap lebih andal untuk aset non-keuangan. Kombinasi keduanya dianggap sebagai solusi terbaik agar laporan keuangan tetap informatif dan stabil.

TA2025 -> ACTIVITY: RESUME

oleh Eka Saryuni -
Nama : Eka Saryuni
Npm : 2413031030

Jurnal ini membahas pentingnya teori pengukuran dalam mendukung tujuan laporan keuangan. Musvoto menegaskan bahwa akuntansi sering dianggap sebagai disiplin pengukuran, tetapi sebenarnya belum memiliki teori pengukuran yang selaras dengan prinsip ilmiah sebagaimana di bidang ilmu sosial lainnya.
Menurut representational theory of measurement, setiap proses pengukuran harus memiliki teori yang menjelaskan tujuan, standar, serta satuan pengukurannya. Namun, praktik akuntansi saat ini tidak sepenuhnya memenuhi kriteria tersebut. Laporan keuangan sering diklaim mengandung informasi hasil pengukuran, padahal tanpa teori pengukuran yang jelas, hasil tersebut tidak dapat disebut sebagai hasil pengukuran ilmiah. Misalnya, konsep nilai dan biaya dalam akuntansi masih bersifat ambigu dan subjektif, sehingga tidak memenuhi syarat pengukuran empiris.

Musvoto juga menilai bahwa dua belas tujuan laporan keuangan yang dirumuskan oleh Komite Trueblood tidak sepenuhnya kompatibel dengan teori pengukuran representasional. Banyak tujuan tersebut, seperti penyajian informasi “faktual”, penilaian kemampuan manajemen, serta prediksi arus kas, tidak dapat dicapai melalui proses pengukuran yang objektif karena data akuntansi mengandung estimasi, ketidakpastian, dan ketergantungan pada kejadian masa depan.