Nama : Nazwa Devita Mawarni
NPM : 2313031071
1. Paradigma anggaran tradisional lebih menekankan pada input atau berapa banyak dana yang dialokasikan untuk setiap pos belanja, sehingga orientasinya lebih pada kepatuhan terhadap aturan dan administrasi. Model ini cenderung kaku, kurang fleksibel, dan seringkali tidak melihat apakah anggaran yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan manfaat atau tidak. Sebaliknya, paradigma anggaran berbasis New Public Management (NPM) berorientasi pada hasil (output dan outcome). Anggaran berbasis NPM menekankan efisiensi, efektivitas, serta akuntabilitas, dengan cara mengukur kinerja instansi pemerintah layaknya organisasi sektor swasta. Hal ini sejalan dengan pendapat Osborne & Gaebler (1992) yang menyebut bahwa NPM berusaha mengubah birokrasi menjadi lebih responsif, inovatif, dan berfokus pada hasil.
2. Dalam konteks mengatasi kelemahan dari kedua paradigma tersebut, hadir konsep Zero Based Budgeting (ZBB). Proses implementasi ZBB dilakukan dengan cara menyusun anggaran dari nol setiap periode, bukan sekadar melanjutkan alokasi sebelumnya. Dengan metode ini, setiap program atau kegiatan harus dianalisis kembali urgensinya, manfaatnya, serta biayanya, sehingga anggaran benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan aktual. Studi oleh Journal Center (2025) menekankan bahwa ZBB mendorong efisiensi dan akuntabilitas karena setiap unit kerja wajib mempertimbangkan prioritas dari awal. Temuan lain oleh Areai Journal (2024) juga menegaskan bahwa keberhasilan ZBB sangat bergantung pada kesiapan SDM, sistem informasi, serta dukungan regulasi. Dengan demikian, ZBB dapat menjembatani kesenjangan antara anggaran tradisional yang kaku dan orientasi hasil pada NPM, karena memastikan hanya program yang relevan dan memberikan value for money yang akan didanai.
NPM : 2313031071
1. Paradigma anggaran tradisional lebih menekankan pada input atau berapa banyak dana yang dialokasikan untuk setiap pos belanja, sehingga orientasinya lebih pada kepatuhan terhadap aturan dan administrasi. Model ini cenderung kaku, kurang fleksibel, dan seringkali tidak melihat apakah anggaran yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan manfaat atau tidak. Sebaliknya, paradigma anggaran berbasis New Public Management (NPM) berorientasi pada hasil (output dan outcome). Anggaran berbasis NPM menekankan efisiensi, efektivitas, serta akuntabilitas, dengan cara mengukur kinerja instansi pemerintah layaknya organisasi sektor swasta. Hal ini sejalan dengan pendapat Osborne & Gaebler (1992) yang menyebut bahwa NPM berusaha mengubah birokrasi menjadi lebih responsif, inovatif, dan berfokus pada hasil.
2. Dalam konteks mengatasi kelemahan dari kedua paradigma tersebut, hadir konsep Zero Based Budgeting (ZBB). Proses implementasi ZBB dilakukan dengan cara menyusun anggaran dari nol setiap periode, bukan sekadar melanjutkan alokasi sebelumnya. Dengan metode ini, setiap program atau kegiatan harus dianalisis kembali urgensinya, manfaatnya, serta biayanya, sehingga anggaran benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan aktual. Studi oleh Journal Center (2025) menekankan bahwa ZBB mendorong efisiensi dan akuntabilitas karena setiap unit kerja wajib mempertimbangkan prioritas dari awal. Temuan lain oleh Areai Journal (2024) juga menegaskan bahwa keberhasilan ZBB sangat bergantung pada kesiapan SDM, sistem informasi, serta dukungan regulasi. Dengan demikian, ZBB dapat menjembatani kesenjangan antara anggaran tradisional yang kaku dan orientasi hasil pada NPM, karena memastikan hanya program yang relevan dan memberikan value for money yang akan didanai.